I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 65 : Tarian Bunga Api



Darah segar menyembur dan mengenai zirah yang dikenakan para prajurit kekaisaran. Darah itu milik kerabat mereka sesama prajurit yang terkena serangan kejut milik Mikaela. Kerusuhan terjadi dan prajurit lini depan yng memiliki mental rendah berjuang mati-matian berlari ke belakang, juga terlihat Raja Hasington yang merasa terancam secara diam-diam berjalan dengan perlahan dibawah formasi perisai bertahan, dia tidak ingin mati konyol seperti bawahannya itu.


"Menjalankan!"


Mengambil waktu dari para prajurit yang mengorbankan diri di lini depan, Penasihat Barok yang berada di lini belakang mempersiapkan serangan balasan. Di bawah komando Penasihat Barok para petualang spesialis sihir melantunkan mantra serangan untuk membalas.


Deretan penyihir petualang mengangkat staf mereka ke langit dengan Penasihat Barok menjadi pusat di tengah barisan. Segera sebuah bola api tercipta di udara jauh di atas dan mengambil bentuk yang awalnya sekecil bola sepak menjadi semakin besar tiap detiknya. Sampai itu terlihat besar dan memancarkan panas yang dapat dirasakan orang-orang di bawahnya. Merasa itu sudah cukup, Penasihat Barok memberi instruksi untuk bersama-sama mengarahkan staf tongkat sihir mereka ke arah Mikaela.


Serangan balasan.


Bola api itu jatuh dari ketinggian langit seperti meteor dan mengarah ke arah Mikaela. Berada di lain sisi, wanita itu tidak terlalu memikirkan serangan itu. Berbeda dari apa yang diperkirakan Penasihat Barok, Mikaela melesat langsung menuju bola api itu dengan tangan kosong.


"Dia gila!"


Para prajurit yang melihat itu memiliki ekspresi terkejut dan rahang mereka seakan jatuh mengenai tanah. Sulit dipercaya wanita cantik dimata mereka itu menjadi seperti iblis yang datang dari neraka. Mereka melihat bagaimana wanita itu meninju bola api yang datang ke arahnya. Suara ledakan memekakkan telinga terdengar dan bola api itu lenyap di pengelihatan orang, itu digantikan dengan tampilan Mikaela yang berdiri dengan kondisi semula tanpa ada kerusakan sedikitpun.


"Bagaimana bisa!" Penasihat Barok mengerutkan kening.


Mikaela menyeringai ketika melihat para prajurit tanpa sadar mundur beberapa langkah. Dia melangkah, berlari dan mulai membantai para prajurit yang disekitarnya. Penasihat Barok geram dan mulai melepaskan mantra lain. Menggunakan kekuatan mana yang tersisa dia menggunakan mantra untuk serangan kejutan. Dia mengetuk staf miliknya menyentuh tanah dan segera, sepasang tangan raksasa muncul dari bawah tanah dan menjulang tinggi di samping kiri dan kanan Mikaela.


Tangan Kehendak Bumi!


Mikaela menghentikan langkahnya untuk melihat tangan raksasa itu. Sebuah mantra tingkat menengah spirit bumi, itu bergerak dan mencoba menangkap Mikaela. Namun sayangnya, Mikaela dengan mudah menahan tangan itu dengan tangannya dan memberi hentakan pada satu gerakan. Mantra yang terlihat kuat dan bisa menghancurkan segalanya dengan mudah dipatahkan oleh Mikaela.


"Ya Dewa!"


"Dia monster!"


"Lari!"


Beberapa prajurit lemah dan penakut berlarian meninggalkan lini depan saat melihat Mikaela mulai membantai para prajurit tanpa berkedip.


"Sial!"


Genangan darah terus bertambah dan menjadikan tanah itu seperti daerah terkutuk! Bukan hanya di tempat Mikaela berada, di sisi lain di mana Becky dan Becca berada itu tidak jauh berbeda. Berbagai petualang dengan berbagai jenis kemampuan menghadapi si kembar dan berakhir mengenaskan. Tidak perlu dijelaskan bagaimana dengan para prajurit, mereka dengan mudah terbunuh hanya dengan tebasan aura dari senjata keduanya.


Terutama Becky, dia begitu agresif dan menggunakan satu dari seratus kekuatannya untuk membekukan seluruh daerah di sekitarnya. Para prajurit dan petualang rendah yang tidak mempunyai trik bertahan dibekukan dengan instan. Hanya menyebutkan petualang berlencana biru saja yang dapat bertahan dan melawan.


Becca di lain pihak masih tetap menggunakan satu dari seribu kekuatannya, dia dengan mudah menyeimbangi para petualang yang dia lawan. Satu melawan belasan petualang berlencana biru. Dengan berbagai jenis kemampuan dan senjata, para petualang tidak berdaya ketika mereka mulai kehabisan napas dan mundur untuk menjaga jarak dari Becca.


Para petualang saling memandang, kemudian mengangguk.


"Serang Bersama!" Salah seorang petualang yang berada di sana berteriak dan segera, belasan petualang belencana biru melesat menyerang Becca.


Tarian Bunga Api!


Becca bergerak cepat, menghilang dan muncul hampir di saat yang sama, itu mengelabuhi mata para petualang yang sudah mengambil jarak dekat dengannya. Mereka menebas, menusuk, melemparkan tinju keras ke udara yang mereka yakini itu bentuk dari Becca, akan tetapi mereka sadar kalau mereka hanya menyerang pada titik yang salah. Seperti orang bodoh, seorang petualang beberapa kali menebas ke segala arah karena frustasi tidak juga mengenai Becca.


Menjadi linglung beberapa saat, para petualang baru tersadar sebuah bunga api mulai muncul di sekitar tubuh mereka, itu terus bermunculan dan membakar tubuh mereka di beberapa sisi.


"Arhhh...."


Seorang petualang wanita menjerit histeris sambil memegang wajahnya, dia begitu tidak beruntung karena bunga api itu muncul di tempat paling berharga bagi wanita. Itu tampak jelek saat wajahnya meleleh terbakar bunga api. Sementara para petualang berhenti mencari Becca dan sibuk memeriksa tubuh mereka, Becca sendiri sudah muncul dan berdiri jauh dari mereka. Memandang jijik para petualang.


"Kau--"


"Kembalikan wajahku!"


Petualang wanita itu melesat dengan ganas dan mengarahkan belati tajam miliknya ke arah jantung Becca. Dengan mengerahkan seluruh kekuatannya petualang itu mencoba mengambil hidup Becca meski nyawa sebagai taruhannya. Namun, Becca hanya tersenyum jijik saat melihat tindakan petualang itu.


Becca dengan gerakan elegan menarik bunga api yang muncul di dekat daun telinganya. Bunga itu tampak seperti bunga yang sama muncul di tubuh para petualang, hanya saja itu tampak berbeda di saat yang sama karena tidak merusak tubuh Becca.


Wanita itu mengarahkan bunga itu tepat di depan wajahnya dan kemudian meniupnya. Kelopak demi kelopak bunga api itu tertiup dan lenyap terbawa angin. Segera, ledakan terjadi dimana titik bunga api itu ada di tubuh para petualang. Hujan darah membasahi tanah dan seluruh organ dalam milik mereka berceceran dimana-mana, membuat Becca memutar bola matanya karena membenci hal itu.