I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 94 : Si Kecil Zahard



"Berhenti."


Rombongan itu menghentikan langkah kuda mereka begitu Mavis memberikan perintah. Tak lama, seorang anak muncul dari arah suatu tenda kumuh, anak itu pergi berlari dengan membawa roti berjamur di dadanya. Berlari dan sampai di tengah jalan besar yang berdebu, dia kehilangan keseimbangannya dan kemudian terjatuh.


Dia meneteskan air mata, tetapi tidak menjerit. Dia menahan itu seraya membersihkan roti keras di tangannya, mencoba menghapus debu yang menempel. Selanjutnya, mimik wajahnya berubah ketakutan, dan tangan kecilnya gemetar ketika manik matanya mendapati seorang pria yang tengah mengejarnya sudah dekat dengannya.


"Bocah tengik! Siapa yang menyuruhmu mencuri, ha? Siapa orang tua anak ini! Keluar!" Pria itu menendang anak itu dengan kesal seraya berteriak di tengah jalan. Dia melihat ke arah tenda-tenda untuk mencari siapa orang tua dari anak ini, dia ingin meminta ganti rugi atas roti yang telah dicuri.


"Baik! Kalau tidak ada yang mengaku biarlah anak ini menjadi budak karena telah mencuri roti milikku!"


Pria itu memandang anak itu dengan cara yang tidak baik, kemudian dia menarik lengan anak itu dengan kasar. Sementara itu, sang anak yang tubuhnya lemah hanya bisa meronta tak berdaya. Sesaat anak itu memalingkan muka untuk mencari pertolongan ke segala arah, dan tak sengaja kedua manik matanya menatap ke arah Mavis.


Keduanya saling melihat untuk sepersekian detik, akan tetapi anak itu segera memindahkan tatapannya, karena dia merasa akan sangat mustahil orang terhormat dan bersih seperti dia akan menolong anak lusuh sepertinya. Dia sungguh mengasihani diri sendiri, mengapa juga dia harus terlahir dari tempat yang rendah seperti ini?


Sementara itu, di sisi lain begitu anak itu memalingkan tatapannya, Mavis tiba-tiba merasakan sesak dan kesulitan untuk bernapas. Seperti ada jarum yang menusuk hatinya, dan itu sangatlah dalam. Sejatinya Mavis bisa merasakan apa yang anak itu tengah rasakan. Itu lebih seperti bercermin baginya, sangatlah mirip seperti kondisinya ketika tidak berdaya melawan takdir di kehidupan sebelumnya.


"Kau yang di sana, lepaskan anak itu," kata Mavis.


Berada pada jarak yang lumayan, Mavis memberi arahan para pengikutnya untuk menggerakkan kuda mereka mengikuti Mavis, bergerak mendekati keduanya. Sang anak sontak membelalakkan matanya dan segera menatap Mavis dengan tatapan kosong, sementara pria itu membuang tatapan keji ke arah Mavis.


"Siapa kamu? Mengapa juga aku harus mendengarkan perintahmu?" Pria itu menyangga tangannya di pinggang seraya memiringkan alisnya, sebagai bentuk provokasi dia kepada Mavis.


"Kamu ... siapa namamu?" Mavis bertanya kepada anak kecil itu. Dia benar-benar tidak mengindahkan pria di hadapannya yang sedang berbicara.


"Jadi, Zahard, apa kamu ingin aku menyelamatkanmu?" Mavis bertanya dengan nada santai, kemudian dia tersenyum tipis kepada gadis itu.


Sesaat gadis kecil itu berdiam diri dan ragu. Ini jelas tidak masuk akal, ketika orang asing seperti dia tiba-tiba mengulurkan bantuan kepada anak rendahan sepertinya. Namun, ketika dia melirik kembali ke arah Mavis dan menerima jejak ketulusan di sana. Anak itu segera meneteskan air matanya.


"Ya, tolong selamatkan aku," kata gadis kecil itu sambil terisak. Dia mengetuk dadanya seperti orang yang tengah berharap penuh.


"Kurang ajar!"


Pria di sana geram kepada anak itu dan Mavis karena telah mengabaikannya. Dia pun menarik lengan anak itu dan menyeretnya dengan paksa, kemudian hendak membawanya pergi meninggalkan tempat itu. Hanya saja begitu dia hendak berjalan dan melangkah, sebuah belati melesat dari arah kelompok Mavis dan itu menggores sedikit leher pria itu.


"Apa?" Pria itu terkejut dan memegangi lehernya yang terluka. Kemudian dengan pandangan ngeri dia menatap ke arah kelompok Mavis dengan gugup.


"Apa yang kau lakukan!" Pria itu melanjutkan perkataannya.


"Kamu masih bertanya?" Mavis hanya terkekeh melihat reaksi pria itu. Dia pun diam-diam memberi pujian kepada Bintang atas tindakannya barusan.


Mavis sedikit salut karena Bintang sudah mulai terbiasa mengontrol emosinya, itu terlihat dari serangannya yang memang hanya berniat memperingati pria itu. Lain jika dia benar-benar serius dan termakan emosi, dia bisa dengan mudah menebas leher pria itu, alih-alih menggoresnya.


"Bukankah sudah aku peringatkan sebelumnya, untuk melepaskan anak itu?" kata Mavis.


"Omong kosong apa! Lihat saja! Tunggu sampai para petugas datang dan menangkap kalian semua! Perlu kamu tau, di sini bukanlah tempat para petualang seperti kalian bisa berbuat seenaknya!" Pria itu tersenyum jijik dan berharap para penjaga akan segera datang dan menangkap kelompok itu.