
Sudah seminggu lebih berlalu selepas kepergian Lily dari tembok ibu kota Kerajaan Baratajaya. Dia menelusuri seluruh wilayah benteng dan pemukiman tanpa beristirahat. Setiap dia singgah di suatu tempat, saat itu juga dia akan mulai melaksanakan tugasnya, tepatnya mengatasi wabah penyakit yang ada di tempat itu.
Tentu, segala sesuatunya tidak berjalan mulus pada awalnya. Sebagai contoh untuk pertama kalinya Lily singgah di tempat pemukiman terdekat ibu kota kerajaan.
Setibanya di tempat itu dia diperlakukan begitu buruk oleh warga di tempat itu. Kebanyakan dari mereka memilih mengurung diri masing-masing di dalam rumah. Mereka mengusir Lily pergi, setiap kali dia mengetuk pintu rumah mereka.
"Pergilah! Kami tidak menerima tamu." Para warga bisanya mengatakan hal seperti itu. Hanya saja itu tidak semuanya, beberapa bahkan hanya membuka tirai jendela mereka dan menutupnya kembali tanpa repot mengucapkan sepatah kata padanya. Lily pun pada saat itu hanya bisa menghela napas berat dan kembali berjalan.
Menyusuri jalan membuatnya tersadar suasana di tempat itu benar-benar mati karena sebegitu sepinya. Berada di sepanjang jalan pemukiman itu terlihat gerobak dan tenda yang biasanya digunakan untuk berjualan, menjadi begitu berdebu dan tidak terawat. Terlihat juga beberapa orang berlalu lalang dengan saling melirik satu sama lain dengan tatapan penuh curiga. Dengan cara berjalan yang terlihat panik pula, mereka menjaga jarak satu sama lain seperti orang yang sedanh bermusuhan.
Tidak ada yang tau pasti mereka saling mengenal atau tidak. Itu karena meskipun mereka memiliki hubungan dekat sekalipun, mereka tidak akan bertegur sapa jika saling berpapasan di jalan.
Fokus Lily kemudian teralihkan ketika dia mendapati seorang ibu yang baru saja keluar dari rumah, dengan menggandeng tangan anaknya dia berjalan begitu tergesa-gesa menuju suatu tempat. Singkatnya Lily mengikuti keduanya dan sampai tibalah di sebuah kamp tertutup. Yang ternyata kamp itu didirikan khusus untuk para warga yang telah terjangkit wabah penyakit. Sontak saja wajah Lily berubah cerah, begitu menemukan apa yang menjadi tujuan utamanya datang ke tempat ini.
Tanpa berpikir panjang dia segera masuk dan menemui seorang wanita muda yang tengah membagikan semangkuk sup kepada para warga yang sakit. Wanita itu dengan ramah menyambut para warga yang mengantri untuk sup itu. Dia tersenyum seakan senang melayani para warga. Sungguh, tidak terlihat jejak ketakutan dan jijik pada diri wanita itu. Padahal, Lily tau dengan sekali melihat bahwa wanita itu masihlah sehat dan tidak tertular penyakit tersebut.
Ini menarik perhatian Lily untuk mendekat dan menyapanya.
"Nona, apa kau juga ingin semangkuk sup ini? Jika iya, mohon mengantri terlebih dahulu. Tenang saja, ayahku dan saudariku telah menyiapkan banyak untuk dibagikan. Tidak perlu khawatir untuk kehabisan." Wanita itu segera menyapa Lily begitu dia jalan mendekatinya dan menyerobot antrian seorang kakek tua.
"Aku datang untuk berbicara kepada bangsawan yang mengelola tempat ini. Bisa kau katakan ke mana aku harus pergi untuk menemuinya?" kata Lily dengan nada lembut dan terkesan ramah.
"Oh, kalau begitu Nona telah datang ke tempat yang benar." Wanita itu segera menghentikan sejenak aktifitasnya dan fokus berbicara dengan Lily. "Aku Elena, salam kenal."
Wanita bernama Elena ini menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Lily. Tanpa pikir panjang pun Lily dengan tersenyum menerima tangannya dan membalas dengan memperkenalkan diri kepada wanita itu.
"Aku Lily."
Setelahnya, Elena segera kembali ke dalam dan membawa seorang anak laki-laki yang sedikit lebih muda darinya. Anak laki-laki itu terlihat biasa-biasa saja, tidak tampan dan menarik dibandingkan anak lainnya. Hanya saja Lily menyadari anak itu murah tersenyum dan membuat dirinya nampak bersinar di antara anak seusianya.
"Dia adikku," kaya Elena memperkenalkan adiknya kepada Lily.
Berada di dalam, Lily sejenak melihat-lihat sekeliling dan menemukan banyak sekali buku-buku yang terpajang di rak-rak besar. Tanpa perlu dia bertanya kepada Elena, Lily dengan mudah menyadari bahwa ayahnya ini sepertinya seorang bangsawan yang gemar membaca. Itu terbukti karena bukan hanya di lantai dasar yang terdapat banyak sekali buku-buku itu, tapi ketika Lily beranjak menaiki tangga bersama Elena dia kembali melihat beberapa rak buku.
"Nona pasti terkejut melihat rumah ini begitu banyak buku-buku. Sebenarnya ini milik ayahku yang senang membaca dan mengoleksi buku," kata Elena.
"Ya, cukup yakin dia memiliki minat besar terhadap buku-buku pengetahuan maupun seni. Sampai-sampai dia memiliki buku karya Isac, yang bahkan sudah tidak pernah terlihat dalam beberapa puluh tahun terakhir," kata Lily sambil tersenyum tipis.
"Kau...." Elena terbelalak dan menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Membuat Lily yang sebelumnya masih berjalan ikut berhenti.
"Maksudku, Nona ... bagaimana bisa kamu mengetahuinya?" Elena bertanya dengan gugup, wajahnya pun menjadi begitu jelek saat melihat punggung Lily yang tengah membelakanginya di depan.
"Oh?"
Lily berbalik arah dan menatap Elena secara langsung. Dia melihat bagaimana wanita di hadapannya itu membuang tatapan waspada ke arahnya. Lily menjadi semakin yakin, Elena dan ayahnya memiliki sesuatu yang disembunyikan, terlebih setelah melihat reaksi Elena yang berlebihan atas tanggapannya.
"Tentu saja aku tau, lagipula dia selalu memamerkan karyanya di hadapan kami. Dan ya, dia selalu saja membanggakan diri di depan Mikaela. Dia itu benar-benar si bocah tukang pamer."
Lily tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan elegan, setelah menjelaskan itu kepada Elena. Meski pada akhirnya wanita itu menjadi semakin bingung dan tidak bisa mencerna apa maksud dari perkataan tamunya itu. Dia pun hanya mengangguk dan berjalan dengan langkah canggung membawa Lily, sampai tibalah keduanya di depan sebuah pintu yang cukup besar.
Elena pun menarik napas panjang sebelum membuka pintu itu. Setelahnya dia berjalan terlebih dahulu di depan sementara Lily mengikutinya dari belakang. Elena pada dasarnya ingin menyapa ayahnya terlebih dahulu dan memperkenalkan Lily sebagai tamu yang ingin bertemu dengannya. Namun, begitu dia selesai berbicara dengan ayahnya itu, seorang pria lain yang sedang mengobrol dengan ayahnya di sofa berdiri dengan kaget. Pria itu melihat Lily dengan tatapan tidak percaya dan terkekeh sesudahnya. Sementara Lily sendiri tiba-tiba tersenyum tipis setelah keduanya bertatapan muka.
"Ini... Tuan... apa kalian berdua saling mengenal?" kata pria lain yang sepertinya dia ayahnya Elena.
"Mungkinkah...."
Elena yang cepat tanggap dibandingkan ayahnya mulai merasa sesuatu telah salah di sini. Dia pun teringat dengan kata-kata Lily sebelumnya, dan itu membuat dugaan kasar tentang hubungan di antara mereka berdua. Sontak saja dia menutup mulutnya dengan kedua tangan dan melirik ke arah ayahnya. Dia pun hendak melanjutkan perkataanya, hanya saja itu terpotong karena Lily sendiri yang memperjelas dugaannya itu.
"Sungguh, merepotkan. Benar saja kami tidak bisa menemukanmu di wilayah timur. Ternyata kau di sini rupanya?"