I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 130 : Tekat Dan Keyakinan



Berdiri di dekat perapian besar, Mavis dan para pelayannya muncul dan membuat para penduduk segera berhenti dari aktifitas mereka dan melihat. Sejenak Mavis mengedarkan pandangannya dan menghembuskan napas berat, tempat ini memang telah berubah sangat banyak, bangunan tepat tinggal telah banyak didirikan, jalan-jalan telah membaik, dan orang-orang terlihat sangat bahagia, berbeda dari apa yang ada di ingatannya dulu. Tak terasa sudah lama dia membuat perubahan untuk wilayah perbatasan selatan ini, rasa suka cita pun perlahan mengisi hati. Membuatnya merasa sangat berat untuk menyampaikan berita buruk ini kepada mereka.


"Perhatian semuanya, di sini aku akan menyampaikan pesan yang datang dari ibu kota kerajaan." Mavis bersuara lantang dengan memperlihatkan wajah serius. Para warga pun antusias memperhatikan, pada dasarnya tidak ada yang bisa mengabaikan perhatian tuan yang paling mereka hormati itu.


"Bersamaan dengan pesan ini, Yang Mulia Raja Cornelius memerintahkan kepada Pangeran Asta Dixon segera kembali ke ibu kota kerajaan, untuk membantu mempersiapkan perang yang akan mendatang." Sesaat Mavis berhenti untuk melihat bagaimana ekspresi para penduduk mendengar perkataannya barusan. "Seperti yang kalian dengarkan barusan, aku sangat menyayangkan bahwa aku tidak bisa berada di tempat ini saat perang berlangsung. Tempat ini telah berubah menjadi tempat yang layak untuk semua orang tinggal di dalamnya, semua telah berjuang untuk perkembangan tempat ini. Sekarang kedamaian tidak akan mudah didapatkan, kalian tidak akan bisa bersantai ketika para musuh datang mengetuk pintu gerbang wilayah perbatasan ini."


"Mereka akan datang, itu pasti, mereka akan merenggut semua yang kita miliki, semua kerja keras yang telah kita perjuangkan. Di sini aku ingin bertanya kepada kalian semua, para penduduk, para pekerja, para pejuangku, dan para orang tua yang menginginkan anak-anaknya hidup bahagia, apa kalian bersedia melindungi tempat ini selama aku tidak ada? Melindungi tempat tinggal kalian, rumah kalian, dan jati diri kalian."


Sesaat suasana hening, para penduduk saling menatap satu sama lain dengan ekspresi wajah yang rumit. Mavis hanya bisa menghela napas menyaksikan para warga yang gelisah setelah mengetahui perang akan segera berlangsung di kerajaan ini. Mengingat wilayah ini merupakan wilayah perbatasan paling luar kerajaan, itu sudah dapat dipastikan akan menjadi medan pertempuran pertama. Normalnya ketika perang pecah, para penduduk di tempat ini akan menderita banyak jika memilih untuk tetap tinggal. Maka dari itu sangat sulit bagi mereka untuk memutuskan, apakah mereka akan berjuang demi tempat perbatasan ini, atau mereka mengungsi ke tempat yang lebih aman.


Mavis juga meragukan, apakah pantas bagi mereka untuk mempertaruhkan nyawa hanya demi benteng perbatasan ini? Para penduduk itu pada dasarnya tidak memiliki kewajiban untuk mempertahankan benteng, karena para prajurit dari kerajaan yang akan datang untuk mempertahankannya. Menghitung perang akan segera berlangsung dalam hitungan tiga bulan dari sekarang, seharusnya tidak lama lagi kerajaan akan mengirimkan pasukan untuk mempertahankannya.


"Kalian ini mengapa pada diam saja? Bukankah Pangeran bertanya kepada kalian?" Di tengah suasana yang hening, suara jernih seorang pria muncul dari tengah kerumunan. Sontak saja itu menjadi pusat perhatian, khususnya Mavis yang menjadi penasaran tentang identitas pria itu.


"Mengapa kalian harus takut? Bukankah masih ada para petugas seperti kami ini?" Pria itu pun muncul bersama dengan kawan-kawan lainnya, mengungkap penampilan sebenarnya kawanan yang menggunakan pakaian lengkap penegak kedisiplinan.


Sebenarnya pria itu Masako? Mavis jelas mengingat pria satu itu, dia memang memiliki ketertarikan dengan sifat teguh yang dimilikinya, pemuda yang berani dan peduli dengan sekitarnya. Berada di belakangnya para penegak kedisiplinan itu ikut bersemangat dan mengangguk, meyakinkan para warga untuk tidak perlu khawatir karena perang yang akan mendatang.


"Benar! Meski aku tidak bisa bertarung, setidaknya aku tidak bisa menjadi pengecut di hadapan putraku! Biarkan aku menjadi ayah yang berani di matanya!" Salah seorang pria paru baya lainnya berkata dengan keteguhan hati.


"Pangeran, aku tidak memiliki keraguan untuk mati dalam medan perang, hanya aku tidak menginginkan putriku untuk ikut mengalami bahaya yang sama jika tetap tinggal di tempat ini. Mungkinkah Pangeran dapat membantu membawa putriku ke tempat aman ibu kota kerajaan?"


"Yah, dia benar! Putraku yang malang, dia masih berusia lima tahun, aku tidak bisa menempatkannya dalam bahaya. Pangeran aku mohon bantu selamatkan anakku," kata salah seorang ibu, dia jatuh lemas setelah menyadari keselamatan sang anak yang sedang dalam bahaya.


"Kalian yakinlah, aku dapat menjamin keselamatan mereka."


Mavis tersenyum bangga, senang bahwa mereka sebenarnya memiliki kesetiaan pada wilayah perbatasan ini. Dalam hati Mavis akan mengingat ketulusan hati mereka, keberanian mereka, dan akan membalasnya suatu saat nanti. Sementara itu, dia juga telah memiliki pemikiran untuk menempatkan beberapa makhluk bayangan di tempat ini, bagaimana pun juga wilayah ini telah menjadi daerah kekuasaannya.


Mavis memiliki kewajiban atas keselamatan para penduduk di dalamnya. Selain itu juga, cukup yakin dengan adanya perang besar ini, itu akan menjadi momen baik bagi para makhluk bayangannya itu untuk memberikan poin pengalaman ketika membunuh di medan perang. Tentu Mavis juga menitipkan pesan agar mereka tidak bertindak gegabah dan memaksakan diri. Hanya jika memang itu tidak memungkinkan untuk bertahan melawan musuh kuat yang mungkin saja muncul, mereka harus segera pergi melarikan diri.


"Flint, Ezekiel, Wed, Violet, dan Scott, kalian akan tetap tinggal di tempat ini. Sera, Ozzi, Akio, dan Giraldo, kalian pergilah ke perbatasan wilayah Osaka untuk membereskan dungeon yang muncul di sana. Sementara itu Barok dan Weyan, kirimkan prajurit bantuan dari kekaisaran untuk mengamankan wilayah perbatasan ini. Ivar, kau juga segera persiapkan prajurit goblin yang sudah terlatih, ingat, hanya yang memiliki kemampuan yang datang membantu. Selebihnya kalian akan mengikutiku ke ibu kota, sampai di sini apa ada yang keberatan?" Melalui pesan telepati, Mavis memberikan beberapa pengumuman kepada para pelayannya itu.