
Perubahan besar terjadi di pemukiman ras goblin di dungeon yang diperintah Ivar. Hanya seminggu setelah perombakan susunan tatanan cara kerja makhluk kerdil itu, kini desa yang sebelumnya sangat kumuh dan jauh dari kata layak untuk dihuni, menjadi tempat yang lebih nyaman. Beberapa bangunan kayu mulai didirikan di dalam goa besar itu, mereka para goblin kini tinggal di tempat huni yang baru. Kinerja empat bidang yang didirikan oleh Mavis benar-benar mengalami kemajuan pesat dan tak lama segala sesuatu yang ada pada bayangan Mavis segera terealisasikan. Mavis ingin peradaban di tempat itu setara dengan teknologi yang ada di luar sana.
Suasana di sana kembali mendapat kedamaiannya. Karena para goblin yang tersisa hanya beberapa saja, dan itu hanya sekumpulan goblin wanita dan anak-anak, Ivar bekerja keras untuk mengajarkan mereka cara untuk bertarung. Sebenarnya goblin wanita tidak seharusnya pergi di medan perang, akan tetapi karena arahan dari Mavis mereka para goblin wanita mulai membuka pikiran untuk ikut pelatihan militer. Dengan begitu, jika mereka sedang salam bahaya mereka dapat melawan atau melarikan diri jika bertemu lawan yang kuat.
"Raja, apa seperti ini, ga...?" Seorang goblin bocah dengan ingusnya yang naik turun, tengah memperagakan gerakan menebas menggunakan kayu yang telah dimodifikasi menjadi pedang.
"Bukan, lebih seperti ini." Ivar dengan terkekeh mengajarkan bocah itu dan menggerakkan tubuhnya menjadi gerakan yang benar. "Coley, sudah kupringatkan berulang kali jangan panggil aku Raja. Panggil aku tuan, instruktur, atau guru saja, karena sekarang kita melayani raja yang sama," kata Ivar.
"Baik, Guru! Ga...." goblin itu tersenyum lebar, lalu melanjutkan pelatihannya untuk menyempurnakan gerakan.
"Tuan, aku mempunyai sesuatu yang penting untuk dibicarakan denganmu. Aku sudah memanggil Luna, Isabella, dan Bellatrix, mereka sudah menuju ruang pertemuan." Seorang goblin wanita dengan tampilan baru datang menghampiri Ivar.
Nama goblin itu Merlin, salah satu dari empat ketua bidang yang berada di bawah Ivar. Dia yang memiliki tanggung jawab dalam bidang militer. Dia adalah goblin yang telah melakukan kontrak darah dengan tuannya, Mavis. Dengan begitu kecerdasannya sudah setara dengan manusia biasa. Kini dia sudah belajar cara berpakaian dan yang lainnya. Lihat saja, dia sekarang sudah menggunakan balutan baju dan rok kulit, rambutnya sudah lurus rapih dan diikat dengan ranting yang melilit. Hanya saja dia dan yang lainnya belum membuat apa yang dinamakan alas kaki. Kaki mereka kuat dibandingkan manusia, sepertinya saat ini mereka belum membutuhkan itu karena alas kaki menurut mereka tidak lebih daripada perhiasan. Terlepas dari itu hanya melihat penampilan Merlin yang sekarang sudah lebih dari cukup, itu membuat goblin lain yang melihat menjadi tertarik untuk bergaya sepertinya.
"Baik, kita bicarakan di dalam," kata Ivar, dia sedikit mengerutkan kening setelah melihat wajah Merlin yang agak tegang, dia menjadi bertanya-tanya apa yang ingin dia sampaikan sampai sebegitu seriusnya.
Mereka berdua pun pergi ke ruangan pertemuan. Segera, kedatangan keduanya disambut tiga goblin lainnya yang sudah duduk di ruangan itu. Tiga goblin itu sama seperti Merlin yang merupakan penanggung jawab dari keempat bidang. Mereka menunduk sejenak memberi hormat saat Ivar datang dan mengambil posisi duduk di tengah mereka, di meja panjang itu. Sementara Merlin bergabung di samping Luna dan berhadapan dengan Isabella dan Bellatrix.
"Jadi, hal penting apa yang akan kami diskusikan?" kata Luna, dia tak sabar ingin mendengar pernyataan saudarinya.
"Ini berhubungan dengan Kekaisaran Menara Kembar. Aku mendapatkan informasi dari para penjaga yang berada di luar dungeon. Sebelumnya aku telah memberikan arahan untuk mereka membangun pos pemantau di luar dungeon. Akan tetapi regu penjaga tersebut tidak kunjung kembali untuk melapor. Aku telah mengirimkan regu untuk menyelidiki kasus tersebut, dan baru saja aku mendapatkan laporan itu. Ternyata mereka ditemukan sudah mati terbunuh, tidak jauh dari jasad mereka kami juga menemukan jasad lain yaitu manusia. Para penjaga kembali dengan menyeret jasad itu dan menunjukan padaku."
"Apa? Mereka tidak mencoba untuk menyerang kita lagi, bukan? Mereka seharusnya tidak secepat itu, mengingat jumlah korban dari mereka yang sudah kita kalahkan sangatlah banyak," kata Luna.
"Bagaimana dengan ciri-ciri manusia itu?" Isabella bertanya dengan tenang.
Merlin terdiam sejenak untuk mengingat-ingat seperti apa tampilan jasad manusia itu. Setelahnya dia menjawab, "Manusia itu berpakaian baju dan celana kulit, banyak dari mereka membawa senjata busur panah, sementara beberapa dari mereka membawa senjata pedang biasa.
"Sepertinya itu bukanlah seorang prajurit dari kekaisaran. Kupikir dia itu lebih seperti seorang pemburu. Di sini aku melihat, mereka nampaknya tersesat sampai-sampai muncul di tempat dekat sini," kata Isabella.
"Padahal pemukiman manusia terdekat berjarak cukup jauh, itu membutuhkan waktu dua hari jika berjalan kaki, lain jika berkuda akan mengurangi waktu setengahnya. Bukankah itu aneh? Jika mereka hanyalah pemburu biasa mengapa perlu mencari ke dalam hutan yang jauh dari pemukiman mereka?" kata Bellatrix.
"Mari kita pergi untuk melihat di luar. Ini bukan sesuatu yang dapat dianggap remeh. Kita tidak tau kebenaran apa yang ada dibalik jasad para manusia itu, bisa saja mereka orang-orang dari kekaisaran yang sengaja dikirim untuk mengintai. Aku perlu pergi untuk melihat apakah masih ada manusia lain di luar sana, kita harus menyingkirkan mereka. Kalian segera bersiaplah." Ivar bangkit dan hendak pergi.
Akan tetapi dia teringat akan sesuatu hal. Dia pun kembali berbicara, "Isabella kau harus tetap tinggal, bagaimanapun kami membutuhkanmu di sini, mereka tidak akan mengerti melakukan itu sendiri."
Ivar teringat akan pembangunan dan pekerjaan yang sedang dikerjakan para goblin, itu tidak bisa bisa berjalan tanpa arahan dari Isabella langsung, karena para goblin selain yang ada di ruangan itu tidak mempunyai kecerdasan seperti mereka. Itu akan berantakan jika tidak ditangani dengan benar.
Isabella dengan pasrah menyetujui arahan Ivar.
Keempatnya kemudian bersiap dan pergi keluar dengan cara diam-diam. Para penjaga yang melihat mereka hanya mengangguk dan memberi salam tanpa membuat keributan. Mereka keluar dari goa itu, kemudian langsung disambut dengan terik matahari yang menyilaukan mata mereka.
"Aku benci sinar ini." Luna berdecak kesal saat mencoba menutupi matanya dengan telapak tangan.
Mereka semua melakukan itu, kecuali Ivar. Pada dasarnya para goblin di tempat ini membenci sinar matahari karena terlalu menyilaukan bagi mereka. Mereka tidak terbiasa dengan sinar matahari karena selalu berada di tempat yang agak gelap, pencahayaan di dalam muncul karena sinar yang dihasilkan dari kristal yang berada di langit-langit goa, akan tetapi itu tidak bisa dibandingkan dengan sinar matahari. Para goblin sudah cukup dengan sinar kristal di dalam, karena indra pengelihatan mereka sangatlah tajam, mereka sudah terbiasa melihat di lingkungan agak gelap.
"Bergegaslah ke dalam hutan," kata Ivar. Dia melihat ketiganya kesulitan dalam melihat, diapun terkekeh bangga karena tidak mengalami itu.
"Tuan, kau benar-benar telah diberkati oleh Sang Raja Yang Maha Agung! Kau bahkan tahan terhadap sinar ini," kata Luna dengan raut wajah iri.
"Kau begitu serakah, Luna." Bellatrix angkat bicara. Dia sebenarnya iri juga melihat atasannya itu bisa berjalan tanpa gangguan sinar matahari. Akan tetapi dia tersadar bahwa itu terlalu serakah jika mengharapkan sesuatu yang terlalu besar, mengingat mereka berempat yang awalnya hanya goblin wanita biasa dan lemah telah mendapatkan sedikit berkat oleh Mavis, itu sudah patut disyukuri. Dia benar-benar berterimakasih untuk itu.
"Kalian harap yakin, jika kinerja kalian baik dan bisa membuat Tuanku senang, kalian mungkin saja akan menjadi sepertiku. Maka dari itu, bekerja keraslah kalian!" Ivar memberikan semangat untuk mereka.
"Baiklah! Aku akan membuat Yang Maha Agung melihatku. Dengan begitu aku akan menjadi sepertimu, Tuan!" kata Luna sambil mengepalkan jari tangannya. Dia bersemangat ketika membayangkan dia bisa menjadi seperti Ivar.
Pada dasarnya mereka sudah tau apa yang terjadi dengan Ivar, mantan raja goblin sebelumnya. Pada saat pertempuran itu, mereka bahkan melihat bagaimana Ivar tergeletak di tanah dan sudah tak bernyawa, tapi pada saat itu juga Mavis membangkitkan dia. Di pandangan mereka, itu semua keajaiban. Mereka menganggap Ivar telah menjadi goblin yang diberkati oleh Mavis.
Di mata para goblin, mereka sangat mengagumi Ivar lebih dari rasa kagum dulu sewaktu menjadi raja goblin. Ivar yang sekarang memiliki bentuk yang menawan dikalangan para goblin, dia juga tumbuh lebih kuat dibandingkan sebelumnya. Mereka menyanjung Ivar pada tingkat yang ekstrim, layaknya titisan dewa goblin! Sementara dewa itu sendiri di mata mereka adalah Mavis Yang Maha Agung.