
Seminggu setelah peperangan berakhir, pintu gerbang terluar ibu kota kerajaan terbuka, rombongan prajurit yang kembali disambut oleh barisan penduduk kota yang memadati pinggiran jalan. Mereka bersorak dan mengibarkan bendera di sepanjang jalan, memuliakan para prajurit dan petualang yang telah kembali selamat dan memenangkan pertempuran.
Berada di tengah kawalan para prajurit elit dan ahli tingkat tinggi, sang raja terdiam dengan situasi yang sangat membingungkan. Semua telah melihat bagaimana tipuan yang dimainkan oleh aliansi tiga kerajaan terhadap pasukannya, akan tetapi mengapa ibu kota dalam keadaan baik-baik saja? Ke mana perginya para prajurit gabungan dari ketiga kerajaan? Situasi ini bukan saja membingungkan sang raja, itu juga menjadi beban pikiran semuanya.
"Yang Mulia, apa ini jebakan yang telah disiapkan mereka?" Kayle yang masih tidak percaya berkata dengan nada setengah berbisik. Pandangannya masih terkunci pada barisan para penduduk yang berdiri di samping, mencari-cari apakah ada sesuatu yang mencurigakan. Hanya saja usahanya sia-sia.
Sang raja tidak menjawab, dia sendiri tidak yakin dengan pemikirannya. Sekeras apa dia memikirkan itu, masih tidak mungkin pasukan musuh mundur alih-alih pergi menyerang tempat ini. Sebenarnya apa yang terjadi? Sang raja pun memberikan perintah secara rahasia kepada salah satu penjaga pribadinya untuk mengirimkan seorang pengintai ke luar, dengan maksud mencari tau kabar tentang keberadaan pasukan musuh.
"Kayle, segera persiapkan aula pertemuan. Kumpulkan semua kepala departemen dan pejabat kerajaan, serta Alice untuk membicarakan situasi kerajaan saat ini," kata Raja Cornelius dengan wajah tegas.
"Yang Mulia, apa tidak sebaiknya beristirahat dulu?" Kayle melihat bagaimana wajah sang raja yang pucat karena kurang tidur, begitu juga dengan kondisinya dan para ahli lainnya. Selama perjalan kembali menuju ibu kota, sang raja pun menginstruksikan untuk bergerak cepat sehingga mengurangi waktu istirahat semuanya.
"Tidak diperlukan, aku tidak akan tenang sebelum mengetahui apa yang terjadi selama seminggu ini." Sang raja pun berjalan memasuki kediamannya, diikuti ketiga pengawal pribadinya.
Sore harinya sang raja kembali mengenakan pakaian resmi, menuju aula pertemuan bersama dengan Kayle dan para pengawal pribadinya. Sepanjang perjalanan, sang raja menanyakan tentang kondisi seluruh keluarganya, terutama Ratu Lilian dan Pangeran Arta. Hanya setelahnya dia terkejut dan berubah masam begitu mendengar kabar dari Kayle bahwa putra kesayangannya itu pergi meninggalkan mansion kerajaan dan sampai saat ini belum juga kembali ke mansion keluarga kerajaan.
".... tapi Yang Mulia, ada sesuatu yang terjadi sekitar empat hari yang lalu. Seperti yang terlihat di halaman masuk mansion, para pengurus rumah tangga sedang dalam tahap penyelesaian perbaikan. Sebenarnya ini ada kaitannya dengan pertarungan yang dilakukan oleh pelayan Pangeran Asta yang tinggal di mansion ini. Mereka telah datang dan menunggu di aula pertemuan untuk melaporkan kejadiannnya," kata Kayle seraya menaikan kaca matanya yang sempat turun.
Kedatangan sang raja di dalam aula pertemuan membuat keributan yang terjadi seketika terhenti, sang raja berjalan membelah masa dan tiba di singgasananya. Berada di posisi lebih tinggi dari yang lain, Raja Cornelius mengedarkan pandangannya untuk melihat kehadiran para petinggi dan kemudian mengangguk puas. Setelahnya, dia memandangi dua sosok misterius berjubah hitam yang sebelumnya berdiam diri di samping aula pertemuan.
Ketika suasana hening dan para petinggi menunggu sang raja membuka pertemuan sore itu, secara mengejutkan dua sosok misterius itu datang menghampiri sang raja dengan pembawaannya yang santai. Sontak saja para prajurit yang berada di sudut ruangan segera sigap bergerak untuk melindungi sang raja. Terlihat pula Alice secara sembunyi mengambil tindakan pencegahan dengan gerakan tangannya.
Raja Cornelius pun mengangkat tangannya dan memberi perintah kepada prajurit agar kembali ke posisi mereka. Kedua ahli itu pun berhenti melangkah di tengah aula, kemudian membuka tudung penutup kepalanya dan memperlihatkan penampilan sejatinya seorang wanita cantik tetapi dingin dan seorang pria botak dengan wajahnya yang kasar. Keduanya terlihat tak peduli dengan pandangan buruk yang dikirimkan para petinggi tentang sikap keduanya yang tidak sopan saat berhadapan langsung dengan sang raja.
Bagaimanapun keduanya tidak memiliki alasan untuk bersikap sopan seperti yang lain. Mereka tidak akan repot memberikan salam penghormatan kepada sang raja karena keduanya hanya tunduk dan patuh kepada tuan mereka. Selanjutnya, Akio tersenyum kecil ketika mencuri pandang ke arah belakangnya.
"Sepertinya tidak semua mendengarkan perkataanmu, Yang Mulia?" Akio bertanya kepada Raja Cornelius dengan pandangan skeptis. Selanjutnya wanita itu membalik badan, lalu melirik ke arah wanita berjubah merah itu dengan tatapan sedikit merendahkan. Tentu saja setelah melihat bagaimana cara wanita itu bersikap di hadapan sang raja semua orang menggertakan gigi dan melemparkan pandangan tidak suka kepada wanita itu, termasuk Fergus yang merupakan kepala departemen kemiliteran.
Mendapat perlakuan tidak begitu menyenangkan, wanita itu pun melepaskan seluruh kekuatan sejatinya, mempertontonkan lonjakan aura mematikan kepada seluruh orang yang berada di tempat itu, termasuk sang raja yang masih terduduk di kursi singgasananya. Sebelum para pejabat dan petinggi dapat menyadari apa yang terjadi, mereka semua telah jatuh lemas di hadapan kekuatan absolut milik wanita sedingin es itu. Fergus sendiri membelalakkan kedua matanya, menjatuhkan pedang miliknya ke lantai dengan tidak berdaya. Ekspresinya pun berubah rumit begitu melihat wanita di hadapannya itu layaknya monster yang tidak dapat dikalahkan.
"Cukup dengan omong kosong ini, aku tidak ingin lagi bermain denganmu, Nona." Akio menghela napas dan menekan kembali kekuatannya, memberi muka kepada Alice yang terlihat mulai memucat di permukaan. Seluruh orang di aula pertemuan itu pun dapat bernapas lega dan kembali mengangkat tubuh mereka berdiri. Kemudian wanita itu melanjutkan perkataanya ketika selesai membalikkan badan dan menghadap kembali ke arah sang raja. "Kembali pada topik permasalahan yang ingin kami berdua sampaikan."
"Yah, Tuanku memberikan perintah ini kepada kami untuk memberitahukan masalah ini kepadamu, hanya untuk berjaga-jaga dikemudian hari agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, meninggalkan ibu kota kerajaan dalam keadaan kosong."
"Giraldo, tolong keluarkan dua ahli itu dari dalam petimu."
"Baiklah, Giraldo paham dengan maksudmu." Pria bertubuh besar itu segera melepaskan kotak peti yang sebelumnya dia bawa di belakang punggungnya. Kemudian membaringkan itu di atas permukaan tanah dan membukanya.
"Mereka berdua merupakan ahli yang dikirimkan oleh kuil suci ke tempat ini untuk membunuh seluruh keluarga kerajaan, terutama Ratu Lilian. Namun Tuanku telah memperhitungkan hal ini dari jauh hari, dan menginstruksikan kami untuk tetap tinggal di tempat ini. Kalian sudah seharusnya bersyukur dengan kemurahan hati Tuanku ini. Berkat kehadiran kami keluarga kerajaan kalian terselamatkan," kata Akio.
"Ya, Akio benar." Giraldo ikut mendukung kawannya itu. Hanya saja setelah melihat Akio mengirimkan tatapan tajam, tampaknya dia tidak begitu menyukai tindakannya barusan?
"Baiklah, kami akan segera menyelidiki kasus ini dan mencari tau mengapa pihak kuil suci yang kamu sebutkan tadi bermaksud menyerang keluargaku. Sebagai penguasa, maksudku sebagai seorang kepala keluarga kerajaan ini, aku pribadi mengucapkan banyak rasa terimakasih atas kontribusi kalian dalam menyelamatkan seluruh anggota keluargaku yang berada di mansion keluarga. Pihak kerajaan tentu akan memberikan hadiah yang pantas atas kerja keras kalian."
Sang raja pun tertawa dengan canggung, lalu memberikan pujian kepada kedua ahli di hadapannya itu. Sebelum pada akhirnya melanjutkan perkataannya, "Namun, sebelum itu aku ingin bertanya sesuatu tentang identitas kalian. Kalau tidak salah bukankah kalian ini ahli yang bekerja untuk melindungi putraku? Bisakah kalian mengatakan di mana putraku sekarang ini? Apakah dia baik-baik saja?"
"Memang benar, kami melayani pangeran. Dan untuk hadiah yang kamu sebutkan tadi, kami benar-benar tidak memerlukannya." Akio kemudian membalik badan dan menginstruksikan kepada kawannya itu untuk pergi. Sebelum dia melangkah pergi wanita itu pun menyelesaikan perkataanya, "Karena tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, kami akan pergi."
"Tunggu, kalian belum menjawab pertanyaan Yang Mulia! Bagaimana dengan kondisi Pangeran Asta!" Kayle dengan keringat yang terlihat membasahi dahinya memberanikan diri berteriak ke arah keduanya.
"Kalian tidak perlu mengkhawatirkan Tuanku. Selama mereka berada di si Tuanku, tidak ada yang bisa menyakitinya." Setelah mengatakan itu kepada semua orang di aula pertemuan, Akio tersenyum dan melanjutkan langkah kakinya, bersama dengan Giraldo meninggalkan ruangan itu.