
Malam itu rombongan yang datang dari ibu kota telah sampai di dalam pemukiman. Disaksikan oleh banyak pasang mata warga setempat yang pada saat itu sedang berlalu lalang, kereta dengan lambang kerajaan itu berjalan melewati mereka. Disusul dengan para prajurit berpakaian lengkap, menunggangi kuda menyusul dari arah belakang kereta itu.
Para warga berhenti sesaat dengan tangan mengepal menyaksikan kereta itu hendak melewati mereka. Tatapan sinis mereka lemparkan dan beberapa bahkan meneriaki kedatangan rombongan itu dengan nada provokasi.
"Lihat, para bayingan ini datang setelah Nona Lily menyelamatkan kita. Bukankah mereka tidak punya malu? Mereka menelantarkan kita sebelumnya, mereka memandang jijik kita karena wabah penyakit itu! Bahkan sang raja dengan sangat tercela membuang Pangeran Daryl yang mana darah dagingnya sendiri!"
"Bukankah Yang Mulia keterlaluan? Dia benar-benar membuangnya?" Salah seorang warga lainnya menanggapi teman di sebelahnya itu.
"Ya, tentu saja! Ke mana saja kamu selama ini? Ah, kalau begitu biar aku beritahu, dengarkan ini baik-baik, tuan yang datang sebulan yang lalu itu adalah Pangeran Daryl! Saudaraku yang bertugas di mansion Earl Kiril telah mengkonfirmasi kebenarannya. Pangeran Daryl terkena penyakit yang sama seperti kita sebelumnya, oleh karena itu dia diasingkan ke tempat ini bersama para pelayannya."
"Sungguh, aku jadi membenci eselon atas kerajaan. Beberapa hari ini aku bahkan mendapatkan kabar kalau Nona Lily sempat diusir dari ibu kota! Mereka sebenarnya bersikap kasar kepada Nona Lily! Bagaimana jika pada saat itu Nona Lily sakit hati dan enggan untuk menyelamatkan kita?"
"Kamu bicara apa! Nona Lily memiliki hati seperti Dewi! Dia sangatlah bijak dan baik hati, meski eselon atas kerajaan tidak menerimanya Nona Lily akan tetap menyelamatkan kita," kata warga itu dengan nada bersukacita.
Kembali di tengah jalan itu, kereta yang membawa sang pangeran dan Ingrid mendapatkan sambutan meriah dari para penduduk. Pada kenyataannya itu bukanlah sambutan yang baik, tapi sambutan buruk dan sangat buruk. Para warga bukan hanya mencaci maki dan mengusir kedatangannya, tapi juga melemparkan kerikil dan pasir ke arah kereta itu, hingga bunyi benturan terdengar dari dalam dan membuat sang pangeran terkejut.
"Pergi kalian!"
"Brengsek, aku tidak sudi melihat kalian!"
"Kehancuran Baratajaya!"
"Enyahlah!"
Suara memekakkan telinga terdengar silih berganti sebagai bentuk hujatan dari para penduduk. Mereka yang memiliki kebencian mendalam terhadap pihak kerajaan, meluapkan semua kekesalan mereka terhadap rombongan yang baru saja tiba di tempat itu.
"Mengapa mereka berbuat sampai sejauh ini?" Sang pangeran berkata sambil mengerutkan kening.
Dia hendak membuka jendela kereta untuk melihat kondisi di luar. Namun, sebelum itu terjadi Ingrid segera menahan jendela itu agar tidak bisa dibuka oleh tuannya itu.
"Pangeran, apa kamu tidak dengar suara benturan itu?" Ingrid bertanya dengan wajah malas. Sesaat keduanya terdiam dan mencoba saling mengerti.
"Ya, aku dengar."
"Kalau begitu mengapa Pangeran masih ingin membukanya? Itu sangat berbahaya, Pangeran! Mereka akan menghujani kita dengan banyak batu kerikil!" Ingrid membalas dengan nada sedikit tinggi.
"Lalu, apa aku harus tinggal diam ketika mereka bahkan menjelekan Yang Mulia Raja? Mereka harus mendapatkan hukuman gantung karena telah berbuat tidak sopan kepada raja!"
"Tenanglah, Pangeran. Kamu benar-benar tidak menyadarinya? Ini bukan hanya menyangkut satu atau dua orang saja, saat ini seluruh warga pemukiman ini memiliki kebencian besar terhadap pihak kerajaan di ibu kota! Menurutmu, apa itu perlu mengeksekusi seluruh warga?"
"Pangeran, hampir seluruh warga kerajaan di pemukiman dan benteng lain pasti juga memiliki protes yang sama terhadap pihak kerajaan, kamu tau betul apa yang telah dilakukan eselon atas kerajaan dengan menghilangkan akses masuk ke ibu kota. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk saat ini, Pangeran." Ingrid menghela napas begitu selesai menceramahi tuannya itu.
Pangeran Arslan pun berdecak kesal dan memilih untuk kembali diam. Menatap wajah Ingrid yang serius, dia sendiri menyadari apa yang dikatakan bawahannya itu ada benarnya.
Kereta itu pun terus berjalan dan tiba di kediaman penguasa tempat itu. Dengan langka hati-hati Ingrid turun terlebih dahulu sambil melirik ke sekelilingnya, takut-takut ada warga yang mengikuti dan berniat buruk kepada mereka. Setelah merasa keadaan sepenuhnya aman, dia mempersilahkan Pangeran Arslan untuk turun.
"Lihat, bukankah mereka dari pasukan kerajaan ibu kota?" Hanya dalam sekali lihat penjaga yang saat itu berdiri tak jauh dari gerbang mansion segera menyadari kehadiran orang penting kerajaan. Mereka pun saling melirik dan mengkonfirmasi kebenarannya. Kemudian keduanya berjalan mendekat untuk menyambut tokoh penting yang hendak turun dari kereta itu.
"Salam, apakah Tuanku ini sudah membuat janji untuk bertemu dengan Earl Kiril? Jika tidak, mohon maaf Tuanku dapat kembali besok. Saat ini Earl Kiril tengah kedatangan tamu yang sangat penting," kata salah satu penjaga dengan sikap ramah.
"Lancang! Apa hanya bangsawan kecil berani-beraninya bersikap kurang ajar terhadap Pangeran Arslan? Pangeran tidak butuh izin dari dia, jika Pangeran Arslan memaksa masuk, kalian bisa apa!" Ingrid dengan nada kesal membentak para penjaga itu, sampai-sampai kaki keduanya tidak bisa untuk tidak berhenti bergetar.
"Ma-maaf, Pangeran. Kami tidak memiliki mata untuk mengenali tuannya. Silahkan, kami akan mengantar Pangeran Arslan untuk masuk," kata salah satu penjaga lain, wajahnya tidak santai dan keringat bercucuran di pelipisnya.
Untung saja Pangeran Arslan tidak banyak berkomentar dan mengangguk sebagai balasan, membuat kedua penjaga itu bisa bernapas lega ketika menghantar sang pangeran beserta wanita iblis yang suka mengomel itu.