I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 115 : Sebenarnya Dialah Sang Putri



Goblin bernama Badrun itu mendapat persetujuan Mavis untuk mengambil sumpah melalui kontrak darah. Setelah melalui prosesi yang begitu menyakitkan, akhirnya setelah asap merah pekat yang perlahan menyebar, Badrun keluar dengan penampakan barunya yang jauh lebih baik dan menarik. Tubuhnya yang semula kerdil kini tumbuh hampir dua kali tinggi sebelumnya, punggung yang bungkuk telah menjadi tegak, dan bagian tubuh lainnya juga mengalami transformasi secara signifikan.


Sesaat Badrun kebingungan dengan sensasi yang baru saja dia rasakan. Badrun pun mulai mengoreksi seluruh bagian tubuhnya dan mendapati bahwa segala sesuatunya telah terasa jauh lebih baik. Sensasi memiliki tubuh yang diperkuat dan penampilan yang menjadi lebih rupawan, dia begitu senang dan hampir melompat karena kegirangan.


"Raja, terimakasih! Badrun akan bersumpah setia kepada Raja!" Buru-buru Badrun mengirimkan ucapan rasa bersyukurnya atas berkah yang telah diberikan oleh Mavis. "Eh, suaraku? Bagaimana bisa?"


Tiba-tiba Badrun jatuh linglung, setelah mendapatkan kejutan tak terduga datang dari perkataan yang baru saja dia keluarkan dari mulutnya. Itu karena bagaimana cara dia berbicara sekarang benar-benar mirip dengan manusia ketika melakukannya! Kecerdasannya telah ditingkatkan sampai sejauh ini.


"Ini hanya sebagai hadiah awal untuk pekerjaan barumu. Bekerja keraslah untuk perkembangan pemukiman ini, sehingga di masa depan aku tidak akan ragu untuk memberikanmu manfaat yang lebih besar. Selanjutnya aku akan menyiapkan semua pengaturan tentang tugasmu terlebih dahulu, sebagai kepala departemen keuangan. Setelah aku selesai membuatnya, Ivar akan menjadi perantara dan akan mengirimkannya padamu dalam waktu dekat. untuk saat ini kamu cukup mulai menyiapkan perekrutan staf yang akan berkerja di tempat itu nantinya," kata Mavis.


"Baik, Raja! Badrun akan mengingatnya," kata Badrun dengan ekspresi penuh semangat. Matanya begitu bersinar dan darah di dalam tubuhnya seakan ikut mendidih.


"Oh ya, aku hampir melupakan sesuatu. Isabella, mengenai bangunan kosong yang berada di sebelah gudang kamp pelatihan para prajurit, itu nantinya akan menjadi tempat departemen keuangan menjalankan operasinya."


"Baik, Tuan. Segera aku akan menginstruksikan kepada para pekerja untuk menyelesaikan tahap terakhir pengerjaan. Tuan harap yakin, aku hanya butuh tiga hari untuk menuntaskannya," kata Isabella.


Mavis tidak membalas, alih-alih mengangguk sebagai tanggapan dari perkataan pelayannya itu.


"Sungguh melelahkan, akhirnya mereka semua pergi meninggalkanku." Mavis mengerang sambil merentangkan tubuhnya ketika berdiri dari kursi singgasana. Sesaat dia mengedarkan pandangannya ke arah para pelayan setianya dan merasakan sukacita yang teramat besar. Tanpa sadar pun Mavis tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian pandangannya kembali terfokus pada salah satu pelayannya.


"Samantha, bagaimana? Apa kamu menemukan lokasinya?" Dengan wajah datar Mavis bertanya kepada pelayannya itu. Sebenarnya, dia tidak berharap banyak pada kemampuan Samantha, bagaimanapun kemampuannya tidak selalu bekerja di saat-saat tertentu. Meski demikian, itu masih patut untuk dicoba.


"Tuan, aku berhasil menemukannya," kata Samantha.


"Heh?" Mavis yang sebelumnya berdiri santai, tidak bisa untuk tidak terkejut setelah mendengar apa yang dikatakan pelayannya itu. "Benarkah? Kalau begitu katakan, di mana dia sekarang? Apakah dia masih berada di wilayah perbatasan selatan kami? Identitas apa yang dimilikinya saat ini?"


Mavis begitu bersemangat dan mengirimkan beribu pertanyaan kepada pelayannya itu.


"Baik Tuan, aku akan menjelaskannya dengan perlahan." Samantha pun dengan senang hati menjawab pertanyaan tuannya itu satu-persatu.


Sebagai informasi dengan apa yang terjadi sebelumnya, Mavis memang terlihat begitu tidak peduli di permukaan ketika Keith memohon bantuan kepadanya. Namun, apa yang sebenarnya terjadi, di dalam lubuk hatinya yang paling terdalam sesungguhnya dia peduli dan berniat untuk membantu. Lagipula dia tidak ingin terlihat mudah dihadapan Keith, jadi dia perlu bersikap dingin.


"Tuan, sebenarnya dia anak kecil yang telah Tuanku selamatkan, sewaktu pertama kali datang ke pemukiman kumuh itu. Mungkinkah Tuanku masih mengingatnya?" Samantha pun tertawa kecil dengan salah satu tangan menutup bagian mulutnya.