I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 132 : Ras Dwarf



Sehari setelah kedatangan pasukan dari kerajaan sekutu, Raja Cornelius menyambut para tamunya itu dengan perjamuan pesta di malam hari. Suasana meriah seperti biasanya, para bangsawan hadir di tengah perayaan dan bersenang-senang, berbincang ringan sesama kenalan, dengan maksud di belakang menjalin hubungan baik untuk bisnis di antara mereka.


Berdiri seorang diri di balkon luar, seorang pria termenung dengan wajah ditekuk. Tangannya dengan malas menyangga kepalanya, dan ia menatap kosong bulan sabit di atas langit. Terhanyut dengan pikirannya yang melayang merindukan sosok seorang wanita. Sosok yang selalu muncul dalam mimpinya, wanita yang mengisi relung hatinya.


"Salam, Pangeran Arslan, perkenalkan namaku Bernard." Berjalan mendekati pria itu, sang pangeran tertua membangunkan lamunannya.


"Salam, Pangeran Bernard," kata Pangeran Arslan dengan tersenyum paksa. Sesaat dia berbalik untuk memberi salam penghormatan dan kembali membelakanginya, melanjutkan aktifitasnya memandangi langit yang bertaburkan bintang.


Menyebalkan, dalam hati Pangeran Bernard membatin kesal dan mengutuk pria di hadapannya itu. Kalau bukan karena identitasnya yang merupakan seorang pangeran dari kerajaan berafiliasi delapan, dia tidak akan sudi menurunkan egonya untuk mengajak mengobrol terlebih dahulu.


"Sepertinya kamu sangat menyukai langit di kerajaan ini, apa di wilayah utara tidak ada pemandangan yang sama?" kata Pangeran Bernard, mempertahankan sikap tenangnya alih-alih tersinggung karena merasa terabaikan.


"Mungkin kamu tidak tahu, daerah kerajaan kami berada di daratan yang gersang dan dikelilingi gurun pasir yang sangat luas. Ketika malam hari, langit di sana tampak jauh lebih indah dibandingkan di tempat ini."


Pangeran Arslan membalik badannya ke samping dan menatap lawan bicaranya dengan wajah datar, kemudian dia melanjutkan perkataanya, "Sebenarnya, hal penting apa yang ingin disampaikan Pangeran Bernard?"


"Ah tidak, aku hanya ingin mengobrol denganmu saja." Pangeran Bernard mengelak dan buru-buru menjelaskan kepada pangeran itu bahwa sejatinya dia hanya ingin menjalin hubungan baik dengannya saja.


Pangeran Arslan tentu tidaklah bodoh, dia menyadari niat dibalik itu semua, terlebih dia telah mendengar kabar miring dari bawahannya baru-baru ini tentang ibunya yang telah melakukan hal buruk kepada sang ratu. Dengan demikian sudah dapat dipastikan jika Pangeran Arslan memilih untuk menjalin hubungan pertemanan dengannya hanya akan merepotkan salah satu pihak. Pasti Pangeran Bernard ini hanya ingin memanfaatkan koneksinya.


"Kalau begitu, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi." Pangeran Arslan pun memberi salam penghormatan, sebelum pada akhirnya berjalan pergi meninggalkan Pangeran Bernard yang kini tampak jelek dipermukaan. Dia sangat murka, menggertakan gigi dan mengepalkan tinju di balik punggungnya. Kesabarannya telah memuncak, dia benar-benar merasa diabaikan begitu saja seperti sampah yang tidak berguna.


Sementara itu, di tempat yang berbeda terlihat sekumpulan makhluk kerdil tengah membangun sebuah perkemahan di luar dasar lubang. Pada dasarnya mereka merupakan ras dwarf yang muncul dari bawah tanah, lebih tepatnya keluar dari dungeon yang berada di luar perbatasan Kerajaan Osaka.


"Bagaimana dengan laporan mereka yang berpatroli di sekeliling pemukiman? Apa terjadi pertempuran lagi dengan para manusia?" Si dwarf berjenggot lebat itu duduk di depan perapian, mengasah pisau di tangannya seraya berbicara dengan dwarf lainnya yang baru saja tiba di tempat atasannya itu.


"Pemimpin, para manusia itu sombong, mereka bahkan memandang rendah ras kita. Mereka datang hanya bermodalkan peralatan berkualitas rendah, dan lihatlah mereka semua dengan mudah dikalahkan oleh tim patroli yang berjaga di luar pemukiman."


"Ras manusia memang sombong karena banyak dari mereka yang tidak terseret dalam arus peperangan, mereka selamat dari mantra berskala besar saat perang para leluhur. Sudah lama mereka memimpin di daratan utama ini, pantas jika ras rendahan itu menjadi sangat congkak dan merasa berkuasa."


Para dwarf pun bersulang dengan gelas arak mereka masing-masing dan kemudian tertawa bahagia, tidak ada satupun jejak kecemasan muncul pada diri mereka. Pada dasarnya para dwarf itu menikmati kepulangan mereka di benua utama, tempat di mana seharusnya mereka berada. Tempat ini bahkan lebih menakjubkan dibandingkan apa yang diceritakan para penatua mereka terdahulu, tidak seperti alam di mana mereka terkurung sebelumnya yang penuh keterbatasan, di benua utama ini semua yang diingkan dengan mudah didapatkan.


Mereka bersuka cita karena tidak perlu menghabiskan seumur hidup dengan memakan tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan saja, mengingat stok daging di alam tempat mereka berada sebelumnya sangatlah sedikit. Umumnya mereka hanya menyantap daging di saat-saat tertentu saja, seperti hanya saat perayaan atau pesta tahunan mereka. Namun, setelah mereka menemukan jalan kembali ke benua utama mereka tidak perlu khawatir lagi dengan persediaan daging di gudang penyimpanan. Sampai saat ini mereka telah menumpuk setidaknya beberapa ton daging hasil rampasan dari para manusia yang bermukim di wilayah sekitar.


"Dari mereka yang ditangkap, kami berhasil mendapatkan sedikit informasi tentang benua utama ini. Mereka menyebut kemunculan ras kami ini sebagai makhluk penghuni dungeon, makhluk yang telah lama menghilang dari daratan setelah berakhirnya peperangan besar antar aliansi dewa dan iblis."


"Para manusia itu memang sangat licik, mereka mengetahui jelas bahwa ras dwarf kami ini berada pada aliansi yang sama sewaktu membantu para dewa terdahulu memerangi musuh-musuhnya, akan tetapi setelah lama berbagi penderitaan di medan perang, mereka berniat mengusir kami dari daratan ini?" Sang pemimpin dwarf bertanya dengan wajah memerah, dia benar-benar telah banyak meminum arak dan berakhir mabuk di tengah perayaan.


"Pemimpin, bukankah mereka melanggar kesepakatan aliansi? Apakah di benua utama ini sudah tidak memiliki dewa yang mendisiplinkan mereka?" Salah satu goblin lainnya yang mabuk pun bertanya kepada atasannya itu.


"Tidak ada yang tau tentang keberadaan mereka sekarang. Dan satu hal lagi, mengingat hutang leluhur kami kepada salah satu dewa terdahulu telah terlunasi, tidak ada lagi kesepakatan berdamai di antara ras kami dengan para manusia. Katakanlah jika mereka menginginkan api peperangan, percayalah kami lebih dari siap untuk melawan. Kami bukanlah ras yang mudah ditindas!"