
Selepas kepergian anak-anak dari dasar tempat itu, dimulailah kembali pembicaraan rahasia yang hanya diketahui ketiganya. Pria beralis tebal--bernama Paris itu segera beranjak menghadap sang uskup, kemudian dia mulai membuka pembicaraan.
"Uskup Parker, aku ingin melaporkan kondisi para pendeta yang aku tempatkan di masing-masing wilayah utara dan juga barat. Untuk mereka yang berada di wilayah barat, semua berjalan dengan sesuai rencana. Para pendeta di kerajaan-kerajaan kecil telah menarik sejumlah pengikut setia. Para keluarga kerajaan pun telah mendapatkan stok pil darah dari para pendeta, ini hanya menunggu waku sampai mereka membutuhkannya lagi dan kami akan mengendalikan mereka."
"Bagaimana dengan perkembangan di benua utara? Terutama Kekaisaran Tomou dan Kerajaan Baratajaya, apakah para pendeta berhasil melaksanakan tugasnya?" kata Uskup Parker dengan wajah berseri-seri.
Sementara di sisi Paris, dia termenung dan menunduk karena malu. "Ini... Tuan, untuk Kekaisaran Tomou, para pendeta mendapatkan perlakuan buruk oleh masyarakat di sana. Para pendeta didapati menyebarkan keyakinan kami kepada para penduduk dan diketahui oleh para penguasa daerah. Tidak pandang bulu, penguasa tinggi sampai yang terendah menolak mentah-mentah keberadaan kami. Para pendeta itu diseret ke dalam penjara dan mengalami penyiksaan. Namun, Uskup Parker harap tenang, mereka tidak akan membocorkan informasi tentang kami.
"Dan juga untuk Kerajaan Baratajaya, mengenai rencana penyebaran penyakit yang dibebankan langsung kepada kepala cabang yang berada di benua bagian utara, itu mengalami kegagalan secara misterius. Tiba-tiba saja muncul seorang ahli yang dapat menetralkan kemampuan langka dari kepala cabang itu. Sampai saat ini para pendeta sedang menyelidiki identitas sebenarnya dari master penyembuh tersebut. Setelah mendapatkan hasilnya, aku akan segera melapor kepada Uskup."
"Sementara itu untuk kerajaan Quanyu dan kerajaan Lohan, yang masing-masing berafiliasi tingkat satu dan tingkat dua di bagian utara, kami telah berhasil dengan keduanya. Kepala pendeta yang bertugas di kerajaan itu berhasil menjadikan kedua penguasa sebagai bidak, setelah memberikan pil darah kepada kedua keluarga kerajaan."
"Tidak buruk. Selanjutnya, fokuslah dalam mengungkap identitas master penyembuh itu. Akan sangat bagus jika dia bisa bergabung dengan kekuatan kuil suci kami," kata Uskup Parker. Dia sebenarnya sedikit kecewa dengan kinerja bawahannya itu, akan tetapi mau bagaimana lagi? Uskup itu hanya bisa menghela napas berat.
"Baik, Tuan." Paris pun memberi salam penghormatan kepada sang uskup. Kemudian dia mundur beberapa langkah untuk memberi ruang kepada rekannya yaitu Hilton.
Sama dengan apa yang dilakukan Paris, Hilton mulai menyampaikan laporan terbaru tentang perkembangan wilayahnya. Dia bertanggung jawab atas wilayah timur dan selatan. Menurut apa yang baru saja dia laporkan kepada sang uskup, rencana yang telah disusun sedemikian rupa di benua bagian selatan semua gagal. Para pendeta tidak berhasil menghasut pihak keluarga kerajaan dan kekaisaran di tempat itu. Mereka menolak tegas gagasan untuk menyerang wilayah kerajaan para elf, karena para elf memang tidak melanggar kesepakatan awal untuk tidak mengusik ras manusia.
Keadaan tidak jauh berbeda dengan apa yang ada di benua bagian timur. Sebagian tugas yang dilakukan para pendeta selama beberapa tahun ini gagal begitu saja. Hal yang paling mengejutkan di sini yaitu ketika Hilton mendapatkan laporan tentang hilangnya beberapa pendeta di kerajaan kecil di benua timur. Hingga harus mengerahkan kepala cabang untuk pergi melihat dan menyelidiki tentang kasus tersebut.
"Yang menarik, di mana kerajaan kecil itu berada adalah tempat tinggal anak cahaya paling berbakat tahun ini. Dia adalah gadis bernama Yeneffer yang berasal dari Kerajaan Sriwijaya, kerajaan kecil berafiliasi tingkat tiga," kata Hilton dengan pembawaannya yang sangat santai.
Bahkan untuk sekelas Paris yang sedikit lebih baik darinya merasa malu ketika melaporkan kinerjanya di hadapan sang uskup. Namun, itu berbeda seratus delapan puluh derajat dengan apa yang diperlihatkan Hilton sekarang ini. Pria itu benar-benar tidak tau malu! Begitu yang ada dipikirkan Paris terhadap rekan seperjuangannya.
"Kerja bagus, Hilton. Kamu memang benar tentang anak cahaya itu, dia benar-benar talenta paling berbakat di antara yang berbakat. Meski hanya sekilas aku berada di dekatnya, aku sudah bisa merasakan pancaran aura samar dari para dewa dalam tubuhnya."
"Baiklah, kali ini aku tidak akan mempersalahkan tentang kemunduran kamu. Segera susun kembali rencana dan targetkan kerajaan dan kekaisaran lain," kata Uskup Parker seraya menghela napas berat dan menarik lembut jenggotnya yang sudah memutih.
Sungguh ini tidak adil! Dalam hati Paris membatin karena diperlakukan tidak sama dengan Hilton. Padahal jelas-jelas dia lebih baik, akan tetapi sang uskup bahkan tidak memujinya sama sekali. Sama seperti biasanya, Hilton selalu saja menjadi murid kesayangannya. Paris benar-benar sudah sangat muak! Dia pun memberi salam penghormatan kepada sang uskup sebelum mengambil inisiatif untuk pergi meninggalkan tempat itu lebih dulu.
Selepas kepergian Paris, Hilton pun berbicara kepada sang uskup dengan nada yang begitu santai. "Bukankah sudah kukatakan, untuk tidak bersikap terlalu lunak padaku, Ayah?"
"Bagaimana aku bisa melakukan itu kepada putraku sendiri?"
"Pak tua ini, apa kamu benar-benar ingin melihat Paris membenciku?" Dengan terkekeh Hilton bertanya kepada sang uskup.
"Mengapa aku harus perduli padanya? Lagipula, dia hanyalah salah satu bidak caturku yang sewaktu-waktu bisa saja aku singkirkan. Biarlah dia melakukan apa yang dia inginkan. Dan jika dia bertindak keluar dari apa yang sudah menjadi tugasnya, aku hanya perlu membereskannya," kata sang uskup, beranjak pergi menaiki tangga mendahului sang anak.
"Seperti biasanya kau selalu kejam, Ayah." Hilton pun menyusul sang uskup dan berlari sambil terkekeh.
Sungguh malang nasib Paris, apa yang selama ini tidak dia ketahui bahwa sebenarnya alasan dibalik Uskup Parker sangat menganak emaskan Hilton yaitu karena hubungan darah di antara keduanya.