
"Lapor, Pangeran Gregor." Seorang ahli wanita cantik yang mengenakan pakaian jubah berwarna hijau datang dengan cara tergesa-gesa, kemudian memberi salam penghormatan sebelum pada akhirnya melanjutkan perkataannya. "Pertahanan baris lini tengah telah dihancurkan oleh pihak musuh, aku khawatir melihat bagaimana kekuatan tempur para ahli di sisi mereka, dalam hitungan menit itu akan segera sampai di tempat pertahanan terakhir ini. Mohon Pangeran segera mengambil keputusan untuk mundur bersama beberapa prajurit sebelum mereka datang."
Sang Pangeran mengerutkan kening, pandangannya mengawasi pertempuran yang berada jauh di depan sana. Dia benar-benar tidak menyangka kalau pertempuran ini akan menjadi sesuatu hal yang sangat berbahaya, dia pikir itu akan menjadi semudah membalikan telapak tangan. Secara dia memiliki pasukan yang berasal dari aliansi tiga kerajaan, dan itu berjumlah tiga kali lipat dari pasukan yang dimiliki oleh pihak musuh. Namun sayangnya, secara tidak terduga hanya dengan ribuan prajurit dari pihak musuh dapat menghancurkan pasukan miliknya yang berjumlah lebih dari tiga puluh ribuan? Bagaimana cara dia menjelaskan kepada pihak keluarga tiga kerajaan dan ayahnya nanti tentang kerugian besar ini? Siapapun yang mendengarnya pasti tidak akan mempercayai semua omong kosong pangeran itu.
Tidak ada jalan keluar lagi, sang pangeran pun menoleh ke arah belakang, berniat untuk meminta bantuan kepada ahli misterius yang datang bersamanya itu. Namun sayangnya, begitu dia melihat ke arah belakang, pria itu telah menghilang tanpa meninggalkan jejak.
"Ke mana perginya pria itu? Mengapa tidak ada satupun yang memberitahuku!" Sang Pangeran mengatupkan giginya seraya mengepal tangan kanannya, dia benar-benar mengutuk para prajurit yang berada di dekatnya. Tidak ada satupun dari mereka yang menyadari kepergian ahli misterius itu, termasuk sang pangeran itu sendiri.
"Maaf Pangeran, kami yakin sekali tuan berjubah putih itu berada di sini beberapa saat yang lalu." Prajurit yang bersiaga untuk melindungi sang pangeran bahkan tidak menyadari kepergian ahli itu, bukankah ini sangat aneh?
Suara dentuman besar.
"Pangeran Gregor, mereka telah sampai di lini belakang pasukan kami! Harap Pangeran segera memberi kami perintah." Prajurit yang sedang melapor itu melihat ke arah kejauhan untuk mengingatkan kepada sang pangeran.
Sang pangeran pun dengan berat hati membalik arah kudanya, lalu berkata dengan wajah masam kepada para bawahannya, "Sampaikan pesanku ini kepada seluruh prajurit elite dan petualang berlencana merah yang masih bertahan, kita mundur!"
"Me-ngapa...." Sang pangeran memuntahkan seteguk darah ketika mencoba berbicara kepada bawahannya itu. Prajurit itu bahkan baru saja melaporkan tentang kondisi medan tempur kepadanya, lantas mengapa dia mengirimkan serangan menyelinap kepada tuannya itu? Mungkinkah prajurit itu memiliki dendam pribadi dan memanfaatkan momen kekacauan ini untuk membalasnya?
Hanya menemukan dugaan sang pangeran telah salah, seseorang di hadapannya bukanlah prajurit yang dia kenal. Berselang beberapa saat pun prajurit itu tersenyum, kemudian perlahan seluruh tubuhnya berubah menjadi penampilan seorang wanita cantik. Sosok itu tak lain adalah Sera yang datang menyelinap ke barisan belakang dan menyamar sebagai salah satu prajurit yang sudah mati.
"K-kau! Sia-pa...." Sang pangeran telah kehilangan kesadarannya, kemudian jatuh dari kuda tempurnya itu dengan kondisi mengenaskan.
"... aku telah mendapatkan pimpinan dari pihak musuh. Namun sayangnya, seorang ahli dari utusan kuil suci berhasil melarikan diri. Saat ini Mikaela, Lily, dan Samantha sedang mengejarnya." Sera mencabut pedang panjang itu dari tubuh sang pangeran sembari mengirimkan pesan kepada tuannya melalui sambungan telepati. Tidak terlihat jejak kekhawatiran sama sekali pada diri wanita itu, meski posisinya saat ini tengah terkepung oleh prajurit elite milik sang pangeran.
"Kuil suci?"
"Mereka pemuja fanatik para dewa yang basis kekuatannya berada di benua bagian tengah." Sera mulai menjelaskan sambil bergerak menghindar dan menebas satu persatu prajurit yang datang menyerangnya. Sikapnya masih mempertahankan ketenangan, sulit dijelaskan dengan kata-kata, napasnya bahkan masih stabil ketika berbincang dengan tuannya itu.
"Kalau begitu ini bisa dibicarakan nanti setelah semuanya selesai. Baik-baik saja jika ketiganya berhasil menangkap utusan kuil suci itu, aku ingin melihat informasi apa saja yang bisa kudapatkan tentang tempat itu darinya," kata Mavis, tersenyum puas dan kemudian memutuskan sambungan telepati keduanya.