I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 127 : Kepulangan Sang Pangeran



Langkah kaki gadis itu terhenti ketika sampai di padang rumput, wilayah terluar dari kekuasaan kuil suci. Masih menggunakan pakaian serba putih, dengan napas terengah-engah dia bersandar pada balik pohon seraya melirik ke arah belakang, untuk melihat apakah ada yang menyadari keberadaannya, atau mencari tau orang-orang dari kuil suci itu mengejarnya atau tidak.


Menunggu sembari beristirahat, syukurlah belum ada yang menyadari kepergiannya. Oleh karena itu setelah dia cukup beristirahat, kembali dia melanjutkan perjalanan untuk menjauh dari tempat gila ini. Yah, sangat gila! Dia tidak bisa berkata apa lagi setelah menyadari bahwa apa yang semua dikatakan pria itu adalah kebenaran yang sesungguhnya. Kuil suci yang terlihat baik dari luar, mengatakan bahwa pengikut setia para dewa yang agung, itu malah berbuat keji kepada keturunannya! Mereka bahkan melakukan hal-hal buruk untuk mendapatkan kekuasaan.


Pria di balik jeruji besi itu benar-benar tidak membual. Dia memberikan kekuatannya kepada Yennefer, bahkan pria itu rela kehilangan nyawanya untuk membantu gadis itu melarikan diri. Sungguh, Yennefer sangat bersyukur terkurung di dalam tempat gelap itu dan akhirnya dia bertemu dengan pria itu, kalau tidak dia akan selamanya terikat dengan tempat itu, dan mengikuti ajaran bodoh kuil suci yang menyesatkan.


Yennefer bersumpah akan menepati janjinya, suatu saat dia pasti akan kembali untuk membayar jasa pria itu, dengan menghancurkan kuil suci!


Beralih pada tempat lain, di tengah teriknya matahari sebuah rombongan super skala besar muncul, dan itu tengah bergerak menuju wilayah perbatasan selatan kerajaan. Terlihat dari kejauhan pasukan berzirah lengkap, serta beberapa ahli di barisan terdepan, dan tidak terlihat satupun atribut atau lambang dari mana pasukan itu berasal, seperti sengaja mereka sembunyikan. Seorang pria dari pos pemantau pun segera turun dari dinding dan melapor kepada pimpinannya.


".... jumlah mereka sangatlah banyak, itu terlihat seperti ribuan lebih. Mungkinkah mereka berasal dari kerajaan lain dan berniat menyerang kami?" Prajurit yang bertugas di atas dinding itu melapor dengan wajah tegang.


"Kembalilah dan terus pantau keadaanya, selanjutnya kabari bila kamu menemukan kejanggalan pada rombongan itu," kata kepala penjaga dinding dengan wajah gusar. Kemudian dia pergi untuk melapor kepada atasannya yang lebih memiliki wewenang dalam menjaga keamanan di benteng ini. Dia berpikir mungkin setelahnya dia bisa mengambil tindakan untuk mengirimkan burung pengantar pesan menuju ibu kota, setelah mendapat persetujuan dari atasannya itu.


Sesaat kepala penjaga dinding itu pun jatuh linglung. Dia benar-benar tidak habis pikir mengapa para atasannya itu bertingkah aneh dan bersikap tak acuh, alih-alih menyiapkan pasukan untuk bersiap? Mereka begitu yakin pasukan yang sedang bergerak ke tempat ini tidak bermaksud menyerang? Atau kelimanya memang mengenal rombongan itu? Sang kepala penjaga pun segera berlari keluar benteng untuk bertanya.


"Tuan, mungkinkah...." Sang kepala setibanya di tempat mendapati bahwa kelima atasannya itu melihat ke arah kejauhan dengan wajah penuh kerinduan. Hanya satu hal yang dapat dia pikirkan saat ini yaitu sosok pangeran yang merupakan penguasa baru wilayah ini telah kembali dari perjalanannya yang dirahasiakan.


Bulan hanya menoleh ke arah kepala itu tanpa repot membalik badan, kemudian mengangguk sebagai balasan. Setelahnya dia kembali menatap ke arah kejauhan sembari berbicara kepada tuannya itu melalui sambungan telepati.


Sang kepala pun mengangguk dan tersenyum sumringah, dia segera berlari pergi kembali ke dalam untuk menyebarkan kabar itu, agar para penduduk bersiap menyambut sang pangeran! Ini benar-benar berita baik bagi dirinya dan seluruh penghuni wilayah perbatasan itu. Pasalnya seluruh penduduk, termasuk dirinya telah menyaksikan bagaimana kehebatan sang pangeran dalam membangun wilayah perbatasan sampai seperti yang terlihat sekarang ini.


"Bulan, apakah kamu telah menyiapkan apa yang kuminta sebelumnya? Apa semua telah lengkap?" kata Mavis dengan nada antusias, dia kembali bertanya kepada pelayannya itu.


"Tuan harap yakin, kami telah menyiapkan dengan baik semua yang Tuanku butuhkan. Dalam hal ini kami telah selesai sejak pagi hari berkat Isac yang ikut membantu dalam menyiapkannya."