I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 87 : Pangeran Julius



Pengaturan itu telah selesai Mavis berikan kepada para makhluk panggilan. Dengan tugas masing-masing yang dibebankan pada mereka, telah disesuaikan dengan keahlian dan kecocokan yang mungkin. Sebagai contoh Bulan dan Bintang yang memiliki keahlian menyelinap dan mengintai akan menjadi regu pengintai dan pembawa pesan, Ozzi dan Akio yang memiliki keahlian dan kecocokan berpedang diberi tugas untuk menjadi pengajar pedang, Samantha menjadi kepala pengadilan masyarakat, kemudian Lily yang memiliki spesifikasi dalam bidang kesehatan akan menjadi ahli medis.


Sementara sisanya yang tidak begitu memiliki kecocokan yang berarti, diberi tugas oleh Mavis secara acak. Seperti Mikaela dan Sera akan ditugaskan untuk menjadi bodyguard Mavis di permukaan dan Wed akan menjadi pemimpin kemiliteran. Lain lagi dengan si kembar Becky dan Becca, keduanya hanya diberikan tugas untuk menyiapkan pakaian, membersihkan kamar, dan hal-hal kecil lain untuk menjamin kenyamanan Mavis selama di tempat baru itu.


"Aku sudah tidak sabar untuk melihat kondisi seperti apa di sana." Mavis tersenyum dan beranjak kembali melihat pemandangan ke luar jendelanya.


Sementara itu, berada di tempat lain di Kekaisaran Menara Kembar.


Berita tentang kepulangan tentara ekspedisi kekaisaran yang gagal menghapus dungeon telah sampai di telinga masyarakat. Banyak bentuk protes yang berdatangan dari para warga yang mengeluhkan ketidak mampuannya kekaisaran dalam mengatasi hal kecil seperti itu. Juga, lebih banyak dari pada sebelumnya warga yang menuntut atas kematian teman, saudara, atau kerabatnya yang ikut dalam tim ekspedisi ini. Dengan kata lain, pihak kekaisaran mengalami krisis yang tidak diinginkan.


Sampai saat ini, sang kaisar masih belum memberikan pernyataan yang jelas. Pihak lain eselon atas juga menutup mulut rapat dan tidak berani banyak berkomentar sesuai yang diperintahkan sang kaisar. Itu karena sang kaisar masih mengalami syok hebat karena bukan saja telah kehilangan banyak pasukan kemiliterannya, pihak kekaisaran juga telah kehilangan para pejuang hebat yang dimilikinya. Jika ikut menyebutkan satu pejuang hebat yang hanya dimiliki kekaisaran ikut menghilang setelah pertempuran, membuat sang kaisar merasakan rasa pahit di dalam hatinya.


"Apa sudah ada kabar tentang Penasehat Barok?"


Saat ini berada di ruang pertemuan tertutup sang kaisar memandangi para eselon atas kekaisaran yang berbaris di dua sisi berlawanan. Sang kaisar duduk di singgasana dengan ekspresi muram, kerutan tampak terlihat menandakan sang kaisar saat ini tidak bisa tenang di dalamnya.


"Yang Mulia, belum ada perkembangan dari tim pengintai tentang keberadaan Penasehat Barok," kata Reene dengan perasaannya yang rumit, saat ini dia berdiri di sisi sang kaisar dengan atribut lengkap. Dia adalah anak dari Penasehat Barok dan merupakan pengawal pribadi sang kaisar.


"Kaisar Frey, mohon ampun atas kelancanganku." Seorang pria dari kubu Mawar merah maju dari barisan dan memberi penghormatan kepada sang kaisar.


"Bicaralah."


"Yang Mulia, menurut para petugas yang berjaga di dinding benteng utama, para warga sudah memenuhi sisi gerbang dan mulai membuat kerusuhan karena tidak kunjung mendapatkan berita kepulangan tim ekspedisi. Aku takut itu akan semakin parah jika terus berlanjut beberapa hari kedepannya," kata pria itu dengan nada begitu cemas.


"Yang Mulia, kali ini aku setuju dengan Mentri Jinsu tentang masalah ini. Mohon Yang Mulia memaafkan kelancanganku." Berada dari sisi berlawanan Mentri Huang menyatakan setuju atas masalah ini. Meski dia tidak suka dengan Mentri Jinsu, akan tetapi kali ini mereka berdua memiliki kesepahaman. Mentri Huang sendiri berasal dari kubu Mata Biru, dengan kata lain mereka berada di kubu berlainan.


Sang Kaisar menghela napas berat. Pikirannya telah lama rumit semenjak berita tentang pasukan ekspedisi kedua ini, ya gagal kembali menghapus dungeon itu. Sang kaisar tidak memiliki pilihan lain, tidak ada gunanya mencoba menyembunyikan hal ini kepada publik, karena sebagian warga telah mendapatkan informasi tersebut dari para petualang yang selamat. Hanya masalah waktu, menunggu berita itu sampai ke semua penjuru kekaisaran dari mulut ke mulut.


"Baiklah, kalian berdua bisa memberikan berita ini kepada publik. Mengenai para kerabat yang ditinggalkan oleh prajurit dan petualang yang gugur, beri mereka semua kompensasi yang sesuai."


"Terimakasih, Yang Mulia." Kedua kepala kubu tersebut mundur dan kembali pada barisan masing-masing.


"Salam kepada Yang Mulia, Alyn dari pengurus rumah tangga kerajaan berafiliasi Torry meminta izin untuk menyampaikan pesan dari sang raja," kata bangsawan bernama Alyn itu.


"Bicaralah."


"Terimakasih Yang Mulia." Bangsawan itu mulai membuka gulungan perkamen yang diberikan sang raja kepadanya, kemudian melanjutkan menyampaikan itu di hadapan sang kaisar, "Yang Mulia, pertama-tama aku ingin menyampaikan permintaan maaf Raja Hasington karena tidak bisa menghadap Yang Mulia secara langsung, karena kondisi kerajaan juga tengah mengalami kemunduran setelah kehancuran unit prajurit dalam tim ekspedisi sebelumnya. Di sini Raja Hansington menitipkan pesan bahwa Yang Mulia dimohon untuk segera mengirimkan perwakilan kepada orang yang berkuasa atas para goblin itu, sebagai negosiasi perdamaian. Sebelum itu benar-benar terlambat karena pihak mereka datang untuk mengetuk pintu kekaisaran," kata Alyn.


"Yang Mulia, menurut para penyihir petualang yang merupakan bawahan dari Penasihat Barok juga mengatakan hal serupa. Di saat terakhir Penasihat Barok menitipkan pesan kepada mereka agar Yang Mulia memiliki lebih banyak waktu untuk bersiap, dan mencoba sebisa mungkin untuk tidak memprovokasi penguasa para goblin itu." Reene ikut berkomentar ketika Alyn selesai membacakan pesan tersebut.


Kaisar Fey tak bisa membantu tapi mengerutkan kening, dia menatap kosong sambil berpikir dalam-dalam. Para hadirin saat ini tak ada satupun yang berani berkomentar lagi, terlebih melihat mimik sang kaisar yang terlihat tidak begitu senang.


"Reene, pergi dan panggilkan pangeran untuk datang ke pertemuan." Sang Raja berkata dengan tegas, membuat Reene linglung sesaat dan kemudian mengangguk sebagai balasan. Dia pun segera memberi salam sebelum akhirnya pergi untuk menemui sang pangeran.


Sekitar setengah jam berlalu, pintu ruangan terbuka dan Pangeran Julius memasuki ruangan pertemuan, disusul dengan Reene dari arah belakangnya. Sang Pangeran berjalan di tengah-tengah melewati dua barisan yang berada di sisi kanan dan kiri, seakan membelah kedua kubu.


"Salam, Yang Mulia. Pangeran Julius datang untuk menghadap." Pangeran itu berkata seraya memberi hormat kepada sang kaisar di hadapannya. Sementara itu, Reene kembali ke posisinya di sisi sang kaisar.


"Julius, dengan ini aku memberi tugas penting untukmu. Sebagai perwakilan dari kekaisaran pergilah untuk menemui penguasa para goblin untuk bernegosiasi tentang kesepakatan berdamai. Kekaisaran menawarkan memberi manfaat beberapa wilayah di sekitar dungeon sebagai kesepakatan. Sementara itu para goblin harus setuju untuk tidak mengusik kekaisaran."


"Yang Mulia, ini...." Reene syok dan tanpa sadar berkomentar setelah sang raja selesai berbicara. "Terlalu berbahaya, untuk mengirimkan pangeran ke tempat seperti itu. Mohon Yang Mulia untuk memikirkan itu kembali."


Sama seperti apa yang dilakukan Reeene, beberapa pejabat kekaisaran dan bangsawan yang memiliki hubungan dekat dengan sang pangeran menyatakan penolakannya. Mereka berharap bahwa sang kaisar menarik perintah nekat seperti itu.


Sang kaisar pun tidak bisa berkata-kata. Perlu diketahui, dalam suatu negosiasi memang dibutuhkan kepercayaan dari masing-masing pihak yang bersangkutan. Dengan kata lain agar pihak penguasa goblin itu menerima ketulusan kekaisaran untuk bernegosiasi, seseorang berpengaruh haruslah menjadi perwakilan dari kekaisaran. Sementara itu, kekaisaran sudah tidak lagi memiliki siapapun yang memiliki pengaruh yang kuat, Penasihat Barok pun telah menghilang dan tidak diketahui keberadaanya. Satu-satunya yang cocok di sini untuk pergi bernegosiasi hanyalah sang pangeran, karena tidak mungkin juga kan sang kaisar sendiri yang berangkat?


Sementara itu, para eselon atas dan para bangsawan menyatakan keberatannya, sang pangeran angkat bicara tentang perintah sang kaisar yang ditujukan padanya. Para hadirin pun kembali tenang dan fokus mendengarkan jawaban sang pangeran, begitu juga dengan sang kaisar.


"Yang Mulia, jika itu memang yang terbaik untuk kekaisaran, Julius bersedia menjadi perwakilan untuk bernegosiasi," kata Julius seraya tersenyum hangat.