I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 119 : Pemberontakan Pangeran Philip



Menjelang siang hari di dalam aula pertemuan, Kaisar Horan tengah bersandar pada kursi singgasananya. Seperti biasanya, sang kaisar menggunakan balutan pakaian berwarna merah dengan motif yang sedemikian rupa berwarna kuning.


"Yang Mulia, sudah saatnya pergi. Pertahanan pintu akhir kediaman telah ditembus oleh pasukan pemberontak," kata Reene, mencoba menyadarkan sang kaisar yang masih bergeming di tempatnya.


"Sungguh, tidak tau malu. Adik yang selama ini aku sayangi dan telah aku rawat baik-baik justru dalang dibalik pemberontakan ini." Sang kaisar pun tersenyum tipis sebagai balasan atas perkataan Reene sebelumnya.


"Datanglah, jika memang dia ingin merebut posisiku. Di sini atas nama kaisar terdahulu, aku Frey Horan bersumpah tidak akan lari dari siapapun!"


"Tapi Yang Mulia...."


Sebelum Reene bisa melanjutkan perkataannya, terdengar suara teriakan keras dari para pelayan wanita serta diikuti ledakan memekakkan telinga yang datang dari arah luar pintu besar aula itu. Reene berbalik dan segera mengambil kuda-kudanya, kedua tangannya pun dengan tegas memegang pedang miliknya itu dan mengarahkannya ke depan. Sementara itu, sang kaisar sendiri masih tetap bergeming, tidak ada sedikitpun niatan untuk pergi meninggalkan singgasananya.


Sang kaisar masih memandangi pintu besar yang berada jauh di depannya, sedikit berharap bahwa sosok yang selama ini selalu menjaganya akan muncul pada saat itu juga. Sesaat dia memejamkan matanya dan menarik napas dengan penuh sesak. Kesedihan masih begitu terasa di dalam hatinya, bagaimana tidak? Penasihat yang selalu mendampinginya, sahabat sejak kecil yang paling setia, dan orang yang paling dia andalkan selama ini, telah pergi meninggalkan sang kaisar untuk selamanya.


Sudah sebulan lebih setelah kembalinya sang pangeran dalam misi diplomasi. Kembalinya rombongan itu membawa berita buruk, sekaligus pertanda akan datangnya perang besar di kekaisaran. Itu terjadi karena sosok tuan yang berada di belakang para goblin itu telah menolak tawaran kesepakatan yang datang dari pihak kekaisaran.


Tentu, berita tersebut disembunyikan dan tidak dipublikasikan kepada publik, karena hanya akan menambah kebencian lebih dari kerabat para anggota tim ekspedisi yang telah gugur secara hormat di medan perang. Namun, berbeda dari apa yang diinginkan sang kaisar, banyak pasang telinga yang telah mengetahui berita tersebut langsung menyebarkannya ke seluruh penjuru kekaisaran. Sampai terdengarlah di telinga serikat bawah kekaisaran yang dikepalai oleh Pangeran Philip, adik dari Kaisar Horan.


Serikat bawah tanah ini telah merencanakan kudeta sejak lama dan menunggu waktu yang tepat. Dengan adanya pemberitaan ini, membuat Pangeran Philip justru senang alih-alih prihatin dengan kondisi sang kakak dan keluarga kekaisaran. Pangeran Philip pun tidak ingin membuang kesempatan emas ini, dia segera mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari mengumpulkan orang-orang yang mendukungnya sampai memikirkan strategi pengepungan dengan sangat matang.


Pintu besar itu pun terbuka dan segerombol pasukan mulai memasuki ruangan dan segera menyebar ke dua sisi tempat. Disusul dengan kelompok yang berisikan tokoh-tokoh besar dan Pangeran Philip pada barisan. Mereka masuk dengan begitu bangga dan tersenyum jijik ketika melihat sang kaisar yang mana masih bersikukuh duduk di singgasana, alih-alih melarikan diri dari ruangan ini.


"Cukup yakin aku dengan sifat percaya dirimu. Bukankah aku sudah memberimu sedikit waktu untuk berkemas? Mengapa tidak pergi saja? Dengan begitu aku tidak perlu melumuri pedangku ini dengan darahmu," kata Pangeran Philip seraya terkekeh bersama pengikutnya.


"Melarikan diri? Mengapa aku harus pergi, sementara semua yang ada di sini adalah milikku?"


Pangeran Philip pun menggertakan gigi seraya mengernyitkan keningnya. Dia hampir saja memuntahkan seteguk darah karena ucapan kakaknya itu. Benar-benar tidak bisa dipercaya, betapa angkuhnya dia! Lihatlah kondisinya saat ini, apa dia masih memiliki hak untuk sombong? Apa dia tidak mengerti kapan harus menyerah?


"Perhatikan cara bicaramu, Horan! Menyerahlah selagi bisa dan aku akan mengampuni nyawamu," kata Pangeran Philip sambil mengacungkan pedangnya mengarah ke sang kaisar. Setelah suasana hening beberapa saat dan sang kaisar tidak juga menjawab alih-alih tersenyum, Pangeran Philip kemudian membentak dengan nada penuh amarah, "Kalau begitu hanya kematian yang pantas kau dapatkan!"


"Coba saja," kata Kaisar Horan sebagai balasan provokatif kepada adiknya. Kemudian dia berbicara pelan kepada penasehat barunya itu, "Masih belum terlambat untukmu pergi, Reene."


"Serang!" Pangeran Philip pun menghentakkan pedangnya secara vertikal, sebagai perintah kepada para prajurit yang ada di ruangan itu untuk menyerbu ke arah keduanya.


Suara ledakan!


Seakan langit runtuh, atap aula itu hancur secara tiba-tiba dan menimpa sebagian prajurit yang ada di bawahnya. Pangeran Philip dan para raja yang ada di pihaknya pun tersentak, kemudian mereka buru-buru melihat ke arah atap yang berlubang itu. Setelahnya, apa yang membuat mereka menjadi begitu gemetar ketika melihat bayangan besar tengah bergerak melintasi langit! Ketika itu bergerak dan melintas di atas aula, sinar matahari yang seharusnya terlihat menjadi tertutupi oleh monster menyeramkan itu.


"Mustahil!"


Pangeran Philip jatuh dengan kaki yang begitu lemas. Dia membelalakkan matanya, rongga mulutnya pun seakan jatuh ke tanah ketika melihat sosok seorang wanita yang seharusnya tidak mungkin muncul, tiba-tiba menampakan dirinya begitu saja setelah jatuh dari atas ketinggian. Tentu, sang kaisar dan Reene ikut terkejut menyaksikan penampilan kelompok pendatang itu.


"Apa-apaan ini? Mengapa tiba-tiba muncul seekor naga terbang!" Pangeran Philip menjadi panik dan buru-buru menatap kakaknya itu dengan tatapan curiga. Mungkinkah ini jebakan yang telah dipersiapkan kakaknya itu? Hanya ini masih tidak masuk akal bagi kekaisaran memiliki seekor naga besar!


Lantas, siapakah mereka dan apa tujuan kedatangannya? Semua orang yang berasal dari kekaisaran mulai bertanya-tanya dengan kemunculan kelompok itu.


Sebelum semua dapat bereaksi, seorang pemuda dengan jubah berwarna biru dan tongkat staff di tangan lagi-lagi jatuh dari atas ketinggian. Pria itu kemudian menghentakkan tongkat sihir miliknya itu dan segera puing-puing yang menimpa para prajurit terangkat lalu terhempas ke samping, bersamaan tubuh para prajurit yang terluka. Setelahnya, lantai aula itu kembali dibersihkan dari bekas reruntuhan dan di tengah ruangan itu semakin jelas terlihat penampakan dua orang yang sedang berdiri dengan penuh ketenangan.


"Kau! Bagaimana mungkin?" Pangeran Philip segera menyadari identitas dari salah satu orang itu. Hanya saja ini sangat tidak masuk akal bagi seseorang pria yang sudah berumur untuk kembali pada usia mudanya.


"Penasihat Barok?" Sang Kaisar tiba-tiba bangkit dari tahtanya ketika menyadari hal yang serupa dengan sang adik. Dia tentu mengenali pria di hadapannya itu, orang yang selama ini selalu berada di sisinya. "Bagaimana penampilanmu bisa kembali seperti ini?"


Siapapun yang mengenalnya pasti akan terkejut, ketika mendapati seorang pria yang sebelumnya berumur empat puluhan kini berubah menjadi pemuda dua puluh tahunan?


"Yah, itu tidak penting untuk saat ini. Sekarang, bisakah kamu menangani para pengkhianat ini?" kata sang kaisar dengan senyum merekah.


"Aku tidak tau hubungan seperti apa yang kalian miliki denganku sebelumnya, tapi yang jelas aku datang bukan untuk membantu siapapun di antara kalian," kata Barok.


"Kedatangan kami bermaksud untuk mengambil alih tahta kekaisaran ini, sebagai bentuk kompensasi atas penyerangan kalian pada wilayah kekuasaan tuanku. Di sini aku memiliki dua pilihan yang bisa kalian ambil. Pertama kalian bisa menyerah dan tunduk di bawah kekuasaan tuanku, atau pilihan kedua kalian bisa mati secara terhormat di tempat ini," kata Mikaela dengan sikapnya yang begitu dingin. Tidak ada jejak keraguan sedikitpun saat dia berbicara kepada seluruh orang di ruangan itu.