I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 107 : Harapan Dan Kembali



Kabar tentang kemunculan seorang ahli penyembuhan tingkat tinggi telah beredar di kalangan seluruh penjuru kerajaan, tak terkecuali sampai di telinga sang raja dari Kerajaan Baratajaya. Hal itu membuat kegembiraan muncul dari tubuh kakek tua yang saat ini sedang bersandar di atas ranjangnya. Tubuhnya sangat kurus, rambutnya putih, dan keriput menghiasi wajahnya, akibat terlalu serius memikirkan masalah yang selama ini menghantuinya.


Sang raja sungguh tak menyangka, seorang ahli yang sebelumnya telah dikabarkan menawarkan bantuan pada Pangeran Arslan benar-benar berhasil menghapus seluruh wabah penyakit yang ada di wilayah kerajaannya, hanya dalam kurun waktu satu minggu lebih!


Terlebih hari ini sebuah pesan datang bersama seekor merpati putih. Pesan itu berisikan kabar tentang kesembuhan sang pangeran mahkota--anak sulungnya dari sang ratu. Sang raja menjadi begitu bersemangat dan tubuhnya menjadi bergairah. Seakan-akan segala beban berat yang menumpuk di atas kepalanya telah terangkat dan itu membuat pikirannya telah kembali disegarkan.


"Ugo, segera panggilkan Pangeran Arslan untuk menghadapku!" Dengan penuh semangat begitu selesai membaca isi pesan, sang raja memerintahkan pengawal pribadinya untuk memanggilkan sang pangeran.


"Baik, Yang Mulia." Pria bernama Ugo itu segera pergi, menyuruh bawahannya yang berjaga di luar kediaman sang raja.


Tak berselang lama, sekitar tiga puluh menit sang pangeran datang dengan wajah panik. Masuk dengan seorang wanita berambut pendek, sang pangeran jatuh linglung setelah melihat mimik wajah cerah sang raja. Bukankah hal ini aneh? Pangeran Arslan segera berjalan mendekat dan bertanya kepada ayahnya itu.


"Yang Mulia, boleh aku tau mengapa kau memanggilku?" kata Pangeran Arslan dengan wajah ragu.


"Ya, tentu." Sang raja mencoba berdiri dari posisinya, sang pangeran yang melihat pun segera beranjak untuk membantu ayahnya itu. Kemudian keduanya berpindah tempat ke arah jendela, sang raja pada dasarnya terus tersenyum dan menghela napas lega begitu menghirup udara pagi yang sejuk dan menyegarkan itu.


"Nampaknya Yang Mulia sedang dalam suasana yang baik, apa ada sesuatu hal yang terjadi baru-baru ini?" Sang Pangeran bertanya dengan antusias.


Bohong, jika dia tidak penasaran dengan hal apa yang mampu membuat sang raja menjadi sebegitu senangnya.


Sang pangeran sejenak melirik ayahnya itu dan perlahan membuka gulungannya. Segera dia jatuh dalam pemikiran mendalam saat membaca pesan yang ada di dalamnya, dia terdiam sesaat. Sementara itu, sang raja yang melihat gelagat anaknya itu terkekeh dan memalingkan wajah ke arah luar jendela. Pada dasarnya dia mengerti kondisi apa yang tengah dirasakan anaknya itu.


Dan benar saja, tak butuh waktu lama sampai sang pangeran bangun dari keterkejutannya, dia tiba-tiba memposisikan diri setengah bersujud dan hendak mengatakan sesuatu kepada sang raja. Namun, sang raja yang paham segera berbicara terlebih dahulu tanpa melirik ke arah anaknya itu.


"Kalau begitu segera selesaikan tugas yang ada sebelum kamu pergi." Sang raja berkata dengan nada lembut.


"Yang Mulia ...."


"Sudahlah, saat itu kamu hanya menjalankan tugas untuk melindungi kerajaan. Di sini aku percaya master itu pastilah bijak dan mengerti akan kondisimu."


"Baik, Yang Mulia, aku mengerti." Sang pangeran mengangguk dan segera bangkit. Kemudian dia melakukan salam penghormatan kepada sang raja, sebelum pada akhirnya beranjak pergi.


"Ugo, kirimkan seseorang untuk menyampaikan pesan ini kepada ratu. Cukup yakin dia pasti akan sangat bahagia setelah mendengar kepulangan anaknya." Sang raja benar-benar lega, dengan berita kepulangan anaknya itu sang ratu pasti akan kembali ceria dan tidak lagi bersedih. Mungkin dengan ini sang ratu akan mengampuninya karena telah mengasingkan anaknya itu keluar dari ibu kota ketika terjangkit penyakit.


"Kuharap dia bisa memaafkan aku." Sang raja berkata dalam hati dan melihat awan sambil burung-burung yang melintas di atas langit. Terlihat senyum kebahagiaan terlintas pada wajahnya yang berkeriput, seakan-akan memperlihatkan bahwa dialah orang paling bahagia pada hari itu.