
Berada di suatu tempat, di suatu gang jalan yang sepi. Seorang pria dengan pakaian tertutup tengah menunggu pelanggan yang akan dilayaninya. Pria itu adalah pemilik kereta kuda yang akan menjadi kusir dan membawa sang pelanggan malam itu.
"Tuan, akhirnya kamu datang." Pria itu menyambut kedatangan Reus yang saat itu sudah membawa Selir Juleaha dengan pakaian penyamaran.
"Cepat! Aku harus pergi!" Selir Juleaha dengan wajah tertekan tergesa-gesa masuk ke dalam kereta kuda itu. "Reus, di mana Darius! Kau bilang dia sudah menungguku di dalam? Apa yang sedang kamu coba lakukan!"
Begitu masuk, Selir Juleaha menyadari bahwa Reus telah membohonginya. Dia menjadi geram dan berniat untuk keluar dan memaki Reus. Hanya saja sebelum itu terjadi Reus segera menutup pintu kereta dan menahannya agar Selir itu tidak bisa kembali keluar.
"Reus! Apa maksudmu!" Selir Juleaha panik dan juga marah, dia menggedor-gedor pintu kereta itu dan mencoba membukanya.
"Nyonya dapat pergi, aku sudah membantu Nyonya sampai sejauh ini. Namun, jangan bawa adikku lebih jauh lagi. Kuharap Nyonya dapat hidup lebih baik dan berhenti untuk berbuat kejahatan." Reus membalik badan dan menahan pintu itu dengan punggungnya. "Jaga dirimu baik-baik, Selir Juleaha. Sobari, kau bisa berangkat!"
"Berhenti! Apa maksudmu Reus! Turunkan aku!" Kereta itu berjalan cepat dan Selir Juleaha tidak bisa berkata apa-apa setelah melihat sosok Reus menghilang dari pengelihatannya. "Pelayan sialan! Berani-beraninya dia menipuku! Mereka semua sama saja! Sialan! Awas saja, aku akan membuat perhitungan pada kalian!" Dengan tubuh menggigil dia terdiam dan meringkuk di dalam kereta kuda.
Keesokan harinya, sang raja terbangun dan duduk di atas ranjang. Melirik ke arah samping, dia tersenyum ketika melihat wajah cantik sang ratu yang masih tertidur pulas. Keduanya masih terbungkus di bawah selimut, tanpa sehelai pakaian yang dikenakan, sang raja tak bisa berhenti tersenyum ketika mengingat perasan bahagia yang telah kembali ketika malam tadi, sang raja akhirnya bisa melepaskan rindu dengan sang ratu setelah sekian lamanya.
"Aku harus bergegas pergi, sebelum dia terbangun. Lain, aku akan tergoda dan tidak bisa pergi."
Sang raja segera bangkit dan memakai pakaiannya kembali. Dia beranjak melihat cermin untuk melihat apakah penampilannya telah rapih, sesudahnya dia menarik napas panjang dan berjalan keluar dari kamar sang ratu. Pintu terbuka dan Raja pergi bersama dengan pengawalan beberapa penjaga yang saat itu sudah siap menjemput sang raja. Tidak ada Kayle di sana, karena itu masih sangatlah pagi.
"Bawa aku, ke tempat kediamanku." Sang raja menginstruksikan par penjaga untuk mengawalnya kembali. Dia harus segera membersihkan diri setelah berkeringat begitu banyak malam tadi, karena pagi ini dia memiliki jadwal kunjungan ke penjara. Sang raja berniat mencari tahu sampai mana perkembangan dalam mengintrogasi para tabib kerajaan, dia sudah tidak sabar ingin mengetahui siapa tikus yang bersembunyi di dalam rumahnya ini.
Sementara itu, di tempat lain, di kediaman Pangeran Asta.
Mavis mendapatkan kabar dari Darius tentang menghilangnya Selir Juleaha. Terakhir kali yang Darius tahu, dia mendapatkan arahan dari Reus kakaknya untuk menunggu Selir Juleaha di kamarnya, akan tetapi sampai pagi ini Darius tidak menemukan rubah licik itu. Dia sudah bertanya kepada kakaknya, dan Reus berkata bahwa Selir Juleaha telah melarikan diri dibawah pengaturannya. Kini Darius dan Reus telah bebas, dan entah mengapa Darius merasa kasihan pada kakaknya.
Bagaimanapun, Reus tidak sepenuhnya salah. Dia melakukan itu semua selama ini karena paksaan, dia memiliki hutang budi dengan selir itu. Dan ini satu-satunya cara bagi dia dan adiknya untuk melepaskan diri dari ikatan balas budinya, dengan membantu rubah licik itu pergi, itu sudah membayar lunas bantuan apa yang dulu selir itu berikan.
"Sepertinya aku terlalu berpikir yang tidak-tidak. Kematian para tabib itu pasti sudah dipersiapkan wanita itu. Dia benar-benar tau cara menutup mulut pesuruhnya."
Mavis tidak menyalahkan Reus dalam hal ini, lagipula tidak masalah jika Selir Juleaha pergi, itu akan memperjelas bahwa dia memang dalang dibalik semua ini. Juga, rubah licik itu sudah bukan ancaman bagi Mavis, meski nantinya dia akan kembali untuk membalas dendam, Mavis hanya perlu mengusirnya dengan mudah seperti menghempaskan seekor semut malang.
Kabar itu tentu tidak sepenuhnya buruk, dengan bebasnya Reus. Mavis memiliki niatan untuk mengambilnya untuk dijadikan orang kepercayaannya. Terlebih karena Reus merupakan individu yang tulus dan setia, juga dia memikirkan sang adik yang dia sayangi. Darius sudah berada di genggaman Mavis, jika Mavis mengatakan sejujurnya dengan kondisi Darius, Reus pasti akan langsung setuju untuk melayani Mavis. Namun, Mavis belajar dari kesalahan Selir Juleaha terdahulu, dia tidak ingin menarik Reus dengan cara yang salah, dia tidak ingin memaksa Reus untuk melayaninya. Melainkan Mavis sendiri yang akan menunjukan bahwa dia pantas untuk menjadi tuan yang akan dilayaninya.
"Baiklah, lagipula aku sudah lama tertarik dengan Reus, kakakmu itu. Kalau begitu mari kita pergi mengunjunginya, sebelum dia berbicara yang tidak-tidak kepada sang raja." Mavis tau apa yang ada dipikiran Reus, dia sudah menebak pria itu akan berbicara bahwa dialah yang menyuruh para tabib itu. Reus pasti akan menebus dosanya dengan cara itu, juga sebagai upaya agar rahasia Selir Juleaha tersimpan baik bersama dengan kejahatan yang pernah dilakukan Darius juga. Reus benar-benar tidak ingin menyeret adiknya ikut jatuh dalam hukuman.
"Cukup yakin orang yang tulus seperti dia akan cenderung bertindak bodoh, jika sudah menyangkut keselamatan orang-orang yang dia sayangi."
"Terimakasih, Tuan." Darius langsung bersujud ditempatnya, ketika tuannya itu setuju untuk menyelamatkan kakaknya. Meski dia sejatinya sudah memutuskan semua ikatan termasuk ikatan dengan Reus karena sudah menjadi makhluk panggilan Mavis, akan tetapi dia masihlah memiliki perasaan yang mendalam. Tuannya itu pun tidak melarangnya sehingga dia masih menyimpan kenangan baik dengan kakaknya itu.
Seperti halnya yang terjadi pada para makhluk bayangan dari Iblis, meskipun mereka sudah memutuskan ikatan dengan semuanya, tapi perasaan suka, saling menyayangi, dan yang lainnya masihlah tetap ada. Hanya saja itu tetap bisa mereka lakukan ketika Mavis memang menghendakinya.
Berbeda dengan kasus yang terjadi pada Barok dan Weyan, mereka tentu pada awalnya masih memiliki perasaan rumit tentang Kerajaan Menara Kembar ketika pertama kali dibangkitkan. Hanya saja karena dalam hati Mavis tidak menginginkannya, keduanya secara paksa tunduk dan patuh. Keinginan tuannya adalah keinginan para makhluk panggilan seperti mereka. Sekarang, Barok dan Weyan pun benar-benar sudah menjadi orang yang asing dengan Kerajaan Menara Kembar, bahkan jika Mavis menginginkan keduanya untuk membuat keributan di tempat itu, keduanya tanpa berpikir akan langsung pergi sesuai dengan keinginan tuannya.
"Tuan Agung sangatlah bijaksana, bukankah begitu, Sayang?" Berdiri di sisi lain Violet yang berada di barisan yang sama dengan Flint, Ezekiel, dan juga Wed, bertanya kepada Scott yang merupakan kekasihnya. Ibis wanita itu jelas kagum melihat bagaimana Mavis memperlakukan pelayan bayangannya itu dengan sangat baik.
"Ya, Tuanku memanglah yang terbaik. Seperti yang diharapkan dalam mimpiku, bisa melayani Tuanku yang hebat dan selalu berada di sisinya. Aku bertekad akan bekerja keras agar berguna bagi Tuanku. Dengan begitu, aku bisa meminta Tuanku untuk menjadikan aku dan kamu makhluk abadi yang diberkati seperti Mikaela, Bulan, dan yang lainnya," kata Scott.
"Kalian berdua, bukankah kalian berbisik terlalu keras? Dan lagi, pembicaraan macam apa itu? Terlalu berlebihan! Kalian berdua membuat aku malu!" Dalam hati, Mavis berkomentar ketika tidak sengaja mendengar pembicaraan sepasang kekasih itu.