
Kedatangan Mavis disambut oleh banyak pasang mata di ruangan itu. Sang Raja yang hadir di ruangan terlihat tengah memeluk dengan sangat erat Ratu Lilian. Sang Raja benar-benar bahagia dan bersukacita setiap kali memandang wajah sang ratu, dia mengecup kening sang ratu sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Mavis berada.
"Datanglah." Sang Raja berkata dengan senyum bangga kepada Mavis.
Bagaimanapun Sang Raja telah mendengar apa yang terjadi dari pelayan sang ratu, Hina. Menurut keterangannya, Lily merupakan ahli penyembuh yang dibawa oleh Pangeran Asta sehari yang lalu. Sang Raja benar-benar berterimakasih kepada anaknya itu. Juga, ini kali pertamanya sang pangeran menunjukan sesuatu yang baik padanya, setelah semua kelakuan sang pangeran yang selalu buruk dan membuat malu dirinya. Sekarang sang raja yakin sang pangeran telah berubah menjadi anak yang bisa membanggakan dan dia bisa tenang jika ingin menjadikan anaknya itu seorang penerus nantinya.
"Asta, anakku."
Lilian memeluk Mavis dengan sedikit isak tangis kebahagiaan. Dia merasa sangat beruntung bisa melihat anaknya itu lagi, anak yang paling dia sayangi.
Perasaan yang tulus datang dari seorang ibu keada anaknya, Mavis yang merasa sentuhan hangat itu ikut terbawa emosi dan di merasa bahagia. Dia membalas memeluk ibunya itu, berlama-lama memeluknya. Ini pertama kalinya dia bisa merasakan sentuhan dari hangatnya seorang ibu, mengingat kembali di kehidupan Mavis yang sebelumnya dia adalah anak yatim piatu yang diurus oleh paman dan bibinya.
"Selama aku tidak ada, kamu tidak membuat masalah untuk ayahmu, kan?" Lilian bertanya sambil melepas pelukannya, lalu dia melihat anaknya itu dengan serius.
"Ayolah Bu, apa aku terlihat seperti anak yang sering membuat masalah?" kata Mavis.
"Tidak, tidak, dia sangat baik saat kamu sedang terbaring di sana." Sang Raja menarik tubuh Mavis dan merangkulnya dari belakang, dia terkekeh pelan dan tampak bahagia di wajahnya.
Sang Ratu melihat dengan seksama Mavis sambil tersenyum menggoda, "Kamu tidak bisa membohongi ibumu, Asta."
"Itu hanya masalah kecil, dia sudah menjalani hukumannya. Dan sekarang dia sudah berubah menjadi anak yang baik, Sayang," kata Raja Cornelius.
"Oh ya, aku ingin bertanya. Bagaimana kamu bisa bertemu dengan seorang ahli penyembuh?"
Diam-diam Raja Cornelius berkata pelan dan menanyakan informasi tentang Lily. Sang Raja tampak antusias dan penasaran tentang keberadaan tokoh hebat seperti dia. Yang lebih mengejutkannya lagi, anaknya itulah yang mendatangkan Lily ke tempat sang ratu, tanpa mengabari sang raja terlebih dahulu untuk meminta izin.
"Yang Mulia, jika aku tiba-tiba datang kepadamu dan berkata bahwa aku membawa seorang ahli, apa kamu akan percaya?" Mavis dengan tenang menjawab.
Kemudian Mavis berjalan mendekat ke arah kelompoknya yang sedang berkumpul di sudut lain ruangan itu.
"Yang Mulia, perkenalkan mereka adalah para pelayanku." Mavis bertingkah sepeti anak bocah yang ingin terlihat keren. Kemudian dia melanjutkan, "Kalian, beri hormat kepada ayah dan ibuku."
"Hormat kami kepada Yang Mulia Raja dan Ratu." Para makhluk panggilan itu dengan tulus memberi hormat dengan sedikit menunduk dan memposisikan tangan berada di dada.
Sejenak sang raja dan ratu terdiam melihat keanehan di hadapan mereka.
"Nak, kamu benar-benar berhasil mengejutkanku." Sang Raja terkekeh, dia melihat sejenak ke arah sang ratu dan kembali menatap Mavis, kemudian dia melanjutkan, "Aku tidak akan bertanya bagaimana cara kamu bertemu dengan mereka dan dalam kondisi seperti apa. Aku hanya senang melihatmu yang sekarang, kamu telah tumbuh menjadi anak yang akhirnya bisa aku banggakan." Sang Raja merangkul sang ratu dan bersama menatap anak mereka dengan bangga.
"Jika Yang Mulia terus berkata hal-hal seperti itu, aku benar-benar akan menjadi besar hati nantinya," kata Mavis.
Mereka pun mengobrol dengan riang di dalam ruangan itu. Pembicaraan hangat dalam keluarga yang sesungguhnya, Mavis benar-benar senang. Namun, itu tidak bertahan lama sampai beberapa orang datang mengunjungi ruangan tersebut. Berada dalam barisan yang datang, satu yang paling membuat Mavis menjadi begitu kesal ketika melihat sosok Selir Juleaha. Wanita itu datang bersama Reus disisinya.
"Selamat Yang Mulia, atas kesembuhan Ratu Lilian," kata Selir Juleaha, dia berubah menjadi rubah licik yang mana berpura-pura ikut bahagia atas kesembuhan sang ratu. "Apa aku mengganggu obrolan kalian? Aku segera ke sini begitu mendengar kabar baik dari para pelayanku."
"Yang Mulia, ada hal penting lain yang harus aku beritahukan padamu," kata Mavis.
"Oh, apa itu?"
"Ini tentang penyebab penyakit yang diderita ibuku. Dia telah diracuni oleh seseorang, Yang Mulia harus menemukan orang itu."
"Diracuni? Tapi para tabib istana berkata penyakit yang dideritanya merupakan sesuatu yang langka," kata Raja Cornelius.
"Ya, apa Pangeran Asta meremehkan kemampuan kami para tabib?" Beberapa orang yang datang bersama Selir Juleaha berkata dengan tidak senang.
"Cukup berkata omong kosong, kalian bahkan masih berani mengelak di depan seorang ahlinya di sini?" kata Mavis dengan lugas, dia melirik ke arah Lily untuk menyuruhnya membuka mulut.
"Apa yang dikatakan Tuanku benar, Yang Mulia Ratu Lilian telah diracuni oleh darah serangga Rangrang yang pernah kami temui di kedalaman dungeon. Pada dasarnya racun ini tidak begitu berbahaya, hanya saja itu akan menjadi serius ketika terus berada di tubuh inangnya, itu akan membunuh secara perlahan jika tidak segera dikeluarkan atau dinetralkan," kata Lily.
"Dia berbohong! Itu benar-benar penyakit langka! Bahkan kami para tabib belum menemukan penawar untuk penyakit tersebut! Hanya dengan bantuan madu dari Bunga Kamojia yang bisa menyembuhkan semua penyakit yang bisa!" Salah satu tabib wanita berkata lancang dengan ekspresi memburuk.
"Oh? Lalu mengapa dia bisa menyembuhkan sang ratu?"
"Dia... dia pasti yang berada dibalik semuanya! Hanya dia yang memiliki penawarnya! Dia yang menyebabkan sang ratu jatuh sakit!"
"Beraninya!" Bintang melepaskan aura mematikan dan langsung dirasakan oleh setiap pasang mata di sana. Mavis segera mengirimkan pesan melalui telepati kepada semuanya untuk tetap menjaga ketenangannya. Sementara itu, Raja Cornelius yang terkejut akan aura yang dikeluarkan Bintang, menjadi serius. Sang Raja yakin betul mereka bukanlah orang biasa yang tidak seharusnya diprovokasi, begitu pula dengan ahli penyembuh bernama Lily yang telah menyembuhkan sang ratu.
"Penjaga! Tangkap semua tabib yang berhubungan dengan kesehatan Ratu!" kata Raja Cornelius.
"Tunggu... Yang Mulia, kami tidak bersalah... mereka yang berbohong!" Melihat para penjaga yang berada di ruangan itu berjalan mendekat ke arah mereka, para tabib mulai panik dan ketakutan.
"Lepaskan! Yang Mulia, kami tidak bersalah, Selir Juleaha, selamatkan kami!"
"Apa kalian masih berani meminta tolong? Kalian pantas mati karena telah mencelakai Ratu Lilian!" Dengan wajah jelek dan keringat bercucuran Selir Juleaha berusaha terlihat netral dan memaki para tabib.
"Nyonya!"
"Tapi Nyonya yang...."
"Tutup mulut kalian! Penjaga! Cepat bawa mereka pergi dan beri hukuman mati!" Selir Juleaha panik dan berteriak marah.
"Tidak perlu untuk terburu-buru membunuhnya. Yakinlah, mereka akan mendapatkan hukuman yang layak. Hanya saja mereka masih harus memberikan keterangan mengapa mereka melakukan hal itu kepada Ratu. Seperti kata pepatah, tidak akan ada asap jika tidak ada api. Seseorang pasti telah memberi perintah dari balik bayangan, cepat atau lambat itu akan segera terungkap," kata Mavis.
"Ya, kamu benar." Selir Juleaha berkata dengan gugup.
Selir Juleaha terkejut dengan apa yang dilakukan Pangeran Asta. Dia merasa anak yang berada di hadapannya sangatlah berbeda dari apa yang ada diingatannya! Dia yakin, bahwa pangeran yang selama ini dipandang bodoh dan tidak kompeten telah berubah drastis menjadi iblis kecil yang pintar. Seperti bukan pangeran yang biasanya.