
Berakhirnya sore itu ditutup dengan bergabungnya Iblis Lily melengkapi makhluk panggilan milik Mavis. Segala sesuatunya berjalan dengan lancar, selepas mereka pergi meninggalkan bangunan itu, Mavis berjalan menuju tempat peristirahatannya disusul para pelayannya. Sementara Lily masih tinggal dan memanggil Earl Edward untuk membicarakan sesuatu di dalam.
"Apa!"
"Nona, apa kamu serius?" Dengan wajah tak santai, bangsawan itu tersentak kaget setelah mendengar pernyataan aneh gurunya itu, tidak masuk akal!
Lily hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
"Mengapa tiba-tiba?" Earl Edward jatuh dari kemalangan, dia benar-benar tidak ingin gurunya itu meninggalkan dia.
"Nona, aku...."
"Mm?"
Lily tertawa kecil melihat pria dihadapannya, bangsawan itu membuat ekspresi jelek seperti anak ayam yang baru lahir ditinggal induknya.
"Berhentilah merengek, Ed. Kau tidak bisa menahan aku di tempat ini. Sekarang aku memiliki tujuan baru, itu sesuatu yang tidak bisa aku beritahukan padamu."
Earl Edward jelas paham tentang hal itu, dia sudah bertemu dengan teman-temannya dari ras kuno yang sama. Mereka pasti memiliki sebuah tujuan besar yang hanya dari mereka yang tau. Akan tetapi sesuatu terus mengganjal dihatinya, itu tentang pilihan Lily yang akan mengikuti pangeran kecil itu. Earl Edward berpikir realistis, jika gurunya itu mengikuti sang pangeran, bukankah tidak ada bedanya seperti menjadi seorang pengikut ataupun pelayan?
"Lagipula aku sudah tidak dibutuhkan di sini. Sekarang, kamu seorang diri sudah lebih dari cukup untuk bertahan hidup."
"Itu tidak benar, Nona."
Lily tersenyum.
Memandang pria dihadapannya seketika membalik lembaran ingatannya. Sekilas dia melihat sosok samar anak kecil yang dulunya periang pada dirinya.
"Jaga dirimu baik-baik." Selepas mengucapkan kalimat itu, Lily berjalan dengan langkah tenang pergi meninggalkan ruangan.
Berada masih di dalam ruangan sebelumnya, Earl Edward menghela napas berat seakan tidak berdaya melepas kepergian. Bukan sesuatu yang berlebihan, itu karena dia sudah menganggap Lily sebagai walinya, sosok yang membesarkannya, sosok yang mengajarkannya untuk bertahan hidup, sosok yang mengajarinya dalam meracik obat-obatan, dan yang lainnya.
"Dia tersenyum setelah sekian lama aku tidak melihatnya. Sepertinya aku harus berusaha mengikhlaskan dia pergi," kata Earl Edward dengan senyum pahit di wajah, kemudian dia pergi meninggalkan bangunan itu.
Malam telah tiba dan suhu dalam ruangan tempat Mavis beristirahat semakin turun, membuat dia terbangun dari tidurnya. Mavis memulihkan pandangan mata dan duduk sejenak di atas ranjang. Dia menggigil dan refleks melingkarkan tangan di pinggang sambil melirik ke arah luar jendela.
Dia beranjak dari kasur dan menuju jendela kamar itu. Dia melirik ke arah luar dan melihat jalan-jalan di tanah lapang itu sudah sangat sunyi, dan lampu-lampu dari bangunan-bangunan rumah warga terdekat sudah gelap.
"Sepertinya ini udah larut malam." Mavis memegang perutnya dan merasakan lapar dari dalam sana.
Sebenarnya dia hanya berniat membaringkan tubuh sebentar di kasur sehabis pergi berkeliling ke segala penjuru pemukiman ini, itu setelah Lily datang menghadap. Pada saat itu dia kelelahan dan berniat untum istirahat, tapi dia tidak menyangka akan kebablasan tidur dan melewatkan makan malam.
"Kalian juga, mengapa tidak membangunkan aku?" Dengan wajah datar dia mengirimkan pesan telepati kepada para makhluk panggilan dalam bayangan.
"Kami tidak berani, Tuan," kata Bulan.
"Tuan terlihat kelelahan, aku tidak berpikir untuk membangunkan Tuan." Samantha berkata dengan tenang.
"Hehehe, Tuan sangat menikmati tidurnya, aku tidak berani menggangu," kata Bintang dengan suara cekikikan.
"Tuan...."
Ah, sudahlah.
Belum selesai Becca mengirimkan pesan telepati, Mavis memutuskan komunikasinya dengan mereka. Itu semua karena mood-nya sedang tidak bagus, dia memilih untuk lanjut tidur saja. Tentu, Mavis tidak tau kalau Becca dan dua lainnya sudah kembali pada saat Mavis tertidur sebelumnya, kalau tidak dia akan langsung bertanya tentang kondisi balasan dari kekaisaran tentang pesan yang dititipkan. Dia pun membaringkan tubuhnya di kasur dan menatap langit-langit kamar. Matanya memberat dan dia melanjutkan mimpinya.