I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 74 : Konflik Pencabutan



Berjalan bolak-balik di dalam kediamannya, Selir Juleaha menggigit bibirnya sambil berpikir keras. Perasaan wanita itu campur aduk, kesal, marah, panik, lantaran rencana busuknya baru saja hampir terbongkar dihadapan sang raja. Masalah tabib itu, dia harus melakukan sesuatu agar tabib itu tidak membuka mulut, seperti menyuap atau mengancamnya. Hanya saja itu tidaklah mungkin karena sekarang sudah terlambat, para tabib itu sudah dipindahkan ke sel tahanan tingkat tiga, tempat para kriminal dengan catatan kejahatan besar berada. Penjagaan di sana sangat ketat, pertahanan di sana sangat kuat, tidak pernah ada kriminal yang berhasil melarikan diri ataupun orang yang berhasil menerobos ke dalam.


Berada tak jauh dari tempat wanita itu, Reus terdiam memandanginya, dia tidak berkata apapun, takut-takut malah dia yang terkena imbasnya. Biasanya Reus sering memberi saran terhadap masalah yang datang pada wanita itu, meski berakhir dibentak dan dicaci karena berlagak sok tau olehnya. Namun, Reus yang sekarang tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu! Ini kesempatan dia dan adiknya untuk terbebas dari selir jahat itu. Lebih baik dia tertangkap karena kejahatannya dan dihukum mati! Reus sangat ingin hal itu.


Reus pun sempat terpikirkan bagaimana jika dia memberitahu semuanya kepada Yang Mulia Raja Cornelius, tentang kejahatan apa saja yang telah dilakukan Selir Juleaha selama ini? Meski dia akan mendapat hukuman nantinya karena sempat beberapa kali terlibat dalam aksi kejahatannya, tapi itu akan jauh lebih baik. Dia akan terima hukuman yang tidak seberapa ini jika bisa ditukar dengan kebebasan setelah menerima hukumannya. Dia tidak ingin terus bersama wanita itu.


"Bagiamana bocah itu tau... anak sialan! Apa yang harus kulakukan... berpikirlah Juleaha... berpikir...." Selir itu berjalan bolak-balik sampai dia menggeram kesal.


"Aghh... Sial! Sial! Sial! Bocah Sialan!"


Selir Juleaha berlari ke segala aksesoris yang dia miliki di atas meja, kemudian dia menjatuhkan semua itu satu dengan sapuan tangannya. Guci-guci mahal dan benda-bend kesayangannya semua diahancurkan! Dia menjerit dan mengumpat, dia terus merusak apa saja yang ada di ruangan itu, seperti wanita gila.


"Sudah berakhir...." Selir Juleaha jatuh tersungur dengan wajah kosong, tak berselang lama dia bergegas menuju Reus dan mengguncangkan tubuhnya, kemudian berkata, "Aku harus pergi dari sini! Ya, Sebelum mereka mengetahui kebenarannya! Reus, persiapkan semua keperluanku, cepat! Malam ini aku harus melarikan diri!"


Selir Juleaha mengusir Reus untuk segera menyiapkan keperluan untuk keberangkatannya malam ini. Selir Juleaha sudah tidak bisa berkutik, dia tidak ingin bertaruh bila menyangkut hidupnya sendiri. Para tabib itu, Selir Juleaha tidak percaya dengan mereka! Jika para tabib itu pada akhirnya membuka mulut, Selir Juleaha akan berada dalam bahaya! Dia merasa harus cepat pergi sebelum para penjaga membawanya untuk dieksekusi.


"Tidak!" Selir Juleaha mengacak-acak rambutnya seperti orang stress, dia menggigil ketakutan ketika melihat bayang-bayang dia tengah berada di tengah kerumunan orang dan itu tempat dimana dia akan dieksekusi. Ketika pria berotot di belakangnya tersenyum bringas, dia menebas kepala Selir Juleaha dan darah langsung menyembur ke tanah yang dipijaknya.


"Tidak... !"


Di tempat lain, berada di aula pertemuan, Sang Raja datang diikuti Kayle dan para penjaga raja.


"Panjang umur, Yang Mulia Raja." Para bangsawan dari kedua fraksi yang bersebrangan, memberi hormat ketika Raja Cornelius melewati mereka dan duduk di singgasana.


"Selamat Yang Mulia, atas kesembuhan Yang Mulia Ratu." Fergus merupakan orang pertama yang memberikan ucapan selamat kepada Raja Cornelius.


"Selamat Yang Mulia, Panjang Umur Ratu Lilian!" Para bangsawan yang secara diam-diam berada di pihak sang ratu berubah warnah cerah ketika mendengar pengumuman dari Fergus.


Sementara pihak oposisi yang berada di pihak selir-selir hanya bisa memaksakan wajah bahagia dan ikut memberikan ucapan selamat. Mereka adalah para bangsawan yang mendapatkan gelar berkat hubungan dari para selir raja. Sebelumnya mereka telah berharap akan kematian sang ratu agar selir yang mendukung mereka bisa naik menjadi ratu berikutnya, akan tetapi itu tidak terjadi seperti yang mereka inginkan.


"Jadi, ada hal penting apa?" kata Raja Cornelius.


"Kemarin utusanku mengatakan bahwa jalur pasokan bahan kontruksi dari Serikat Kerajaan Dua Belas Pilar telah memutus hubungan dengan kerajaan kami," kata Yasin dengan murung di wajahnya.


"Pemutusan hubungan?" Raja Cornelius terkena serangan kejut dan untuk beberapa saat terdiam.


"Apa yang terjadi?" kata Kayle.


"Ini... Yang Mulia... Kerajaan Mori, Kerajaan Ephraim, dan kerajaan Jianheeng telah mendesak kerajaan kecil lainnya dalam lingkar serikat untuk mengeluarkan kerajaan Sriwijaya. Mereka mengadakan pertemuan serikat beberapa hari yang lalu."


"Beraninya!"


"Yang Mulia, harap tenang," kata Kayle dengan nada pelan, dia mencoba mengingatkan Raja Cornelius untuk mengendalikan emosinya. Di saat keadaan mendesak seperti ini, Kayle memang mempunyai kewajiban untuk menjaga Raja Cornelius agar tetap tenang, dan berpikir jernih dalam mengatasi berbagai situasi dan permasalahan.


Raja Cornelius kembali duduk di kursi singgasananya. Dia menghela napas berat dan kembali fokus mendengarkan pernyataan pemimpin departemen pengawasan gudang kerajaan, Yasin.


"Lanjutkan."


"Baik, Yang Mulia."


"Seperti kabar yang datang beberapa hari yang lalu, Kerajaan Mori baru-baru ini mengalami kemajuan besar dan berniat mengklaim maju sebagai kerajaan tingkat empat. Raja Titus telah bergandengan tangan dengan Raja Liyangyi dari kerajaan tingkat dua, Jianheeng, untuk mendekati kerajaan lain untuk menendang kerajaan Sriwijaya dari daftar anggota."


"Bersamaan dengan keduanya, Raja Justin dari kerajaan tingkat dua, Ephraim, secara mengejutkan menyatakan minat untuk mendukung niat Raja Titus. Sebagai gantinya, Raja Titus harus menikahkan putri cantik dari kerajaannya dengan pangeran mahkota Kerajaan Ephraim."


"Bagaimana dengan Kerajaan Osaka?" kata Raja Cornelius.


Seketika seluruh orang yang hadir dalam ruangan itu membeku di tempat masing-masing, beberapa dari mereka bahkan menanyakan kemana perginya Kerajaan Osaka ketika Kerajaan Sriwijaya dipojokan sampai pada akhirnya dikeluarkan dari serikat?


"Raja Ragnar telah mengambil tindakan untuk menolak usulan Raja Titus untuk mengeluarkan kerajaan kami. Hanya saja, ketika pertemuan itu sudah mencapai titik akhir, banyak kerajaan lain yang mendukung pencabutan status anggota Kerajaan Sriwijaya. Tujuh dari anggota serikat menyatakan setuju untuk menghapus kerajaan kami dari daftar, tiga dari itu menyatakan menolak, dan dua lainnya memilih diam."


"Cukup yakin, Raja Titus telah terang-terangan menyatakan perang, Yang Mulia!" kata Fergus.