I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 23 : Si Little Rookie



"Helena, petugas lantai satu menghadap kepada Ketua." Helena datang dengan membawa lencana yang diberikan kelompok Mavis dengan wajah heran.


Dia tidak menyangka ketika dia kembali ke dalam bilik dan menghadap kepada pimpinan lantai satu--yang merupakan ayahnya sendiri--akan berakhir seperti ini. Helena tak tahu kalau ayahnya akan percaya dengan mudahnya pada lencana yang menurutnya palsu itu. Sampai-sampai dia membawa Helena menghadap kepada ketua guild.


"Seseorang datang dan memberikan lencana ini kepada Helena." Pria paruh baya yang berada di samping Helena meraih tiga lencana itu dari tangan Helena dan menyerahkannya di atas meja. Wajahnya serius dan dia menatap ke arah ketua guild petualang seakan mengkonfirmasi kebenaran itu.


Ayah Helena bernama Stronoff. Dia adalah pemimpin petugas lantai satu, sementara pria tua di hadapannya adalah Pak Tua Sigurd. Dia adalah kepala dari guild petualang dan merupakan teman lama dari raja sebelumnya--ayah Raja Cornelius.


Dengan hati-hati si Pak Tua Sigurd memegang lencana itu satu persatu dengan tangan gemetar. Jantungnya berdegub kencang, matanya melotot dan keningnya mengkerut. Senyuman aneh dan ekpresi rumit muncul tak lama setelahnya.


Dia jelas terkejut.


"Bagaimana bisa?"


"Lencana Merah?"


"Bahkan Ungu?"


Pak Tua Sigurd mencoba menenangkan diri. Dia meletakan lencana-lencana itu di atas meja dan berkata, "Panggil orang-orang yang membawa lencana-lencana ini."


"Jika beruntung, mereka bisa saja anak atau murid dari para master pemilik lencan sebelumnya. Lain kemungkinan mereka hanya mendapatkannya secara kebetulan harta karun ini."


Pak Tua Sigurd tertawa bahagia. Ini bagaikan nostalgia saat mengenang masa kecilnya. Saat itu dia ingat jelas mengidolakan seorang petualang dengan lencana merah di bajunya. Seorang yang kuat dan pemberani, juga orang yang pernah membuat dirinya begitu tertarik menjadi seorang petualang.


Segera Mavis dan yang lainnya dikawal dengan sopan menuju kantor si Pak Tua Sigurd. Dengan wajah penuh antisipasi Mavis masuk ke dalam dan mengambil posisi duduk di atas sofa.


Sementara kelompok Mavis berjalan dan mengambil posisi masing-masing, Pak Tua Sigurd yang tengah menyeruput teh hangat tersedak seketika. Saat kedua manik matanya membelalak menatap sosok yang berada di belakang Mavis. Dia hampir terkena serangan jantung! Bibirnya kelut, dia kehabisan kata-kata.


"Pak?" Ayah Helena yang kini berdiri disudut belakang kakek tua berkata dengan pelan. Sementara anaknya--Helena fokus mengamati kelompok Mavis dengan tatapan waspada.


Petugas wanita itu jelas tidak percaya dan masih menganggap kelompok di hadapannya itu adalah komplotan penipu. Dia menunggu waktu yang tepat saat mereka membuka kedoknya untuk membuktikan itu! Begitu yang ada dipikirannya.


Sepermenit berikutnya Pak Tua Sigurd berkata, "Maaf..." Dia langsung menyadarkan diri dan membersihkan sisa air teh akibat dia tersedak.


Kemudian dengan senyum penuh sukacita Pak Tua Sigurd menatap kembali pada pria itu. Dan dia hendak mengatakan sesuatu, tetapi sosok itu tiba-tiba balik menatapnya dengan wajah tidak puas.


"Hei Pak Tua, ada apa? Mengapa kau menatapku dengan cara yang aneh?"


Orang itu Ozzi.


"Maaf..." Pak Tua Sigurd menjadi lebih sensitif dan tertawa terbahak-bahak, dia tak kuasa mengeluarkan air matanya.


"Ada apa dengan Kakek ini," kata Ozzi.


"Itu karena wajahmu yang jelek." Akio berkata dengan elegan.


"Kau..." Ozzi mengeram dan hendak memuntahkan sumpah serapah kepada si Nenek Akio, tapi dia kembali tenang setelah dia melihat ke arah Mavis. Dia tidak boleh membuat tuannya itu kesal lagi!


Mavis hanya diam mengamati Pak Tua Sigurd. Cukup waspada, karena dia tidak tau siapa kakek tua itu. Namun, yang jelas dia pasti orang yang berpengaruh di dalam guild petualang ini.


Dan sebenarnya apa tujuan kakek tua itu memanggil mereka?


"Karena ..."


"Ah, maaf aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Sigurd Yama. Aku adalah ketua guild petualang kerajaan ini. Para petualang biasa memanggilku Pak Tua Sigurd."


"Karena Pak Tua Sigurd telah meluangkan waktunya bertemu dengan kami, apakah ada sesuatu hal penting yang ingin dibicarakan?" kata Mavis dengan wajah serius.


"Oh tenanglah, aku hanya ingin mengobrol dengan kalian. Itu pun jika kalian tidak keberatan."


"Kami menolak untuk itu," kata Ozzi.


"Tuan..."


"Ada apa denganmu Senior? Mengapa kau terburu-buru pergi setelah melihat adik kecil ini?" Pak Tua Sigurd tertawa lepas.


Itu membuat Ozzi dan yang lainnya bertanya-tanya. Ada apa dengan kakek ini? Apakah dia slaah meminum obat?


"Pak, apakah kamu sedang demam? Sepertinya kamu butuh istirahat, mari aku antar." Stronoff yang merasa aneh dengan tingkah ketuanya itu segera berjalan mendekat dan hendak merangkul pak tua itu untuk pergi. Akan tetapi dia menolaknya.


"Tunggu... aku baik-baik saja." Dia menjauhkan tangan Stronoff dan kembali menyeruput tehnya yang sudah dingin. "Oh ya, Stronoff, dan kau Helena, kalian dapat menungguku di luar. Ada hal penting yang ingin kubiarakan dengan tamu-tamuku ini."


"Baik."


Stonoff mengangguk dan memberi salam sebelum pergi. Tak lupa, dia menyeret Helena ikut bersamanya.


"Ayah, apakah tidak berbahaya meninggalkan ketua dengan orang-orang itu?" Helena masih tidak rela dikeluarkan begitu saja.


"Apa yang perlu kau khawatirkan? Apa kau lupa? Ketua guild kita juga seorang petualang dengan lencana biru." Stronoff membisikan itu ke telinga putrinya.


"Tapi Ayah, kondisi ketua ...."


"Sudahlah, kau ini terlalu memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidka perlu. Lebih baik kamu kembali pada pekerjaanmu." Stronoff membalik badan putrinya itu dan mendorongnya pelan.


Kemudian dia kembali ke ruang kerjanya lagi setelah memastikan Helena benar-benar kembali ke tempat kerjanya.


Sementara itu di dalam ruangan tempat ketua guild petualang, terasa hawa cangggung di antara kelompok Mavis dan juga si Pak Tua Sigurd.


"Apakah kau benar-benar tidak ingat dengaku?" Sorot mata itu tertuju kepada Ozzi. Dan itu membuat keheranan muncul pada wajah Mavis dan yang lainnya.


"Apa kalian saling mengenal?" kata Mavis.


"Tidak Tuan, aku tidak mengenal kakek tua ini," kata Akio.


"Aku juga," kata Giraldo dan Ozzi.


"Aku sedikit sedih kamu tidak mengenaliku. Sebelumnya bahkan aku sudah memperkenalkan diri."


Mavis menerka dan mengetahui kakek tua itu bermaksud kepada Ozzi. Dia pun memberitahu itu kepadanya dengan nada pelan, "Dia sedang berbicara denganmu."


"Denganku? Tuanku, aku tidak ingat pernah mengenal dia. Lagipula nama Sigurd bukankah umum digunakan?"


"Bagaimana denganmu Samantha?" Mavis beralih kepada orang yang berkemampuan untuk hal seperti ini.


"Tuan, aku tahu siapa dia." Samantha tersenyum dan tertawa kecil. Kemudian melanjutkan, "Dia satu-satunya orang yang selamat setelah memeluk iblis paling menakutkan."


"Tunggu... benar Sigurd namamu?" Ozzi tiba-tiba teringat dengan sosok anak kecil yang dia temui jauh dulu saat masih menjadi seorang petualang.


"Ya, sudah kubilang namaku Sigurd Yama. Jika kau lupa dengan nama itu, kamu pasti ingat dengan julukan yang kamu berikan padaku, Si Little Rookie."


"Oh, kau si Little Rookie!" Ozzi berubah warna dari yang sebelumnya kesal menjadi bahagia. Dia tidak menyangka bertemu dengan anak nakal yang dulu suka mengusiknya.


"Ya, pasti kau tidak menyangka bukan? Pak tua ini masih hidup?" Dia lalu tertawa dan terbatuk-batuk.


"Dan di sini aku tidak menyangka bagaimana bisa Senior masih muda seperti dulu, sedangkan aku perlahan mengkeriput?"


"Aku sangat iri denganmu."


Mavis kehilangan kata-katanya. Bagaimana ini akan berlanjut saat seseorang dari masa lalu mengenali salah satu dari para pelayan iblisnya itu. Terutama dia adalah ketua guild petualang. Akan menjadi sebuah kegemparan jika berita ini tersebar seseorang dengan umur seperti Ozzi, Samantha, Giraldo, dan Akio muncul dengan keadaan segar bugar seperti sekarang.


Ini sangat gawat!