I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 89 : Saatnya Pergi



Di tengah terik matahari yang membakar kulit, para prajurit berbaris dengan atribut lengkap di alu-alun kota. Disaksikan oleh beribu pasang mata yang sedang berdesakan di pinggir jalan untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di sana.


Berada di ujung jalan, berdiri Sang Raja dan Ratu serta beberapa bangsawan yang memiliki hubungan dengannya. Para selir dan pangeran juga turut hadir, terkecuali salah satu selir yaitu Juleaha. Sudah lebih dari seminggu dia tidak menampakan dirinya, semenjak insiden kematian para tabib kerajaan di penjara. Membuat selir itu tampak buruk dipermukaan dan menjadi bahan perbincangan karena diduga dalang di balik kejadian tersebut. Itu bukanlah sesuatu yang dirahasiakan lagi, karena gosip itu sudah menyebar ke seluruh penjuru kerajaan, di dalam benteng utama.


Berbaris dengan rapih, para pangeran dengan malas berteduh di bawah payung yang dipegangi oleh pelayan mereka. Para pangeran itu tampak kesal, dan kerutan terlihat di keningnya tatkala menunggu lama karena Mavis belum kunjung menampakan dirinya.


"Bocah sialan itu! Sudah bagus dia diusir, tapi masih saja menyusahkan orang lain!" Dalam hati Pangeran Bernard mengutuk Mavis karena membuatnya sampai datang di tempat ini. Juga, karena belakanganya ini ibunya tengah menjadi sorotan publik yang buruk, dia sebagai anaknya ikut terkena dampaknya. Seperti contoh para warga yang membicarakan dia di belakang, mengumpat bahkan mencaci dia karena tidak tau malu menampakan diri.


"Lihat! Bukankah itu Pangeran Bernard?" Salah seorang warga setengah berbisik kepada temannya di samping.


"Ya, itu dia."


"Setelah apa yang dilakukan ibunya kepada sang ratu, benar-benar tidak tau malu dia menunjukan wajahnya di hadapan semua orang.


"Jika saja dia bukan anak sang raja, sudah pasti aku beri dia pelajaran dengan memukuli pantatnya sampai berwarna hitam!" kata pria itu lagi dengan begitu emosi. Bahkan dia sampai meludah karena tak tahan melihat wajah dari pangeran itu.


Sang raja juga masih berdiri sambil tersenyum, menunggu kedatangan anaknya itu di bawah payung berlapis emas. Berada tak jauh di sana terlihat Fergus dan kepala departemen lain yang ikut menemani sang raja. Mereka sesekali menjawab pertanyaan ketika sang raja bertanya.


Sementara itu, berada di dalam kediaman Pangeran Asta. Berbaris rapih pelayan milik Mavis dengan pakaian yang menawan, di lain sisi Mavis sendiri sudah mengenakan balutan pakaian khas pangeran yang telah dirancang oleh penjahit ternama kerajaan. Pakaian itu tampak menakjubkan, terlebih ketika Mavis yang menggunakannya. Dia melihat ke arah cermin dan menyunggingkan senyuman terbaiknya, ketika dalam hati dia membatin, mengapa dia begitu sempurna?


"Tuanku, persiapannya telah selesai." Lily datang dari luar dan langsung menghampiri tuannya itu.


"Apa kamu yakin akan pergi sendiri?" Mavis membalik badan, kemudian menatap serius kedua matanya.


Mavis awalnya ingin mengirimkan Lily bersama Violet dan juga Scott, berhubung keduanya memiliki kemampuan kombinasi ilusi yang bagus, untuk berjaga-jaga kalau ada sesuatu yang buruk dan berbahaya terjadi, mereka bertiga bisa melarikan diri dengan selamat. Hanya saja Lily mengatakan bahwa dirinya lebih dari mampu untuk berpergian sendirian, begitu juga dengan apa yang dikatakan makhluk bayangan yang lain, tentang kemampuan Lily yang tidak boleh dianggap remeh.


Mavis tau, Lily kuat dan bukan hanya penyembuh biasa, hanya saja dia masih khawatir jika dia pergi sendiri. Bagaimana jika dia jatuh dalam perangkap dan mati terbunuh? Andai kata Lily mati untuk kedua kalinya, apa Mavis bisa membangkitkan dia lagi? Semuanya masih abu-abu, dia belum tau jelas tentang itu.


"Tuanku harap tenang, meski aku tidak mahir seperti yang lain dalam bertarung, aku masih memiliki trik untuk menghadapi musuh-musuhku," kata Lily.


"Baiklah, jika memang kamu memang merasa mampu. Tugas ini aku percayakan padamu, Lily." Mavis mengembuskan napas berat dan melepaskan kepergian pelayannya itu. "Pergilah, dan selesaikan tugas dariku itu, kemudian segera kembali padaku."


"Ingat, aku masih membutuhkanmu, jadi kembalilah dengan selamat."


"Baik, Tuan."


Lily memberi hormat dan kembali ke dalam barisan para makhluk panggilan. Selanjutnya, Mavis sejenak mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamarnya. Kamar milik sang pangeran yang dulu mendiami tubuhnya ini, pangeran yang sombong, pangeran yang keji, pangeran yang celaka. Namun, sekarang pangeran itu telah lenyap dan digantikan oleh Mavis yang datang dari dunia lain. Setelah cukup, dia tersenyum dan melangkah maju meninggalkan kamarnya itu, beranjak menuju alun-alun di mana mereka semua sudah menunggu kehadirannya.