
"Kamu yang di sana, ke marilah!" Seorang wanita berpakaian serba putih yang tengah membawa nampan berjalan mendekat ke arah Yennefer, lalu memanggilnya dengan nada setengah membentak.
"Senior Ha? Apa kamu memanggilku?" kata Yennefer seraya menunjuk dirinya sendiri karena kebingungan.
"Memangnya ada siapa lagi, hah? Apa kamu menganggap aku bodoh karena berbicara sendiri?"
Berada di ruangan besar tempat anak-anak berkumpul dan menyantap makanan, Yennefer yang duduk di meja paling pojok dihampiri oleh tiga orang wanita. Berdiri pada barisan terdepan, wanita itu bernama Hana, murid senior angkatan ke dua belas di kuil suci. Perawakannya tinggi, dengan rambut terurai berwarna coklat, serta memiliki alis yang tebal, membuat ciri khas nampak pada dirinya sebagai senior yang terkenal galak.
"Ba-baik."
Yennefer pun segera bangun dari keterkejutan, kemudian menghampiri Hana dan dua seniornya itu. Sedikit muncul perasaan curiga dalam pikiran Yennefer tentang niat buruk yang disembunyikan seniornya itu. Terlebih setelah dia melihat tatapan remeh dan bengis datang dari dua temannya. Sejenak dia berpikir, apa dia telah secara tidak sengaja memprovokasi para seniornya?
"Ada perlu apa, Senior Ha?" kata Yennefer.
"Kepala Renald menyuruh aku untuk memberimu ini." Setelahnya Hana menyerahkan nampan yang di atasnya berisikan banyak roti keras itu kepada juniornya. "Berikan makanan ini kepada para tahanan, aku akan menunjukan jalannya kepadamu."
"Kepala Renald memberikan tugas ini kepadaku? Baiklah, aku akan melakukan tugas ini dengan senang hati. Maaf bila aku merepotkan Senior."
"Tidak perlu berterimakasih, lagipula aku hanya membantumu karena Kepala Renald yang memintanya."
Hana dan dua kawannya kemudian berjalan terlebih dahulu, disusul oleh Yennefer yang melihat ketiga punggung itu dari belakang. Mereka berempat pergi meninggalkan ruangan kantin itu dan beranjak menulusuri lorong yang semakin lama penerangannya semakin meredup. Berjalan cukup jauh, setelah menuruni anak tangga sampai akhirnya mereka tiba di sebuah pintu besi hitam yang terkunci dengan mantra sihir. Kemudian Hana maju mendekati pintu itu dan segera menggerakkan kedua tangannya seperti sedang melakukan upaya untuk membuka segel pintu itu dengan mantra.
Yennefer diam-diam melirik dari arah belakang, mencoba memahami bagaimana seniornya itu menggunakan mantra untuk membukanya. Pemahaman itu tampak sangat sulit dan rumit untuk dimengerti oleh kebanyakan orang, akan tetapi itu tidak berlaku bagi jenius yang hanya muncul dalam seratus tahun seperti gadis itu. Sangat mudah bagi Yennefer untuk mengingatnya, gerakan dan rapalan mantra yang dilakukan seniornya itu tampak seperti mainan anak-anak baginya.
Setelah beberapa saat waktu berlalu, dengan penuh usaha akhirnya Hana berhasil membuka pintu itu. Kemudian dia menginstruksikan juniornya itu masuk untuk mulai membagikan roti keras yang berada di nampan kepada para tahanan di dalam. Yennefer pun mengangguk, meski memiliki firasat buruk dia mencoba untuk mempercayai ketiga seniornya itu, terlebih tugas ini diberikan langsung oleh Kepala Renald.
"Senior, ada yang ingin aku tanyakan tentang tempat ini...." Yennefer menemukan sesuatu ada yang tidak beres di tempat ini, dia pun membalik badan, berniat bertanya kepada Hana dan dua senior lainnya. Hanya dia menemukan wanita itu menyeringai dengan wajah yang jelek, sebelum pada akhirnya menutup pintu itu.
"Senior Ha! Senior!"
Yennefer menggedor pintu itu berulang kali, tapi tidak ada yang merespon dari luar. Dengan tenaga yang masih tersisa dia mundur beberapa langkah dan mulai merapalkan mantra ke arah pintu itu. Segera, ledakan demi ledakan di arahkan pada pintu itu, akan tetapi tidak ada satupun serangan yang diluncurkannya berdampak pada pintu tersebut. Mantra sebelumnya yang digunakan seniornya untuk membuka pintu bahkan telah dia coba untuk membukanya, akan tetapi tidak lagi mempan.
"Siapapun, tolong!"
Dengan suara lirih Yennefer bersandar pada pintu itu dan perlahan menyusut duduk ke dasar lantai. Dia melihat ke arah depan dengan napas tersengal, kemudian mendapati bahwa jalan di tempat itu lurus jauh dan tampak seperti kegelapan tak berujung. Sementara itu berada di samping kanan dan kiri jalannya, terdapat jeruji besi yang merupakan penjara di tempat itu.
"Mungkinkah aku akan berakhir di tempat seperti ini?" Dalam hati Yennefer tidak percaya bahwa hidupnya akan berakhir dalam keadaan sangat buruk. Terlebih kematiannya tidak diketahui penyebabnya karena apa, dia bahkan tidak mengerti mengapa seniornya itu tega menjebaknya di tempat berbahaya ini. Bodohnya dia sempat berpikir sangat baik menjadi anak yang terpilih di tempat bernama kuil suci ini, akan tetapi dia tidak menyadari bahaya apa yang menunggunya.
Bagaimanapun juga nasi telah menjadi bubur, tidak ada yang perlu disesali. Yennefer pun tersenyum sebelum pengelihatannya perlahan semakin memburuk. Dia sudah pasrah dengan keadaanya dan yakin bahwa dia tidak akan sanggup bertahan lebih lama lagi, maka dari itu dia berniat menutup kedua matanya. Namun, sesuatu yang mengejutkan terjadi tak lama setelah dia menutup kedua matanya.
"Kamu memiliki hati yang bersih, akan sangat disayangkan bila kamu harus mati di tempat buruk seperti ini." Suara itu terdengar lembut di tengah keheningan ruangan, membuat Yennefer kembali membuka matanya karena tidak percaya bahwa ada orang lain di tempat itu.
"Siapa?"
"Siapa aku tidaklah penting, hanya saja mungkin aku satu-satunya eksistensi yang bisa membantumu keluar dari tempat ini. Tidak perlu takut denganku, lagipula dengan keadaanku yang sekarang tidak banyak hal yang bisa kulakukan."
Yennefer perlahan kembali mendapatkan seluruh inderanya dipulihkan. Tubuhnya kembali ringan seakan aura kematian yang merembes ke arahnya tiba-tiba saja tidak dapat menjangkaunya, seperti ada sesuatu dari luar yang melindunginya.
"Terimakasih karena telah menolongku. Bolehkah aku bertanya sebenarnya tempat apa ini?" Yennefer bangkit dan berjalan sembari berbicara dengan eksistensi misterius itu. Dia melirik ke sekelilingnya, lalu mendapati adanya kejanggalan pada semua ruangan di balik jeruji besi itu.
Bukankah ini seperti penjara bawah tanah? Mengapa di dalam masing-masing sekat penjara itu tidak ada penghuninya sama sekali? Di sepanjang jalan Yennefer bahkan hanya terus menemukan tumpukan tulang dan kerangka, alih-alih melihat penampakan manusia atau makhluk hidup lainnya.