
Masih berada di dalam ruang rahasia Bar Hammer, Mavis bersama para makhluk panggilannya sudah mencapai titik jenuh dalam mengintrogasi tabib kerajaan. Mavis memberikan beberapa pertanyaan kepada tabib itu, akan tetapi dia tidak juga menjawabnya dengan benar. Tabib itu terus menerus bergumam tak jelas dan meminta maaf setiap kali Mavis bertanya, sama seperti yang terjadi saat Darius mengintrogasi tabib itu.
"Karena kamu masih bersikeras untuk tidak menjawab pertanyaanku, maka kamu sudah tidak dibutuhkan lagi di sini." Mavis berkata sambil menatap dingin tabib itu. Kesabaran Mavis sudah habis!
"Bunuh dia."
Mavis tidak ingin buang-buang waktu menanyai tabib itu jika tabib itu sendiri tidak ingin menjawabnya. Dia pun berbalik dan berniat ingin menghampiri dua jasad yang dia lihat di sudut lain ruangan, jasad yang telah dibawa oleh Mikaela. Mavis lebih tertarik untuk itu.
Bintang yang berada paling dekat di sana segera menatap ke arah rekan yang lain, merekapun mengangguk setuju. Bintang saja yang membunuh tabib itu.
Bintang mengeluarkan pisau belatinya. Dia menatap tabib itu dengan cara yang mengerikan, memutar pisau belatinya dengan handal sambil berjalan mendekati tabib itu. Kemudian dia berjongkok dan menjambak rambut tabib itu, sehingga tabib itu yang sebelumnya terbaring di tanah terangkat menjadi duduk. Selanjutnya, Bintang mengarahkan pisau belatinya tepat di leher sang tabib, dia menekannya sampai darah sedikit merembes keluar akibat tergores belatinya.
"Tu... Tunggu! Aku akan bicara!" kata tabib pria itu.
"Oh?" Mavis menghentikan langkahnya dan berbalik untuk melihat sang tabib. "Kalau begitu aku akan mendengarkannya."
Tabib itu bertingkah aneh seperti ketakutan dan tertekan, dia berkeringat dingin dan gugup.
"Ini... sebenarnya aku diutus oleh Ku...."
Belum selesai tabib itu menyelesaikan perkataanya, tabib itu meledak dan seluruh bagian tubuhnya hancur, organ dalamnya bertebaran ke mana-mana. Bintang yang saat itu berada paling dekat dengan tabib itu tidak cukup beruntung karena bagian tubuh sang tabib banyak yang berceceran di pakaiannya. Bintang bangkit dan tertegun.
"Sial!" Bintang mengumpat kesal melihat pakaiannya dikotori. "Mengapa begitu tiba-tiba?"
Mavis sendiri betul kaget dan segera mengedarkan pandangannya ke segala sudut ruangan, dia mulai bereaksi waspada jika seseorang datang untuk membunuh sang tabib agar tidak buka mulut. Hanya saja saat Mavis ingin bertanya kepada yang lain, Samantha mengungkapkan pendapatnya kalau seseorang telah melakukan sesuatu pada tabib itu dari tempat yang jauh. Itu lebih seperti mantra kutukan ataupun mantra pengendali jimat.
Jelas tabib itu sebelumnya menolak karena kutukan itu, dia pasti tau bahayanya jika dia membocorkan rahasia milik orang yang dia layani. Dia tidak punya pilihan lain, karena jika dia tidak menjawab, pada akhirnya dia juga akan mati ditangan Bintang.
"Ini aneh..." Mavis yang mengambil jarak jauh dari tabib itu segera jatuh dalam pemikirannya.
Sesuatu membuatnya bingung, dia pikir awalnya ini hanya permainan kotor yang dilakukan Selir Juleaha, karena seperti yang dia tau si rubah licik itu memang sudah beberapa kali melakukan percobaan pembunuhan terhadap Ratu Lilian. Namun, kali ini tidaklah mungkin tabib itu orang suruhannya setelah melihat bagaimana tabib itu mati terbunuh, Selir Juleaha tidak mungkin punya kemampuan sejauh itu.
Mavis mengerutkan kening. Dia merasa bahaya mulai perlahan mendekat dari bayang-bayang gelap. Dia harus segera meningkatkan kemampuannya jika tidak ingin jatuh dikalahkan pihak lain. Dia harus tumbuh menjadi kuat dan lebih kuat agar bisa melindungi orang yang dia sayangi. Dia mempunyai keluarga di kehidupan yang sekarang ini, maka dari itu dia akan berusaha untuk melindungi mereka. Siapapun yang berniat buruk kepada mereka, Mavis tidak akan ragu untuk membunuh!
"Kesampingkan itu dulu, aku ingin mendengar tentang dua mayat ini. Siapa dia dan dari mana kau mengambilnya?"
Mavis berjalan mendekati jasad kedua jasad itu dengan antusias. Dia bisa melihat sekilas tampilan dari keduanya, menggunakan setelan jubah mahal dan menawan, peralatan staf keduanya yang berada di sampingnya, jelas mereka bukanlah orang biasa. Keduanya pasti memiliki latar belakang yang tidak bisa dianggap remeh.
"Mereka berdua orang-orang dari kekaisaran, Tuan," kata Becky.
"Orang dari kekaisaran?" Mavis menoleh dan menatap serius ke arah Mikaela, untuk mencari tau kebenaran dibaliknya. "Mikaela, apa benar begitu?"
"Ya Tuan, secara garis besar mereka adalah orang-orang kekaisaran. Untuk pria berjubah biru merupakan penasihat tinggi kekaisaran, sementara pria satunya berasal dari petualang kekaisaran," kata Mikaela.
Penasihat tinggi kekaisaran!
"Apa kamu yakin dengan latar belakang mereka? Bukankah terlalu berlebihan kekaisaran mengirimkan penasihat tinggi hanya untuk menyerang dungeon tingkat rendah belaka?" Mavis tidak bisa menjaga ketenangannya.
"Lalu, seberapa kuat dia? Bagaimana cara kalian mengalahkannya?" Mavis kembali bertanya dengan jantung berdegup, dia menjadi begitu bersemangat. Dia tidak menyangka ketiganya bisa mengalahkan seorang tokoh penting.
"Tuan, itu bukan sesuatu yang sulit." Mikaela tersenyum senang melihat tuannya itu antusias dengan hasil tangkapannya. "Mengenai kemampuannya, itu tidak begitu buruk. Aku merasa dia cukup kuat jika dibandingkan dengan manusia biasanya, dia juga seorang petualang berlencana merah di kekaisaran.
"Sekuat itu?"
Mavis dalam hati bersukacita dan terkejut disaat yang bersamaan. Dia benar-benar telah meremehkan kekuatan Mikaela dan si kembar Becky dan Becca. Memang, Mavis tau mereka bertiga itu sangatlah kuat, Mavis yakin jika hanya mengurus para pasukan dari kekaisaran, ketiganya lebih dari cukup untuk mempertahankan dungeon. Hanya setelah mengetahui tokoh kuat seperti penasihat tinggi kekaisaran ikut ambil adil, dia tidak menyangka ketiganya masih bisa mengalahkannya dengan mudah.
Selama ini Mavis belum jelas dengan seberapa kuat tingkatan bagi para petualang berlencana, dia juga tau jumlah petualang yang memiliki lencana merah sangatlah sedikit dan itu bisa dihitung dengan jari tangan bahkan di kerajaan besar tingkat lima seperti Kerajaan Osaka. Di kerajaan Sriwijaya sendiri hanya memiliki satu yaitu Alice, yang masih menjabat sebagai pimpinan akademi Lynford. Begitu berharganya tokoh kuat seperti dia, kerajaan dan kekaisaran manapun pasti tidak berani memprovokasi jika berhadapan langsung dengannya.
"Tuan, bagaimanapun Mikaela dulu pernah menjadi petualang berlencana ungu. Apa hanya melawan pemilik lencana merah, bagi dia itu semudah membalikan telapak tangan. Terlebih kekuatannya yang sekarang telah jauh meningkat setelah mendapatkan berkah dari Tuanku. Kekuatan Mikaela yang sekarang mampu menyaingi para komandan iblis pada masanya," kata Becky.