I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 135 : Jejak Kedatangan Seorang Ahli



Barisan prajurit berjumlah lima ribuan terlihat tengah menuju Kerajaan Sriwijaya. Pasukan itu berpakaian lengkap dengan armor tempur berwarna silver mengkilap. Di bagian terdepan didominasi prajurit yang membawa tameng dan tombak, beberapa menaiki tunggangan kuda, sementara di bagian belakang diikuti para pemanah dan beberapa orang berlencana. Di tengah, pusat dari semuanya tiga kereta kuda dikawal oleh ahli tingkat tinggi dan atasan prajurit berkuda. Kereta itu pada dasarnya mengantar Ratu Lilian berserta lima komandan dari Kerajaan Toran untuk kembali ke kerajaan Stiwijaya.


Jalur yang mereka lewati seharusnya jalur memutar yang aman, para pengintai musuh seharusnya tidak dapat melacak keberadaan mereka. Rombongan itu melewati jalan di tengah tebing tinggi yang mana dikabarkan tempat tinggalnya para sekelompok bandit. Para prajurit bersiaga dan memantau sekeliling begitu memasuki wilayah tersebut.


"Yang Mulia Ratu, kami telah memasuki wilayah Jurang Breksi. Hanya untuk berjaga-jaga Komandan Killin telah mengirimkan tim pengintai di area sekitar." Hina yang berada di atas kuda putih mendekat ke arah kereta dan melapor kepada sang ratu.


Melihat bagaimana wanita itu bertindak tenang di permukaan, menggunakan pakaian zirah yang sedikit berat, dan membawa serta pedang di sakunya. Siapapun yang tidak mengenal dirinya dengan baik, pasti akan salah mengira bahwa sebenarnya Hina bukanlah seorang pendekar pedang wanita, melainkan hanyalah seorang pelayan pribadi yang tugasnya mengurusi kebutuhan sehari-hari sang ratu.


"Hina, apa kamu telah melaksanakan tugas yang aku berikan?" kata Ratu Lilian dengan nada pelan, sebelumnya dia telah membuka terlebih dulu sedikit jendela kereta. Mengintip dari dalam, bagaimana rupa tebing yang menghimpit jalan yang mereka lewati itu.


"Ratuku, memang aku telah melaksanakan perintah itu saat peristirahatan sebelumnya. Hanya ini tidak boleh diketahui oleh orang-orang lain terutama orang Toran. Lain, itu akan menimbulkan ketidaksukaan dan permusuhan di antara dua belah pihak. Seperti yang Ratuku ketahui, Komandan Killin akan sangat murka jika mengetahui aku melepaskan burung pengantar pesan untuk pergi ke ibu kota," kata Hina.


Komandan Killin sangat menentang hal itu karena terlalu beresiko membocorkan informasi keberadaan sang ratu dan rombongan mereka. Mengingat hubungan diplomatis antara kedua kerajaan terjadi secara rahasia dan tiba-tiba, semestinya tidak ada pengintai musuh yang tahu selama tidak ada informasi yang keluar masuk dari rombongan itu.


"Mereka mengatakan bahwa tempat ini sering dijadikan markas tempat persembunyian para bandit, akan tetapi aku belum merasakan satupun bahaya yang datang mendekat." Salah seorang ahli bertopi hijau berbicara kepada ahli satunya lagi yang berjanggut putih. Pria itu pada dasarnya memiliki kemampuan visi pengelihatan yang baik, dapat mendeteksi segala sesuatunya dalam jangkauan ratusan meter.


"Tidak peduli bagaimana kau memandang rendah para bandit itu, Garen, kau tidak semestinya menurunkan penjagaan ketika mengawal sang ratu." Pria bertopi hijau yang bernama Braum menasehati kawannya itu, meski dia sendiri mengakui bahwa Garen memiliki kualifikasi untuk berbicara arogan seperti itu, akan tetapi misi kali ini berfokus untuk menjamin keselamatan dari sang ratu, bukan semata-mata hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.


"Kau terlalu melebih-lebihkan kemampuan para bandit, Braum." Garen berdecih dan memalingkan wajah dari sahabatnya itu dengan malas. Kemudian memacu kuda hitamnya mendahului Braum, seraya berkata, "Lebih baik kau berhenti dari pekerjaan ini. Demi kebaikanmu."


Selama setengah hari rombongan itu melewati jalan di bawah tebing yang tinggi, tidak ada satupun tanda-tanda keberadaan para bandit yang dirumorkan mendiami kawasan wilayah tersebut. Beberapa kali ditemui puing-puing tenda dan barang-barang yang hancur di sepanjang jalan yang mereka lewati, anehnya itu terlihat seperti belum lama ini diratakan oleh seseorang. Hal itu dikonfirmasi langsung oleh salah seorang ahli dalam tim, wanita berjubah dengan belahan dada terbuka, namanya Gloria. Sejatinya wanita itu memiliki kemampuan dalam hal pelacakan, indra penciumannya sangat kuat begitu mendekati bekas barang-barang dan tenda-tenda usang tersebut. Dia merasakan bahwa sekitar tiga atau empat hari yang lalu tempat ini telah kedatangan seorang ahli yang sangatlah kuat.


Gloria bukanlah orang sembarangan, terlepas dari identitas putri dari seorang bangsawan besar di Kerajaan Toran, seperti halnya para ahli lainnya di rombongan itu, dia merupakan salah satu petualang berlencana biru. Meski kali ini ucapannya terdengar seperti membual, tidak ada satupun yang berani meragukan kemampuannya, bahkan untuk sekelas Garen sekalipun.


"Mungkinkah keberadaan kami telah diketahui oleh para pengintai musuh? Bagaimana menurut pendapat Komandan Killin tentang masalah ini?" Braum bertanya kepada sang komandan seraya menoleh ke arah atas tebing.


Sekilas pria paruh baya itu seperti merasakan hawa keberadaan seseorang dari asal tempat itu. Panik, segera dia pun mengaktifkan kemampuan visi pengelihatannya yang tajam. Namun sayangnya, apa yang didapatinya hanyalah dataran kosong di atas tebing, dan tidak ada sama sekali tanda-tanda kehidupan di tempat itu. Braum pun menghela napas berat begitu menyadari dirinya terlalu cemas. Lagipula, tak jauh dari tempatnya sekarang ada Gloria, seharusnya jika memang ada sosok yang mengintai di atas sana, wanita itu sudah lama mencium bau keberadaanya.


"Apa yang dikatakan Garen sebelumnya itu memang ada benarnya juga. Sudah saatnya aku mulai memikirkan waktu yang tepat untuk berhenti dari pekerjaan ini, mengingat usiaku yang sekarang ini tidak lagi muda," kata Braum dalam hati, kemudian dia mulai mencoba menenangkan dirinya.