I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 102 : Kau Pasti Bisa



Hari itu Mavis telah membulatkan tekadnya untuk pergi dalam rencana yang sudah dia pikirkan secara matang. Melihat bagaimana kondisi pemukiman ini yang sudah terorganisir dengan sangat baik, Mavis percaya itu akan baik-baik saja meskipun nantinya dia tidak ada untuk mengawasi kinerja para bidang.


"Aku percayakan tempat ini kepada kalian. Kirimkan laporan tentang perkembangan kalian selama aku pergi." Mavis berbicara kepada tiga pelayannya, Bulan, Wed, dan juga Ezekiel.


Dia baru selesai merapihkan diri dan bersiap untuk pergi. Maka dari itu dia memiliki beberapa pengaturan terlebih dahulu kepada para pelayannya yang akan tetap tinggal untuk mengurusi pengembangan tempat ini. Dia telah memutuskan untuk memilih mereka, para makhluk panggilannya untuk menjaga tempat ini.


Lagipula, Mavis masih memiliki lebih dari cukup pelayan untuk menemaninya berpergian nanti.


"Oh ya, Lily mengatakan bahwa dia telah selesai pada tugasnya. Dia akan segera kembali dan tinggal bersama kalian bertiga di pemukiman ini," kata Mavis dengan senyuman di wajah.


"Baik, Tuan."


Ketiganya segera memberi salam penghormatan dengan hati yang sedikit enggan. Sejatinya mereka memiliki keinginan untuk ikut berpergian dengan tuannya, hanya saja karena itu perintah langsung dari tuannya itu sendiri, ketiganya tidak bisa banyak berkomentar. Mereka hanya bisa berusaha melaksanakan tugas yang telah diberikan Mavis dengan sebaik-baiknya. Dengan begitu ketika tuannya itu telah kembali dan melihat hasil kinerja mereka, tuannya itu pasti akan senang dan juga bangga!


"Tuan, percayakan tempat ini kepada kami." Bulan berkata dengan wajah datar. Kemudian dia memberikan salam perpisahan kepada tuannya itu.


"Tuan harap yakin, kami akan membuat tempat ini menjadi tempat yang lebih layak dan nyaman untuk Tuanku," kata Ezekiel, berbeda dengan Bulan dia memperlihatkan kehangatannya dengan tersenyum.


"Baiklah, aku akan mengandalkan kalian sekali lagi. Kuharap ketika aku kembali nanti, pemukiman ini sudah menjadi tempat yang jauh lebih baik daripada ini."


"Tuan Agung, harap berhati-hatilah kepada para manusia itu. Meskipun mereka lemah, mereka masihlah memiliki sifat yang licik dan tercela," kata Wed.


"Ya, aku tahu itu."


Lagipula Mavis masihlah seorang manusia, dia jelas lebih mengerti mengerti sifat dan karakter yang dimiliki manusia ketimbang para iblis seperti mereka. Mavis pun tersenyum dan berbalik badan untuk pergi. Namun, sebelum dia melangkahkan kakinya, dia mengucapkan beberapa pesan terakhir kepada mereka.


"Yang terbaik adalah kalian dapat melindungi tempat ini. Siapapun yang berani mengusik wilayahku ini, jika itu bukan dari keluargaku, maka bunuhlah tanpa perlu bertanya padaku. Apa kalian mengerti?"


"Dimengerti."


"Ayo, kita pergi." Mavis pun berjalan dan membawa kelompoknya itu menunggangi kuda yang telah diberikan mantra oleh Bintang.


Seorang penguasa yang ideal di pikiran banyak dari mereka, termasuk di hati seorang pemuda berkulit sawo matang yang tengah menatap kepergian sang pangeran dengan mata berbinar. Menggunakan pakaian lengkap seorang penegak kedisiplinan berpangkat kecil, dengan bangga memberi salam penghormatan.


"Dia...."


Mavis secara tak sengaja mendapati penampakan pemuda itu ketika dia mengedarkan pandangannya ke arah para penduduk. Dia kenal jelas, pemuda berkulit gelap itu adalah Masako, pemuda yang berasal dari pemukiman kumuh di luar tembok. Pemuda yang memiliki semangat dan keberanian, Mavis benar-benar sangat menghargai orang-orang seperti itu.


Dan yah, sekarang setelah sebulan lebih Mavis tidak melihatnya, rupanya pemuda itu telah menjadi seorang petugas penegak kedisiplinan. Sangat baik, pasalnya perekrutan penegak kedisiplinan bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh! Mereka adalah para petugas yang telah dipilih langsung oleh Samantha. Menggunakan kemampuannya dalam menilai dan melihat informasi dari kenangan para kandidat, Samantha memilih mereka secara selektif dan tidak main-main.


Bukan tanpa sebab, itu karena dia sangat ingat apa yang dikatakan sang pangeran ketika membentuk pengadilan hukum dan menunjuk dirinya sebagai kepala. Tuannya itu mengatakan bahwa pengadilan hukum haruslah mampu menciptakan keadilan bagi para penduduk di tempat ini. Mereka haruslah netral, haruslah jujur, haruslah memiliki para penegak yang memiliki moral yang baik. Dengan demikian Samantha berpegang teguh untuk berhati-hati dalam memilih, membuat perekrutan penegak keamanan menjadi sesuatu yang populer dikalangan penduduk, karena sulit untuk mendapatkan posisi pekerjaan itu.


Berada di sisi lain, seorang wanita berpakaian longgar berwarna putih datang menghampiri Samantha dengan ekspresi sedih. Kemudian setelah beberapa saat ragu, dia bertanya kepada atasannya itu. "Nona, apa kamu serius akan pergi?"


Samantha tidak menjawab alih-alih tersenyum dan mengangguk.


"Tapi...." Wanita itu memasang wajah cemas dan tidak percaya diri. Dia benar-benar pasrah dengan kondisi ini.


"Yuji, bukankah kita sudah membicarakan hal ini sebelumnya?" Samantha yang masih berada di atas tunggangannya berkata dengan hangat, sama sekali tidak terganggu dengan perkataan wanita itu.


"Nona, aku tidak yakin bisa menggantikan kamu dengan sangat baik, walau itu hanya sementara. Bukankah ada penegak lainnya yang lebih mampu dibandingkan aku? Maksudku, apa Nona tidak akan merubah pilihan pada akhirnya?"


"Tentu," kata Samantha tanpa meninggalkan jejak ragu sedikitpun.


Sebelum Yuji bisa berkata lagi, rombongan itu telah berjalan satu persatu, meninggalkan Akio, Bintang, dan juga Samantha yang masih berada di tempat itu.


"Samantha." Akio pun mengangguk sebagai tanda untuk mengakhiri perbincangan antara Samantha dengan Yuji.


"Kau pasti bisa, aku melihatnya." Setelah mengatakan itu Samantha memacu kudanya, mengikuti Akio dan Bintang meninggalkan tempat itu.