
"Tuan, aku sudah sampai."
Kembali dalam perjalanan waktu, ketika Lily menuju kerajaan Baratajaya. Setelah menempuh perjalanan selama tiga minggu lamanya, dia akhirnya dapat melihat samar pemandangan sebuah bangunan di tengah padang pasir itu. Dengan segera dia menghubungi tuannya, untuk mengabarkan bahwa dia telah berhasil sampai di wilayah kerajaan itu.
"Lily?"
"Kau sudah sampai?"
"Secepat ini?"
"Jadi begitu...."
Mavis tidak bisa untuk tidak terkejut begitu pelayannya itu tiba-tiba menghubunginya dan mengatakan sesuatu hal yang seharusnya tidaklah mungkin. Menurut apa yang ada di ingatannya dan buku-buku yang menceritakan benua bagian utara, Mavis tau jelas jarak dari perjalanan wilayah timur ke wilayah utara sangatlah jauh. Itu setidaknya membutuhkan waktu satu bulan penuh bahkan lebih, bila melihat kendaraan yang digunakan Lily sebenarnya hanyalah seekor kuda.
Perlu dipikirkan bagaimana sulitnya dalam perjalanan melintasi padang pasir yang luas. Hanya dengan barang bawaan sedikit yang dibawa oleh Lily saja sudah sangat ajaib bisa sampai di tempat itu tanpa kehilangan tunggangannya. Seekor kuda masihlah butuh yang namanya makanan dan minuman, sangat jarang menemukan sumber mata air di tempat gersang dan penuh pasir itu. Sungguh, itu membuat Mavis salut dengan kemampuannya.
"Tuan, haruskah aku pergi dan masuk sekarang?" Dia menghentikan laju kudanya, sendirian di tengah gurun pasir itu.
Ketika deburan pasir terhempas oleh angin dan membuat rambut wanita itu berantakan, sang pangeran pun menjawab pertanyaan itu dengan antusias.
"Tentu saja. Segera selesaikan tugasmu di Kerajaan Baratajaya dan kembali. Ada beberapa pengaturan yang harus kamu lakukan di pemukiman ini." Setelahnya, tuannya itu terkekeh dan memutuskan telepati keduanya.
Lily pun menajamkan mata melihat ke arah depan, seraya memacu tunggangannya pergi. Membawa dirinya menuju bangunan jauh di depannya itu.
Tak berselang lama, berada di sisi benteng utama kerajaan, seorang penjaga dengan linglung berteriak begitu melihat kemunculan seorang penunggang kuda dari balik kabut pasir. Para penjaga lain yang heran segera mengirimkan pandangan skeptis kepada penjaga yang berteriak barusan.
"Ada apa?" tanya salah seorang penjaga dengan nada tidak senang. Sebelumnya dia baru saja hendak memejamkan mata untuk beristirahat sejenak, akan tetapi itu dia urungkan begitu mendengar teman sesama penjaganya berkata bahwa dia telat melihat seseorang! Ya, seorang penunggang kuda yang tengah bergerak menuju benteng utama kerajaan.
Sangat konyol!
Dalam hati penjaga itu pun membatin, apakah temannya ini sengaja ingin mengerjainya? Mana mungkin juga ada yang berpergian seorang diri di tengah padang pasir yang sangat berbahaya? Kecuali orang itu memanglah bodoh diantara orang bodoh lainnya.
Apa yang perlu diketahui bahwa gurun pasir di tempat itu bukanlah hamparan luas yang gersang semata! Tempat itu adalah tempat yang berbahaya bagi manusia biasa yang tidak berkemampuan.
Serangga penghisap darah pun sebenarnya tidaklah terlalu kuat. Bagi petualang berlencana hijau dan di atasnya itu seharusnya tidaklah sulit dalam mengalahkan satu di antara mereka. Hanya saja, apa yang akan dilakukan ketika para serangga penghisap darah itu datang menyerang secara masal?
Perlu diketahui serangga penghisap darah merupakan serangga yang selalu berpergian secara berkelompok. Ketika datangnya satu serangga penghisap darah di permukaan, itu berarti yang lainnya tengah bersembunyi dan menunggu waktu yang tepat untuk muncul.
Meski dia tidak percaya, penjaga itu tidak berani untuk melalaikan tugasnya. Dia pun segera melihat ke arah di mana teman penjaganya itu tuju. Tak lama, alangkah terkejutnya dia ketika melihat sesuatu tengah bergerak di antara kabut pasir dan itu memang seperti seseorang yang sedang menunggangi kudanya seorang diri!
Lelucon macam apa ini? Penjaga itu terperangah dan segera mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Segera beritahukan pasukan militer untuk pergi melihat." Seorang penjaga lain datang menaiki tangga menara dan berkata kepada keduanya.
"Tuan, itu...." Melihat reaksi dari keduanya yang langsung mengambil posisi membungkuk hormat, menandakan bahwa penjaga yang baru datang itu merupakan atasannya.
"Tunggu apa lagi?"
Kedua penjaga itu pun dengan gugup segera menghilang dari puncak menara, pergi untuk melapor ke departemen kemiliteran. Mereka paham, sepertinya orang yang sebelumnya mereka lihat tidaklah sesederhana yang mereka pikirkan, sampai-sampai kepala penjaga dinding menyuruh keduanya untuk cepat memberitahukan pada kemiliteran, itu membuktikan bahwa orang yang sedang bergerak ke arah benteng merupakan seorang yang berkemampuan. Entah apa tujuannya yang pasti akan sangat serius.
Sampailah di depan kantor kemiliteran, dengan napas yang susah kedua penjaga menara itu segera menyampaikan pesan kepalanya. Prajurit yang bertugas menjaga pos pengaduan militer pun membulatkan mata mereka sesat, kemudian mengangguk sebagai jawaban.
"Tunggulah di sini, aku akan pergi memberitahu komandan," kata penjaga itu dan segera berjalan pergi.
Keduanya pun menunggu prajurit itu kembali, akan tetapi ketika mereka tengah melamun seseorang datang menghampiri keduanya dan bertanya, "Kalian, bukankah para penjaga dinding?"
Dengan pandangan skeptis, pria itu melihat ke arah kedua penjaga. Kemudian dengan heran dia melanjutkan, "Mengapa kalian berada di sini?"
Kedua penjaga awalnya tertegun, tapi buru-buru memberi salam penghormatan setelah menyadari identitas sebenarnya dari orang itu.
"Pangeran! Ternyata kau di sini rupanya!" Seorang wanita yang terlihat sedang berlari berseru kepada pria itu dari arah kejauhan. Sesampainya, dia segera membungkuk dan memegangi lututnya seraya mencoba mengatur kembali napasnya yang tersengal-sengal.
"Pangeran, ini ... kami hanya datang untuk menyampaikan pesan dari kepala penjaga dinding."
"Benar, Pangeran. Seseorang secara misterius telah muncul dan bergerak dengan tunggangannya," kata salah seorang penjaga lainnya yang ikut menambahkan. Dia benar-benar tidak ingin membuat pria itu salah paham dan mengira bahwa keduanya telah melalaikan tugas.