
Zahard, gadis kecil itu telah pergi ke sisi rombongan Mavis. Dia jelas ketakutan dan terus memegangi pakaian Mavis dari bawah, sementara Mavis sendiri masih duduk tenang di atas tunggangannya.
"Tenanglah, kau sudah aman," kata Mavis dengan tersenyum hangat.
Selanjutnya, Mavis melirik ke arah kejauhan dan menemukan fakta bahwa para prajurit yang dimaksud pria itu benar datang menuju tempatnya sekarang. Itu sebenarnya baik-baik saja jika hanya beberapa prajurit yang datang, Mavis masih bisa memakluminya. Namun, yang dilihatnya saat ini lebih dari seratus pasukan yang merupakan jumlah terbanyak yang harus dimiliki tempat ini, berbondong-bondong menuju tempatnya dengan atribut yang lengkap.
Tentu, Mavis jadi sangat tertarik dan dia tersenyum miring. Nampaknya Baron Gustav benar-benar bergerak dengan sangat cepat, dia bahkan langsung mengirim pergi seluruh penjaga tempat ini? Mavis benar-benar tersanjung mendapati sambutan yang tidak hangat datang dari para prajurit.
Setibanya di tempat itu, para prajurit segera mengambil langkah memutar dan memblokir semua jalan untuk mengunci rombongan Mavis di tengah. Para prajurit itu serius membuat formasi melingkari Mavis dan menjulurkan tombak besi ke arahnya. Dengan maksud memotong jalur agar kelompok Mavis tidak bisa melarikan diri.
"Tangkap mereka semua!" Salah seorang prajurit yang bertatapan langsung dengan Mavis memberi perintah. Segera setelahnya para prajurit dari barisan tengah datang menuju tempat Mavis dan bermaksud untuk menangkap kelompok itu.
"Lancang sekali kalian! Apa kalian tidak tau, kalian sedang berhadapan dengan Pangeran Asta! Pergi memberi salam!" Sebuah suara memekakkan datang dari belakang barisan Mavis. Itu tidak lain dan tidak bukan wakil pimpinan prajurit dari sisi Mavis.
"Tunggu apa lagi?" kata Velinka dengan wajah geram. Kemudian dia datang dengan menunggangi kudanya pergi ke depan, tanpa gentar sedikitpun.
"Kalian ...." Velinka kehabisan kata-katanya. Setelah melihat para prajurit yang mengepung tidak kunjung mundur dan memberi sambutan, dia menggertakan giginya karena begitu kesal!
Velinka melirik sejenak ke arah Mavis untuk mencari tau apa yang akan tuan mudanya itu pilih, apakah kembali ke benteng utama dan melapor pemberontakan ini, atau tetap melanjutkan. Hanya saja jika sang pangeran memilih untuk tetap maju mereka masih harus bertarung dengan lebih dari seratus prajurit. Bahkan dengan kekuatan mereka yang telah bertambah kuat, mereka masihlah tidak yakin bisa melawan sebegitu banyaknya prajurit dengan stamina yang terbatas.
Meski demikian, dia tidak akan meragukan sang pangeran. Dia menyadari benar tuan mudanya ini bukanlah orang yang sesederhana orang pikirkan. Sang pangeran bahkan memiliki kemampuan meningkatkan kemampuan prajurit secara cuma-cuma, Velinka begitu yakin tuan mudanya itu pasti memiliki lebih banyak lagi kartu truf yang belum dia mainkan.
Juga, prajurit wanita itu yakin para pengikut yang selama ini berada di sisi sang pangeran memiliki kemampuan yang hebat dan tidak bisa dianggap remeh. Sebenarnya dia juga tidak tahu seberapa kuat itu, hanya saja insting tajamnya mengatakan bahwa itu sangatlah mumpuni.
"Tuan, mohon beri perintah untuk membunuh para pemberontak ini," kata Velinka dengan ekspresi sengit.
"Cukup yakin kalian datang untuk menyambutku dengan meriah." Mavis menjawab seraya terkekeh pelan, kemudian melanjutkan perkataannya, "Dengarkan, aku sebagai pangeran kerajaan ini yang baik hati dan tidak sombong, akan mengampuni nyawa kalian semua selama kalian menyerah sekarang. Lain aku tidak bisa menjamin kalian dapat dimakamkan dengan anggota tubuh yang lengkap."