I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 131 : Percakapan Dua Bocah Kecil



Setelah segala sesuatunya dipersiapkan dan pengaturan telah disepakati, keesokan harinya Mavis bersama dengan utusan dari ibu kota pergi meninggalkan tempat itu. Tak lupa, dalam rombongan kali ini ikut serta para anak-anak yang belum memiliki kemampuan untuk bertarung. Para orang tua melepas kepergian putra dan putri mereka dengan berat, mereka mencoba tersenyum dan melambaikan tangan, sementara air mata terus mengalir membasahi pipi.


"Sion, baik-baiklah selama kamu di sana, jangan merepotkan Pangeran," kata Masako kepada sang adik yang sudah berada di atas gerobak kayu besar. Melihat sang adik melipat tangannya di dada, membuat pria itu semakin lega meninggalkan bocah satu itu.


"Kakak tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri." Anak imut itu memalingkan wajah denhan wajah jelek. Sebenarnya dia ingin sekali menangis karena harus berpisah dengan sang kakak, hanya dia malu untuk memperlihatkannya.


Di sisi lain di dalam gerobak yang sama, seorang gadis yang berada pada usia yang sama memperhatikan kedua saudara itu berbincang, sesekali dia tertawa kecil ketika melihat aksi lucu sang adik. Gadis itu sebenarnya adalah Zahard, saat ini terlihat wajahnya lebih segar dan tubuhnya lebih terawat dibandingkan ketika dulu masih mencuri roti.


Mereka pun berangkat, rombongan barisan itu pergi menjauh dari gerbang wilayah perbatasan. Sion berbalik dengan wajah ditekuk, melihat ke arah Zahard dengan wajah ketidak sukaan.


"Mengapa kamu tertawa?" Anak kecil itu cemberut karena merasa gadis di hadapannya sedang menertawakannya. Kau tau, sangat memalukan jika seorang pria dipermalukan oleh seorang wanita. Hanya ini sangat berlebihan bagi anak seusianya untuk mempermasalahkan hal seperti itu, bukankah dia tumbuh dewasa sebelum waktunya?


Zahard menghentikan aksinya dan memandang dengan benar pria kecil itu, kemudian berkata, "Kamu terlihat sangat menyayangi kakakmu. Mengapa juga harus malu mengatakannya, apa kamu tidak akan menyesalinya nanti?"


"Memangnya kamu tau apa!" Sion mendengus kesal dan mengambil posisi duduk di samping Zahard.


Gerobak tempat mereka berdua memang sangatlah sempit karena di dalamnya juga berisikan bekal makanan selama di perjalanan nanti. Mengingat di gerobak dan kereta kuda yang lain sudah tidak ada tempat untuk duduk, mereka mau tidak mau mendapat posisi di gerobak ini.


"Kamu sangat beruntung, masih memiliki saudara yang menyayangimu."


"Dia tidak menyayangiku."


"Tidak, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, kakakmu itu sangat mengkhawatirkan kamu."


"Uh, dia hanya membual! Mengapa dia tidak ikut bersamaku ke ibu kota jika menyayangiku!" Sion berubah murung dan menekuk wajahnya ke bawah. Dia menahan air mata, suaranya gemetar ketika menanggapi gadis imut di sampingnya itu.


"Mengapa semua pria di dunia ini bodoh?" Zahard menghela napas berat ketika melihat bocah di sampingnya itu menahan untuk tidak menangis.


"Apa kamu bilang!"


"Kamu sangat aneh, jangan berbicara lagi denganku!" kata Sion.


"Ayolah, apa kamu tidak ingin mendengar ceritaku? Kalau begitu kamu akan sangat menyesal menolaknya."


"Diam, aku tidak ingin mendengarkan kamu lagi!" Sion menutup matanya dan kedua kupingnya.


"Baiklah, aku akan diam. Hanya saja aku ingin memberitahumu kalau ceritaku ini ada hubungannya dengan sang pangeran. Dia benar-benar pria yang bodoh, mengapa juga repot-repot menolong gadis pencuri roti sepertiku?" Zahard berkata dengan sedikit bergumam, dia tidak bisa berhenti tersenyum ketika mengingat momen sewaktu sang pangeran menolongnya.


Sion terbelalak dan mengguncang tubuh Zahars dengan segera, "Apa yang kamu katakan barusan, ceritakan padaku! Pangeran, apa kamu pernah bertemu dengannya?"


Sion memperlihatkan wajah antusiasnya, matanya berbinar begitu mendengar nama pangeran dalam perkataan Zahard. Perlu kalian ketahui bahwa Sion ini merupakan fans berat sang pangeran! Tidak, tidak, lebih tepatnya pengagum rahasianya! Selama di rumah, Masako, kakaknya itu sering sekali menceritakan kisah tentang kehebatan sang pangeran, kebaikannya, dan segalanya hampir setiap harinya. Kakaknya itu juga menceritakan bagaimana begitu dekatnya dia dengan sang pangeran dan pernah berjuang bersama menggulingkan penguasa bobrok sebelumnya. Tentu, Sion merasa iri dan di permukaan mengatakan bahwa dia tidak peduli dengan cerita kakaknya itu, hanya di belakang dia benar-benar mengagumi sang pangeran layaknya panutan.


"Cepat ceritakan, bagaimana bisa kamu bertemu dengan pangeran?"


"Mengapa kamu tiba-tiba menjadi tertarik? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan, aku harus diam?" kata Zahard seraya melemparkan senyuman miring, mencoba menggoda kawan barunya itu.


"Tidak, tidak, tadi aku hanya membual! Ayolah, ceritakan padaku, oke?"


"Kalau begitu, jadilah temanku terlebih dahulu. Setelahnya baru aku memberitahumu!"


"Baiklah, kita berteman."


"Namaku Zahard."


"Sion."