I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 122 : Rapat Pertama Di Kekaisaran Menara Kembar



Hari pertama Mavis memimpin rapat di Kekaisaran Menara Kembar, terlihat pemandangan baru para eselon atas yang telah lolos seleksi perekrutan beberapa hari yang lalu. Berbeda dari rapat-rapat sebelumnya, fraksi yang dulu terpecah menjadi dua sisi yang selalu berselisih yakni Mata Biru dan Mawar Merah, kini telah bergabung menjadi satu kesatuan langsung di bawah pengawasan sang penasihat kaisar yang baru.


Mavis pun mengedarkan pandangannya mengoreksi wajah baru para petinggi itu. Kemudian sambil melirik ke arah Samantha, dia mengangguk puas dan mengirimkan pujian kepada pelayannya itu melalui sambungan telepati, "Kerja bagus, kamu telah melakukannya dengan sangat baik."


"Terimakasih, Tuan." Samantha membalas dengan anggukan, lalu mengirimkan senyuman kepada tuannya itu. Seakan mengisyaratkan bahwa tuannya itu dapat mengandalkannya jika kemampuannya diperlukan lagi.


"Baiklah, karena kulihat dari wajah kalian sepertinya banyak yang ingin ditanyakan padaku, mari kita mulai saja rapat pembahasan pertama ini," kata Mavis dengan nada santai.


Tidak butuh waktu lama, Mikaela berjalan mendekati tuannya itu lalu menyerahkan sebuah perkamen yang terikat dengan simpul pita berwarna merah. Segera Mavis membukanya dan langsung mendapati daftar dari nama-nama para eselon atas yang berada di hadapannya itu.


"Sean Maleeq, kepala departemen militer yang baru majulah."


Seorang pria berperawakan tiga puluhan berjalan ke depan dan langsung memberikan salam hormat kepada sang kaisar. Terlihat pria itu memiliki tubuh yang besar dan berotot, wajahnya pun terbilang sangat kasar. Sekilas jika orang yang baru melihatnya pasti akan salah paham dan mengira dia seorang kriminal, anak-anak yang melihatnya pun akan menggigil ketakutan seperti melihat monster yang jahat.


Namun, apa yang kebanyakan orang tidak ketahui bahwa dia sebenarnya pria yang baik, sopan, dan jujur. Mavis menyadari itu setelah beberapa kali berbincang dengannya mengenai kondisi internal militer kekaisaran. Keterampilannya dalam hal menyanjung pun tidak kalah jika dibandingkan dengan para makhluk bayangannya, meski itu belum bisa dikatakan sepadan dengan cara Buster melakukannya.


Sungguh menarik.


"Sampai sejauh mana persiapan untuk memindahkan para tahanan keluarga kaisar terdahulu? Apa kamu sudah menentukan wilayah pengasingan untuk mereka?"


"Yang Mulia, mengenai tahanan yang sebelumnya pangeran dari keluarga kaisar terdahulu, Julius mengirimkan permohonan kepada pimpinan petugas di penjara itu. Dia memaksa ingin berbicara kepada Yang Mulia," kata Sean.


Sekelebat ingatan membawanya kembali saat pertama kali bertemu dengan mantan pangeran itu. Menurut apa yang Mavis ingat tentang pria muda bernama Julius itu saat pertama kali masuk ke dalam dungeon goblin, Julius cukup meninggalkan kesan baik di hadapannya, terlepas dari para pengikutnya yang bertindak kurang sopan. Dan juga setelah Mavis mengingatnya kembali, beberapa bulan yang lalu pria itu bahkan rela mengunjungi pemukiman goblin sebagai perwakilan dari pihak kekaisaran. Itu menunjukan bahwa dia memiliki dedikasi dan keberanian yang layak untuk dibanggakan.


"Tidak masalah, aku akan mengunjunginya nanti. Lagipula, sudah lama aku tidak bertemu dengannya lagi, dan ada hutang yang belum sempat dia bayarkan padaku."


"Baik, Yang Mulia." Sean pun mundur dan kembali masuk ke dalam baris para petinggi, memberi ruang untuk kepala departemen selanjutnya untuk melaporkan perkembangan bidangnya kepada sang kaisar.


"Dilanjutkan kepada kepala departemen Pengawasan Publik," kata Mavis.


Kepala departemen itu pun maju menghadap ke arah sang kaisar. Penampilannya terlihat jauh lebih muda dari kepala departemen lainnya, sekitaran dua puluhan mungkin? Pria itu pun tampil ceria dengan wajahnya yang tampan.


"Yang Mulia, sampai saat ini kondisi di ibu kota relatif membaik. Para penduduk memiliki tingkat kepuasan terhadap pengaturan baru ini, terutama di kalangan menengah ke bawah dan para budak yang sekarang telah mendapat kebebasannya," kata Zain dengan penuh semangat.


"Bagaimana dengan pendapat mereka tentang kekaisaran yang telah terbuka untuk seluruh ras yang ada di benua untuk tinggal di dalamnya? Seperti yang kalian ketahui, mengenai wilayah goblin yang berada di bawah kendaliku. Menurutmu apakah para penduduk menerima kehadiran mereka? Mengingat setelah banyak prajurit dan petualang yang tewas dalam medan perang sebelumnya."


"Kini para penduduk pun telah memiliki pemahaman yang benar, serta menghapus dendam kepada ras goblin, lagipula mereka telah mendapatkan kompensasi baru-baru ini dan para petinggi yang bersalah itu telah mendapatkan hukuman yang layak."


"Baiklah, mulai membuat pengumuman publik untuk membuka jalur komunikasi dan perdagangan agar para goblin dapat masuk ke ibu kota. Dan juga pastikan tidak ada perselisihan di antara para penduduk, bersikaplah seperti biasanya kepada para goblin, anggap mereka bagian dari kekaisaran ini."


"Baik, Yang Mulia dapat mengandalkanku pada tugas ini." Zain pun membalas seraya tersenyum lebar, lalu mundur dan kembali dalam barisannya.


Selanjutnya, Mavis mengedarkan pandangannya kembali ke arah para petinggi, kini dia menemukan fakta baik bahwa mereka sepertinya sudah lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Dengan kata lain, mereka tidak lagi meragukan kemampuan sang kaisar dalam hal memimpin.


Terlihat wajah mereka berubah lebih cerah. Dalam hati mereka pun mulai mengagumi bakat sang kaisar. Meski diusianya yang terbilang masih belum cukup dewasa, tapi sang kaisar ini bijaksana dalam memerintah. Bayangkan, pencapaian apa saja nanti yang akan sang kaisar raih kelak? Mereka tidak sabar melihat kaisar kecil ini tumbuh dan mengguncang benua timur.


Pembicaraan pun kembali dilanjutkan, para petinggi itu mulai membicarakan tentang kondisi perkembangan bidang mereka masing-masing. Penjelasan singkat yang pada inti pembicaraannya akan mengarah pada dampak positif dan negatif setelah diberlakukannya dekrit baru sang kaisar.


Kepala departemen Hubungan Diplomasi pun melaporkan bahwa beberapa kerajaan yang berafiliasi pada kekaisaran mulai menunjukan penolakan terhadap pengaturan ini. Kerajaan-kerajaan itu pada dasarnya menjalin kerja sama dalam memberontak, mereka mengeksekusi seluruh staf departemen diplomasi yang menyebar di seluruh wilayah kekaisaran. Untuk daftar kerajaan yang mulai memperlihatkan batang hidungnya dalam penolakan antara lain, Kerajaan Pajang, Kerajaan Malaka, Kerajaan Bali, dan Kerajaan Pasai.


"Kalau begitu, aku akan membebankan tugas ini kepada kepala departemen militer untuk membentuk pasukan pengepungan. Beritahukan kepada kerajaan berafiliasi terdekat untuk ikut mengirimkan pasukan, dan katakan saja bagi mereka yang memberikan kontribusi besar pada operasi ini, wilayah yang ditinggalkan itu selanjutnya akan menjadi milik mereka."


"Baik, Yang Mulia." Kepala departemen wanita yang bernama Gwen itu pun mengangguk, sebelum akhirnya mundur dan kembali pada barisan.


Beralih pada departemen selanjutnya yang menangani masalah keuangan kekaisaran, pria berjanggut putih dengan senyuman hangat itu muncul di hadapan Mavis. Pria paruh baya itu tidak lain merupakan kepala departemen yang baru, dia memberikan salam hormat sebelum akhirnya menyampaikan laporan.


".... sebagian hasil sitaan sudah sepenuhnya dikonversi ke dalam mata uang dan masuk dalam pendataan kas kekaisaran. Yang Mulia, bolehkah aku bertanya apa yang akan dilakukan dengan uang ini nantinya? Mengingat hasil sitaan belum sepenuhnya sampai di ibu kota, sementara brankas kekaisaran akan segera terisi penuh."


Sejenak Mavis berdiam diri dan menyangga kepalanya dengan tangan yang menyender pada kursi singgasana. Butuh beberapa waktu untuk Mavis berpikir, kemudian setelah mendapatkan pencerahan dia kembali melihat ke arah pak tua itu.


"Di sini aku memiliki pemikiran untuk membuat parit di sekeliling benteng ibu kota kekaisaran. Mungkinkah kekayaan yang terkumpul cukup untuk membiayai upah para pekerja nantinya?" kata Mavis seraya tersenyum.


"Sebuah parit?" Pak tua itu terdiam sesaat, begitu juga dengan para petinggi yang belum mengerti mengapa sang kaisar tiba-tiba berkeinginan membuat sebuah parit?


Berbeda dengan kawan-kawannya, Sean yang merupakan kepala departemen militer tentunya paham betul tentang pentingnya dari sebuah parit yang dibangun di sekitar benteng ibu kota. Itu pada dasarnya tidak hanya berguna sebagai saluran sanitasi saja, akan tetapi juga berfungsi sebagai struktur pertahanan benteng.


Mavis pun secara tidak sengaja menangkap gelagat meyakinkan pada wajah Sean, segera dia bertanya kepada pria itu dan kemudian menyuruhnya untuk menjelaskan kepada eselon atas yang lainnya.