I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 81 : Merekrut Reus



Ketiga iblis itu, Wed, Violet, dan Scott, mereka memiliki kemampuan yang berbeda dan sama-sama kuat. Tetua Wed, menurut keterangan apa yang dikatakan Bulan, iblis satu ini merupakan salah satu tetua di pemukiman itu. Seorang Tetua memikiki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan iblis biasanya, dia hanya sedikit lebih rendah dari komandan iblis. Kekuatan dari seorang tetua, tidak perlu dipertanyakan lagi. Wed memiliki kekuatan lebih kuat dibandingkan Mikaela dalam kasus normal, Mavis tidak bisa membayangkan sekuat apa nanti pak tua ini setelah bergabung menjadi makhluk bayangannya? Bukankah itu akan sangat menakjubkan?


Mengenai kemampuan dari Wed sendiri, dia adalah petarung lini depan yang memiliki tubuh kuat seperti tameng dam hampir kebal terhadap serangan fisik. Berbeda dengan kemampuan menyerap setiap serangan musuh dan mengubahnya menjadi kekuatan destruktif yang dimiliki Mikaela, kemampuan spesial milik Wed lebih seperti kutukan. Ketika musuh menyerangnya, setiap kerusakan yang dibebankan padanya akan dirasakan juga oleh musuh tersebut. Dengan kata lain, kemampuan Wed adalah musuh besar dari banyak petarung yang mengandalkan kekuatan destruktif dan sedikit dalam pertahanannya.


Beralih kepada kemampuan sepasang kekasih Violet dan Scott. Violet memiliki keahlian dalam mantra ilusi. Dia biasanya bekerja bersama dengan Scott yang memiliki kemampuan menggambar objek hidup dalam gulungan kertas yang biasa dia bawa, lalu menghidupkan objek tersebut sebagai serangan. Gabungan dari keduanya sangat serasi, mampu mengecoh musuh dan membunuh secara perlahan. Sebagai contoh kerja sama tim yang sering dilakukan keduanya saat menghadapi musuh, Violet menjebak musuh dalam ilusinya dan saat itu juga Scott mengirimkan serangan fatal.


Mavis sebenarnya ingin langsung menjadikan mereka bertiga sebagai makhluk bayangannya, juga Flint dan Ezekiel tanpa dilupakan, hanya saja dia belum sempat melakukan semua itu. Dia berpikir, setelah urusannya dengan Reus selesai, dia akan mulai membangkitkan ketiganya.


Sementara itu, Mavis saat ini sedang berjalan bersama kelompoknya bergerak menuju tempat mansion sang raja. Dia harus menyusul Reus yang juga sedang menuju kediaman sang raja untuk membuat pernyataan. Saat itu yang berjalan bersama Mavis ada Bulan, Bintang, dan Samantha, sementara yang lainnya bersembunyi dibalik bayangan Mavis.


Setibanya di depan mansion sang raja, Mavis melihat pemandangan di mana Reus sedang berdebat dengan para penjaga. Sepertinya Reus tidak memiliki izin untuk masuk dan berakhir diusir oleh para penjaga yang sedang bertugas. Terlihat wajah geram Reus, ketika dia berbicara bahwa dia memiliki sesuatu hal yang penting untuk disampaikan kepada sang raja. Hanya saja....


"Tuan bisa menitipkan pesan ini kepada kami para petugas, nanti akan kami sampaikan kepada atasan kami untuk diperiksa. Jika itu memang sesuatu yang penting, pesan Tuan akan sampai di hadapan raja." Begitu balasan dari para petugas.


Reus tidak bisa berkata-kata dan mengernyit karena tindakan para petugas. Lagipula ini pesan yang sangat penting dan bersifat rahasia! Para petugas seperti mereka tidaklah mempunyai hak untuk tau! Dia pun pada akhirnya menyerah, berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu.


"Kau Reus, benar?"


Berada tak jauh dari sana, Mavis muncul dan memblokir pandangan jalan Reus. Dia tersenyum dan lanjut berkata, "Aku tau banyak tentang kamu dari Selir Juleaha. Apakah kamu punya waktu luang untuk menemaniku minum teh? Ada banyak hal yang ingin aku diskusikan denganmu."


"Salam, Pangeran Asta." Reus terkejut, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. "Terimakasih atas tawarannya, Pangeran. Hanya saja maaf aku harus menolaknya karena aku memiliki sesuatu yang mendesak dan harus pergi ke tempat Selir Juleaha."


Reus berkeringat dingin. Dalam hati dia bertanya-tanya mengapa Pangeran Asta secara kebetulan berada di depan kediaman sang raja? Apa benar dia datang hanya untuk mengunjungi sang raja? Atau memang datang untuk mencarinya?


"Oh, benarkah? Bukankah Selir Juleaha sedang pergi keluar?"


"Ini...."


"Aku akan ikut dengan Pangeran," kata Reus dengan nada pasrah.


Reus merasa sesuatu menjadi semakin jelas. Keberadaan Pangeran Asta di tempat ini ternyata memang sudah menargetkannya. Tidak ada pilihan lain, Reus akan pergi bersama sang pangeran untuk mencaritahu, sampai sejauh mana sang pangeran mengetahui segala sesuatunya.


Mavis membawa kelompoknya itu pergi menuju kediamannya, diikuti dengan Reus dari arah belakang.


Begitu pintu terbuka, Mavis masuk bersama Reus, Samantha pergi menutup pintu, sementara Bulan dan Bintang langsung mengambil posisi tenang dan khidmat di pinggir ruangan.


"Kalian bisa keluar sekarang." Mavis terlihat berbicara sendiri, membuat Reus bingung untuk sepersekian detik.


Namun, sebuah aura melonjak dan pengelihatannya menemukan sesuatu yang janggal pada asap yang tiba-tiba muncul secara misterius di beberapa titik, membuat dia terkejut sampai-sampai rahangnya seakan jatuh ke tanah.


"Apa...."


Reus tak bisa berhenti memelototi sosok demi sosok yang tercipta dari kepulan asap yang muncul. Terlebih salah satu sosok yang terakhir membuat jantung seakan berhenti berdetak. Sosok itu tak lain adalah adiknya sendiri, Darius.


"Sebenarnya, apa yang sebenarnya terjadi? Darius, jelaskan padaku!"


"Reus, tenanglah, aku baik-baik saja," kata Darius dengan senyuman di wajahnya.


"Pangeran ... ini...."


Mavis mengangguk untuk meyakinkan keadaan Darius memanglah baik-baik saja. Dia memaklumi Reus panik ketika melihat kemunculan adiknya itu dengan cara yang aneh, terlebih Darius adalah bawahan dari Selir Juleaha, orang yang berniat mencelakai sang ratu. Reus takut sang pangeran salah menuduh adiknya itu yang berada dibalik jatuhnya penyakit sang ratu. Namun, untungnya Mavis sendiri mengkonfirmasi bahwa kecemasan Reus tidak dibutuhkan di sini. Reus pun menghela napas berat dan mencoba menenangkan dirinya.


"Kamu pasti sangat terkejut. Seperti yang kamu pikirkan, aku sudah tau segala hal tentang Selir Juleaha. Semua tentang hal-hal buruk yang dia lakukan di belakang, termasuk menyuap para tabib untuk memperburuk penyakit Ratu Lilian."


"Pangeran, harap kamu percaya dengan apa yang akan aku katakan. Ini semua tidak ada hubungannya dengan Darius. Jika Pangeran ingin menghukum, ambilah aku. Selir Juleaha yang menyuruhku untuk mengumpulkan para tabib kerajaan, aku bersalah di sini. Tolong biarkan Darius pergi," kata Reus. Wajahnya berubah jelek dan keringat dingin membasahi pelipisnya.


"Kamu terlalu berlebihan tentang ini. Aku membawamu ke sini bukan untuk menghakimi siapapun." Mavis terkekeh saat melihat Reus yang panik dalam menjelaskan kepadanya. "Di sini aku ingin membicarakan sesuatu yang lain."


Reus semakin bertanya-tanya dalam hati, alisnya mengernyit lantaran pangeran di hadapannya ini semakin membuatnya bingung.


"Reus, aku menawarkan tempat untukmu. Selama kamu bersedia bersumpah setia padaku, kamu dan Darius akan berada di bawah perlindunganku."