I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 82 : Keraguan Dan Kembali



Butuh beberapa saat untuk Reus mencerna apa yang telah Mavis jelaskan padanya. Mengenai kondisi seperti apa awal mula yang terjadi pada Darius sampai pada akhirnya melayani Mavis sebagai tuannya. Pada kenyataanya Darius ternyata sudah lama mati. Reus sendiri tidak percaya, meski Darius sendiri sudah mengkonfirmasi kebenarannya. Reus memiliki alasannya sendiri, dia adalah orang yang realistis. Dalam pikirannya, akan sangat mustahil untuk membangkitkan kembali orang yang sudah mati. Terlebih, itu dilakukan oleh bocah yang bahkan belum beranjak dewasa pada umurnya?


"Aku tau kamu masih bingung dan tidak percaya denganku, itu tidak masalah. Dan untuk adikmu ini, tenang saja, meski penampilannya yang sekarang terlihat sedikit berbeda, dia masih memiliki kesadaran seperti biasanya," kata Mavis dengan santai. Dia berkata yang sejujurnya, Mavis memang menghendaki itu. Darius di sisi lain juga telah sedikit membingungkan bagi Reus, karena penampilannya yang sekarang terlihat lebih kuat dan berotot, wajahnya juga lebih menawan dibandingkan sebelumnya.


"Namun, Pangeran, aku masih tidak bisa menerima tawaranmu, meski aku menginginkannya. Cepat atau lambat para tabib itu pasti akan memberitahu bahwa Selir Juleaha yang berada dibalik semua ini, dan namaku pasti juga akan terseret di dalamnya," kata Reus, dia tersenyum pahit sambil melihat ke arah bawah.


"Jadi, kamu sudah memutuskan? Kalau begitu, kamu bisa mulai melayaniku. Namun, kamu harus melakukan ritual seperti yang dilakukan Darius, apa kamu keberatan?" Cukup puas Mavis mendengar Reus setuju untuk melayaninya, mengenai para tabib kerajaan, Mavis sudah mengambil langkah awal untuk mengantisipasi hal itu.


"Pangeran, aku tidak bisa." Reus tidak tau harus berbicara seperti apa lagi agar sang pangeran mengerti kondisinya. Dia tidak mungkin melayani Mavis, karena dia akan menjalani hukuman ada akhirnya.


Mavis terkekeh sekali lagi.


Setelah beberapa detik Mavis terdiam, pintu kembali terbuka dan masuklah lima sosok yang mengambil penampilannya yang misterius, membuat Reus bertanya-tanya siapa lagi mereka ini? Apa mereka orang-orang kepercayaan sang pangeran juga? Reus melihat kelimanya berjalan dengan anggun seperti seorang bangsawan dan langsung mengambil posisi setengah bersujud di hadapan sang pangeran.


"Salam, Tuan Agung."


"Kami telah melaksanakan tugas yang telah Tuanku perintahkan," kata Wed dengan suaranya yang berat.


Hati Reus berguncang ketika kelimanya membuka tudung yang dikenakan dan memperlihatkan sosok mereka. Reus hanya memasang wajah bingung. Pasalnya yang baru saja berbicara ternyata seorang kakek paruh baya! Juga, berada dibarisan yang sama terlihat sosok lain seperti wanita cantik yang memikat dan anak muda yang kira-kira seumuran dengan sang pangeran. Itu sangatlah aneh! Mengapa lagi sang pangeran mengambil pelayan seorang kakek tua itu yang seharusnya lebih baik beristirahat di dalam rumah? Apa itu perlu?


"Kalian bekerja dengan sangat baik," kata Mavis.


"Reus, semua sudah aku atasi, para tabib kerajaan akan tutup mulut untuk selamanya. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan lagi. Sekarang aku akan bertanya sekali lagi, apa jawabanmu?" Setelah bertanya untuk kedua kalinya, Mavis menyeruput teh yang sebelumnya sudah dibawakan oleh Samantha.


"Tentu saja, aku berkata jujur. Tapi, sepertinya kamu masih meragukan kemampuanku dan mereka berlima, benar begitu?"


Reus mengangguk.


Pada kenyataannya para tabib berada di penjara tingkat tiga paling bawah, tempat teraman kerajaan ini yang mana tidak sembarang orang bisa memasukinya tanpa seizin sang raja. Keamanan di sana sangatlah kuat, dengan banyak jalur yang bercabang dan perangkap di tempat tertentu. Dalam catatan, banyak para penyusup yang berniat membebaskan tawanan berakhir meledak menjadi pasta daging begitu memicu perangkap. Pada kasus lain, beberapa terbunuh ketika bertarung dengan para penjaga yang memiliki kekuatan yang kuat, setidaknya hampir dua puluh orang dengan kekuatan petualang berlencana biru. Bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh.


"Baiklah, kau bisa pergi dan memeriksanya sendiri. Beritanya pasti akan segera menyebar begitu para petugas pergi melapor kepada para eselon atas. Kamu bisa datang menemui aku lagi nanti, jika kamu sudah memutuskan untuk melayaniku. Hanya saja, aku tidak bisa menunggu terlalu lama karena aku akan segera pindah ke wilayah perbatasan selatan," kata Mavis.


Reus menatap wajah sang pangeran dengan seksama. Dia menemukan bahwa pangeran ini tidaklah main-main dengan perkataannya. Reus pun tersenyum dan beranjak untuk berpamitan pergi.


"Kalau begitu aku akan undur diri, Pangeran." Reus menunduk sejenak untuk memberi hormat kepada sang pangeran, kemudian dia berhenti sejenak saat melihat ke arah Darius berada. Saat itu dia hendak mengatakan sesuatu, akan tetapi segera dia urungkan dan langsung berbalik untuk pergi.


Melihat pintu kembali tertutup, Mavis segera mengalihkan pandangannya ke arah lima iblis yang masih pada posisinya. Mavis pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekat sampai tiba di depan kelimanya. Mavis berdiam, menatapi satu persatu dari mereka sambil mengatur kalimat apa yang akan dia ucapkan kepada mereka.


"Kalian sudah melaksanakan tugas pertama dengan sangat baik. Maka dari itu aku akan memberikan hadiah kepada kalian." Mavis tiba-tiba berusaha menahan senyum dan melanjutkan. "Apa kalian ingin bergabung menjadi makhluk bayanganku?" Mavis jadi teringat pembicaraan dari Scott dan Violet pagi tadi.


"Suatu kehormatan bagi kami untuk bisa melayani Tuanku," kata Wed.


"Terimakasih, Tuanku." Kelimanya jatuh dalam sukacita setelah mendapat kepercayaan dari Mavis. Terlebih lagi itu Scott yang diam-diam berbisik kepada kekasihnya, Violet, akhirnya mereka bisa menjadi makhluk abadi yang diberkati seperti kawannya yang lain.


Mereka berlima saling melirik dengan bahagia, kemudian mengangguk seraya memberi aba-aba. Tak butuh waktu lama bagi mereka, akhirnya dengan cara mereka masing-masing dalam mengakhiri hidup, tanpa keraguan sedikitpun, kelimanya jatuh tersungkur dan tidak lagi memiliki tanda-tanda kehidupan.