
Mavis mengangguk puas, dia tidak bisa untuk tidak tersenyum melihat para makhluk panggilan yang berbaris di hadapannya. Dia telah selesai membangkitkan Barok dan petualang Weyan. Meskipun Mavis pada awalnya ragu untuk membangkitkan Weyan--karena dia tidaklah begitu kuat, hanya sebanding dengan Ivar--akan tetapi dia memutuskan untuk tetap melanjutkan. Lagipula, batas ruang kemampuannya dalam mengekstrak bangkai telah bertambah, dia masih bisa menerimanya.
"Kalau begitu, Barok dan Weyan, aku memiliki tugas pertamamu. Bereskan kekacauan di sini dan jangan meninggalkan jejak. Dan untuk Mikaela, kamu tetap di sini dan terus mengawasi keduanya," kata Mavis dengan sedikit tersenyum.
Ini seperti lelucon di kehidupan Mavis sebelumnya. Ritual yang biasa dilakukan seseorang yang baru bergabung dalam sebuah grup, harus menjalani tugas berat dari senior-seniornya. Tapi sedikit berbeda di sini karena Barok dan Weyan tampak begitu senang dan bangga begitu Mavis memberikannya tugas. Itu membuat segala sesuatunya menjadi begitu membosankan bagi Mavis.
Pada akhirnya Mavis membawa yang lain pergi kembali ke kediamannya dan berpisah dengan Mikaela dan dua lainnya. Mavis berniat untuk beristirahat dari aktifitas seharian yang begitu menguras tenaga. Malam itu berlalu dengan sunyi. Berada di ruangan Bar Hammer, Mikaela dengan tenang melihat Barok dan Weyan bekerja dengan antusias.
Hampir semalaman mereka membersihkan tempat itu sampai seluruh tempat bersih dan tidak meninggalkan sebercak darah bekas tabib kerajaan. Begitu juga dengan jasad sang tabib, Weyan telah membakarnya dan menjadikannya abu, kemudian dia membuangnya ke tanah lapang, membiarkan abu itu terbang bersama dengan angin malam.
Begitu pekerjaan keduanya telah selesai, malam telah berganti menjadi pagi, tinggal beberapa saat lagi matahari akan segera muncul. Mikaela pun memberi instruksi kepada keduanya untuk mengikutinya, ketiganya menyusul ke tempat di mana kediaman Mavis. Tanpa beristirahat, mereka masih dalam keadaan primanya dan bergerak dengan gesit. Perlu diketahui, sebagai makhluk panggilan mereka tidaklah butuh istirahat. Tak butuh waktu lama bagi mereka tiba dengan cara mengendap dan masuk ke dalam kamar Mavis. Ketiganya lalu bergabung dengan rekan yang lain di balik bayangan tuannya.
Pagi menjelang dan Mavis membuka matanya dengan enggan. Dia melirik langit-langit kamar dengan mata menyipit, sinar matahari yang masuk melewati celah celah kamarnya telah membuat ruangan itu menjadi terang. Mavis mengangkat tubuhnya dan bersandar pada bantal di punggung. Dia sejenak mengumpulkan nyawa. Dia menggerakkan tubuhnya dan sendi-sendi miliknya berbunyi.
"Mikaela, apa kalian sudah kembali?" Mavis mengucek matanya sambil mengirimkan pesan melalui telepati.
"Ya, Tuan," kata Mikaela.
"Bagus."
Samantha dengan segala kemampuan pengelihatannya bahkan tidak memiliki kehendak sang pencipta untuk mengetahui keberadaan keduanya.
"Apa keputusanku salah mengirim mereka ke luar?" Mavis tiba-tiba berpikiran andai saja dia tidak terburu-buru mengirim keduanya pergi untuk mengumpulkan rekannya yang tersebar, dia pasti tidak akan bingung seperti sekarang ini.
Jika saja dia mengirimkan kedua iblis itu pergi setelah dia membangkitkan keduanya, mereka pasti bisa bertukar informasi melalui telepati. Bodohnya Mavis karena dia berpikiran akan menjadi efektif jika semuanya berjalan beriringan.
"Tuan, aku ingin melaporkan sesuatu." Tiba-tiba terdengar suara di kepala Mavis, benar itu suara miliki Lily.
"Oh? Bagaimana perkembangannya?" kata Mavis, wajahnya menjadi begitu cerah dan dia tersenyum.
"Kamu harus melihatnya sendiri, Tuan. Sang Ratu telah terbangun dari tidurnya. Apa aku sudah bisa kembali?"
"Tidak, tunggu saja aku di sana. Aku akan pergi ke sana sekarang juga bersama yang lainnya." Mavis berkata dengan penuh semangat dan matanya berbinar.
"Dimengerti."