I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 61 : Bertemu Teman Lama



Berada di wilayah Earl Edward, sudah satu hari berlalu.


Pagi itu Mavis dan kelompoknya dibawa ke suatu ruangan, kemudian dihidangkan dengan berbagai jenis makanan. Beralih di sisi lain sudah berdiri Earl Edward yang membungkuk sejenak dan mempersilahkan Mavis untuk duduk. Sang Pangeran di berikan kursi diujung, ditengah, sementara kelompoknya dan Earl itu mengambil posisi duduk di samping dan berhadapan.


Tak ada pembicaraan saat itu, sangat khidmat dan baik. Para pelayan pun mulai berdatangan membawa hidangan tambahan dan juga minuman anggur. Merdeka menyantap makanan itu dengan lahap, terutama Mavis. Sementara itu, melihat beberapa di antara mereka seperti Samantha, Akio, Ozzi, dan yang lainnya tidak ikut makan, membuat Earl Edward mengerutkan kening dan bertanya-tanya. Hanya saja bangsawan itu menahan untuk bertanya ketika masih menyantap hidangannya.


Selesai dengan itu, dia segera bertanya kepada mereka,


"Apa kalian tidak suka dengan makannya? Jika iya, aku akan meminta pelayan untuk membawakan yang lain."


Bangsawan itu mengedarkan pandangannya ke arah mereka para makhluk panggilan iblis, terlebih saat melihat Giraldo yang tidak mengambil posisi duduk dan berdiri di belakang Mavis. Pada dasarnya bangsawan itu tau mereka merupakan iblis kuno, akan tetapi yang membuatnya bingung, bukankah seorang iblis juga butuh makan? Dia sendiri juga sudah lama tinggal dengan seorang iblis yang mana gurunya -- si iblis penyembuh, jadi dia paham kalau para iblis juga butuh makan tak bedanya dengan manusia.


"Ya, Pangeran. Sejak kemarin mereka belum makan sekalipun!" Sasha selesai dengan makanannya dan ikut berkomentar.


Mavis tidak menjawab dan hanya tersenyum kecil, dia mengelap mulutnya dengan kain yang ada. Selanjutnya dia mengalihkan pandangan ke arah bangsawan itu seraya berkata, "Kapan aku bisa bertemu dengan dia?"


Seakan paham dengan sebutan dia, Earl Edward balas tersenyum dan menjawab, "Sesuai keinginan Tuan."


"Kalau begitu bawa aku ke tempatnya sekarang."


Mavis bangkit dan diikuti yang lainnya. Earl Edward memandu jalan bersama dengan dua penjaga ditambah si pria berkacamata. Mereka turun dari bangunan itu dan berpindah melewati balkon yang mana di tengah pekarangan, dan sampai di ujung masuk ke bangunan yang lain.


Bangunan itu terlihat sangat hidup dengan dinding-dinding yang ditempeli tumbuhan merambat. Selepas mereka masuk, itu langsung dimanjakan dengan banyak sekali tanaman hias dan obat-obatan di atas pot-pot yang tertata rapih. Berada di sisi lain sesosok wanita berambut ikal coklat panjang berbalik ketika mengetahui keberadaan mereka yang datang berkunjung.


"Kau datang lagi?"


Wanita itu menampilkan penampilannya yang tenang dan santai. Bagaikan kupu-kupu yang indah dia memancarkan perasaan yang damai, bola matanya berwarna hijau gelap dan kulitnya seputih salju. Sejujurnya dan saat itu juga Mavis tidak menyadari bahwa wanita itu adalah iblis seperti para makhluk panggilannya. Dia pikir itu orang yang lain, atau hanya pelayan si iblis.


"Kalian...."


Begitu manik matanya menatap sekelompok orang yang berada di belakang Earl Edward, wanita itu tersenyum dan meneteskan air mata. Dia segera mengusapnya dan tertawa kecil, kemudian berkata, "Pada akhirnya kalian menemukan aku."


"Lily!"


"Kau benar Lily!"


Samantha berjalan cepat dan memeluk tubuh wanita itu kencang dan hampir membuatnya jatuh. Dia merasa bertemu dengan teman lama dan itu rasanya sulit dilukiskan dengan kata-kata untuk mengungkapkan betapa bahagianya.


"Saat itu kamu pergi dan tidak kembali menemui kami. Sejak saat kami berpisah dalam pencarian, aku pikir kamu dan beberapa yang lainnya kembali ke wilayah pengasingan, ternyata kamu di sini, Lily."


"Sera?"


Mereka semua bertemu dan bernostalgia untuk beberapa waktu. Mavis yang melihatnya tidak masalah dengan itu, dia pun menikmati suasananya dan menonton dari jauh bersama dengan Earl Edward yang ikut tersenyum haru dan Sasha yang super kebingungan.


"Mereka saling mengenal, Tuan?" kata Sasha dengan setengah berbisik.


"Ya, mereka teman dekat. Oh ya, kamu bisa menunggu di luar dan bersantai dengan suasana taman. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mereka."


"Baiklah." Tidak peduli dengan bisnis apa yang dimiliki pangerannya itu, Sasha dengan senang hati keluar dari ruangan dan berjalan menuju taman. Lagipula dia tidak mengerti hubungan di antara mereka, dari pada menjadi satu-satunya orang yang tidak paham apa yang mereka bicarakan, lebih baik dia menyingkir dan bisa bersantai duduk melihat-lihat di taman.


"Bagaimana kalian bisa menemukan aku?" kata Lily.


"Lily, akhirnya kami menemukan tuan yang terpilih. Buku tua itu telah memilih tuannya, dan kami sekarang mengikuti Tuanku," kata Samantha.


"Benarkah?"


Ekspresi Lily sesaat linglung, tapi cepat berubah menjadi cerah.


"Kemari, aku akan mengenalkanmu pada Tuan." Samantha menarik tangan Lily yang mulus itu dan membawanya menuju tempat Mavis berada.


Dari jauh Mavis melihat Samantha membawa wanita itu menghadapnya. Itu secara tiba-tiba dan membuatnya agak gugup. Namun, itu hanya Mavis saja yang tau, di luar dia tersenyum kecil dan menyambut wanita itu dengan hangat.


"Kau pasti Lily yang sering dibicarakan mereka?"


"Ya, Tuan." Dengan gerakan anggun dia memberi hormat kepada Mavis. Kemudian dia menunduk dan sedikit sedih dan malu. "Maafkan aku Tuan, karena terlambat mengenali Tuan."


"Nona?"


Earl Edward yang melihat adegan itu menjadi linglung dan tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Dia tau jelas nona gurunya itu iblis seperti apa, dia haruslah sangat angkuh di hadapan orang lain, akan tetapi sekarang itu dengan malu menunduk dihadapan seorang bocah? Meski bangsawan itu tau Mavis adalah master dari banyak iblis seperti Samantha dan yang lainnya, mengapa gurunya Lily ikut-ikutan hormat kepada sang pangeran? Ini tidak masuk akal, mereka bahkan baru bertemu pertama kali. Apa yang telah dia lewatkan?


"Ed, kamu dapat menunggu di luar," kata Lily dengan wajah tenang, dia tidak marah atau apa. Bagaimanapun dia tau muridnya itu tidak tau ikatan macam apa yang dia miliki dengan Mavis, dan itu rahasia yang tidak bisa diungkapkan kepada orang lain.