
Kedatangan Mavis yang diikuti para pengikutnya membuat semua orang yang hadir, tak terkecuali sang raja, terpana dengan penampilannya. Dia berjalan dengan tenang dan percaya diri, memperlihatkan sosok seorang pangeran sejati yang sama sekali jauh dari apa yang digosipkan selama ini. Bodoh, tidak tahu malu, dan tidak punya aturan.
Banyak yang hadir di sana hampir menjatuhkan rahangnya, ketika melihat bagaimana sang pangeran datang menghampiri sang raja dan ratu dengan sopan. Tak sedikit dari mereka yang terkejut karena heran, para bangsawan yang memiliki hubungan dekat dengan sang pangeran bahkan tidak bisa bangun dari keterkejutan selama beberapa saat. Perlu diketahui, apa yang ada diingatan mereka adalah pangeran yang tidak akan repot melakukan hal semacam itu. Menaati aturan? Bersikap sopan? Seharusnya Pangeran Asta yang mereka kenal bukanlah seperti itu.
"Sangat disayangkan, jika saja dia bertingkah lebih baik seperti ini dari dulu, raja tidak mungkin mengusirnya jauh bahkan sampai ke wilayah perbatasan," kata salah seorang bangsawan dengan nada pelan. Dia sedang memiringkan kepalanya mendekat ke arah bangsawan disampingnya.
"Ya, seharusnya dia dapat menjaga sikap jika ingin menjadi pewaris tahta." Bangsawan lain pun menyahuti.
Sementara itu, Mavis tiba di hadapan sang raja dan ratu. Dia segera menyuruh para makhluk bayangannya itu mundur untuk memberi jarak. Kemudian dia memberi hormat dan tersenyum menyambut kedua orang tuanya itu. Segera, sang raja mengangkat Mavis ketika menunduk memberi hormat, kemudian dia merangkulnya dan membawanya pergi ke sebelah dan berbicara sesuatu yang hanya ingin sang raja dan pangeran saja yang tau.
"Asta, jaga dirimu baik-baik."
Sang raja membalik tubuh pangeran sehingga keduanya saling berhadapan. Kedua manik mata sang raja berkaca-kaca ketika memandangi anaknya itu. Sang raja benar-benar tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Sering-seringlah mengirim pesan, terutama untuk ibumu," kata Raja Cornelius melanjutkan perkataannya.
"Baik, ayah." Mavis pun tersenyum, kemudian keduanya berpelukan dan mengucapkan salam perpisahan.
Selanjutnya, dia beranjak menuju sang ratu, para selir, dan juga Selia, untuk melepas kepergiannya. Pada saat itu sang ratu tersenyum dengan berlinang air mata ketika memeluk sang pangeran, kemudian mencoba mengikhlaskan kepergian anaknya itu. Begitu juga dengan si kecil Selia, dia bersembunyi di balik ibunya dan tidak mau bertemu dengan kakaknya itu. Sambil terisak, dia memegangi gaun ibunya dan menolak datang ketika Mavis memanggilnya.
Selir Olivia pun mengangguk untuk mengisyaratkan Mavis agar tidak terlalu terbebani. Mavis sendiri juga paham, Selia pasti sangat sedih ketika kakaknya itu pergi meninggalkan dia. Dia pun membalas dengan anggukan, dan memberi hormat untuk kepergiannya.
Di bawah perintah Mavis, para makhluk bayangan mengambil langkah mengikuti Mavis menaiki kuda. Kemudian mereka pergi meninggalkan tempat itu dengan beberapa puluh prajurit berkuda mengikutinya dari arah belakang.
"Pada akhirnya dia masih belum juga memutuskan. Biarlah, lagipula aku tidak bisa memaksanya untuk melayaniku." Mavis membatin dalam hati ketika belum juga melihat penampakan dari Reus. Padahal, Mavis berserta rombongannya sudah hampir menjangkau gerbang terluar kerajaan.
Setibanya jauh di luar dinding terluar kerajaan, Mavis mengisyaratkan untuk rombongan itu untuk berhenti. Dia membalik arah kudanya dan menatap ke arah para pengikutnya. Mavis mengedarkan pandangannya dan melihat ke arah Lily.
"Kamu bisa mulai pergi dari sini," kata Mavis dengan wajah santai.
"Baik, Tuan."
Lily pun mengangguk dan memberi salam hormat keada tuannya itu. Kemudian dia berpamitan kepada teman-temannya, memeluk Sera untuk beberapa saat, dan setelahnya dia memacu kudanya pergi meninggalkan barisan. Tujuannya tidak lain adalah Kerajaan Baratajaya, ada misi yang harus dia lakukan untuk tuannya.
Sementara itu, melihat Lily sudah menghilang dari pandangan semua orang, Mavis mengalihkan pandangannya ke arah para prajurit yang berkisaran lima puluh orang. Sesuai pesan Mavis kepada Kayle secara diam-diam, untuk tidak mengirimkan terlalu banyak prajurit. Juga, dia minta untuk dicarikan prajurit yang memiliki catatan baik selama di kemiliteran. Tidak pandai bertarung tidak masalah. Karena dia memiliki pengaturan sendiri untuk mereka.
"Di sini aku akan bertanya kepada kalian, sebelum kita melanjutkan perjalanan. Ada beberapa aturan yang harus kalian ingat jika ingin melayaniku. Yang pertama, kalian tidak boleh meragukan perintahku. Kedua, kalian tidak boleh melanggar tugas yang aku berikan pada kalian. Dan yang ketiga, kalian tidak boleh mengkhianatiku." Mavis berkata dengan wajah serius.
Ketika mereka sedang mencerna semua aturan yang dikatakan sang pangeran, beberapa prajurit yang menyebar secara tiba-tiba jatuh mencium tanah. Membuat para prajurit yang lain terkejut dan berbalik untuk melihat apa yang terjadi.
Diantaranya bahkan turun untuk melihat para prajurit itu, dan menyadari setelahnya kalau mereka sudah tak lagi bernyawa. Setelah diperiksa di beberapa titik, mereka menemukan luka fatal di titik yang sama. Belati itu menancap dalam, menghujam jantung para penyusup yang menyamar di antara prajurit.
"Apa yang terjadi?"
"Mengapa dia tiba-tiba menyerang?" Para prajurit yang terkejut segera mengalihkan pandangan menuju Bintang. Mereka terlihat panik dan gemetar ketakutan di saat yang bersamaan.
"Dengarkan." Mavis berbicara dengan tenang setelah melihat para prajurit melihatnya dengan tatapan skeptis. "Mereka adalah para penyusup yang menyamar di antara kalian. Sudah kukatakan sebelumnya, aku paling membenci orang yang berkhianat."
"Sekarang, aku akan memberi kalian waktu untuk berpikir. Bagi mereka yang merasa keberatan dengan ketiga aturanku, maka kembalilah sebelum itu terlambat. Dan juga aku dapat mengirimkan surat pernyataan untuk kemiliteran, agar tidak memberi hukuman kepada kalian yang memilih kembali," kata Mavis melanjutkan perkataannya.
Para prajurit saling berbisik dan menatap diri satu sama lain, ada juga beberapa yang memilih merenung seorang diri. Mereka semua memikirkan pilihan yang terbaik untuk diri mereka sendiri, apalagi setelah mendengar gosip yang beredar bahwa sang pangeran ini sebenarnya diusir oleh sang raja karena telah melakukan kesalahan yang sangat besar.
Pada dasarnya mereka bersedia ikut dan sampai berada di sini itu karena perintah langsung dari eselon atasan mereka di kemiliteran. Namun, karena sekarang sang pangeran dapat menjamin mereka tidak mendapat hukuman, pastilah mereka mengambil kesempatan itu untuk bisa kembali. Lagipula, tidak ada untung mengikuti seorang pangeran terbuang dan tinggal di perbatasan. Dan juga melihat bagaimana para pesuruh pangeran itu membunuh tanpa berkedip, itu membuat mereka semakin yakin untuk memilih kembali.
"Kalau begitu, aku memberi salam perpisahan kepada Pangeran." Salah seorang prajurit berkata seraya memberi hormat kepada Mavis, lalu membalik kudanya meninggalkan yang lain.
"Terimakasih, Pangeran."
"Salam kepada Pangeran, semoga Pangeran selalu diberkati."
Lebih dari sepertiga jumlah pasukan berkuda meninggalkan tempat itu dengan langkah cepat. Mereka memacu kuda seakan takut kalau Mavis akan memanggil mereka lagi karena berubah pikiran.
Mavis pun yang melihat itu hanya bisa menghela napas berat.
"Kalian masih memiliki sedikit waktu untuk pergi." Mavis berbicara dengan tenang kepada belasan prajurit yang masih berdiam di atas kudanya.
"Pangeran, aku bersedia mengikutimu ke manapun. Suatu kehormatan untuk bisa melayani Pangeran," kata salah seorang prajurit dengan nada bersemangat. Ketika Mavis menoleh untuk melihat, dia sedikit linglung karena prajurit itu sebenarnya adalah seorang wanita!
Sangat jarang seorang wanita di dunia ini bersedia menjadi prajurit. Mereka pasti akan terus menjalani kehidupan yang sangat berat, yang tidak seharusnya dilalui oleh seorang wanita. Itu membuat Mavis tertarik dengan prajurit itu dalam sekali lihat.
"Siapa namamu?"
"Namaku? Pangeran benar-benar menanyakan namaku? Ah, Pangeran dapat memanggilku Velinka," kata prajurit wanita itu dengan wajah berbinar-binar. Dia terkejut dan hampir tidak percaya karena dia telah berhasil merebut perhatian dari sang pangeran.