I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 105 : Surat Yang Tidak Pernah Sampai



Sang Pangeran memperhatikan sosok misterius itu berhenti di hadapannya. Mengambil jarak yang cukup jauh, keduanya saling bertatapan untuk waktu yang lama. Sebelum pada akhirnya sang pangeran memutuskan untuk berbicara terlebih dahulu, menyapa sosok tersebut dengan penuh sopan dan santun. Tak lupa sang pangeran menyunggingkan senyuman terbaiknya, senyuman yang manis dan mampu memikat banyak hati para wanita bangsawan. Tentu, sang pangeran tidak bermaksud untuk itu, lagipula sang pangeran tidak mengenal sosok itu wanita atau pria, dan juga kedatangannya ke tempat ini dengan niatan baik atau buruk, semuanya masih belum jelas. Dia hanya ingin memperlihatkan keramahan, sebagai orang yang mewakili kerajaan.


"Salam, aku Pangeran Arslan dari Kerajaan Baratajaya." Sang pangeran memberi penghormatan layaknya seorang bangsawan dengan tangan menyentuh dada.


Keheningan melanda begitu sang pangeran selesai dengan perkataannya. Sosok misterius itu membuka jubah yang menutup bagian atas kepalanya, memperlihatkan penampilan sebenarnya seorang wanita muda dengan lesung pipi di wajah. Wanita itu tersenyum dan membalas sapaan sang pangeran dengan anggukan kepala.


Dia sebenarnya seorang wanita? Sang pangeran tidak bisa untuk tidak terkejut, rahang bawahnya seakan jatuh ke tanah tatkala terpesona dengan penampilan wanita itu, keindahan langka yang mampu mengguncangkan sebuah kerajaan! Sebenarnya wanita secantik itu merupakan seorang master? Sang pangeran pun jatuh hati pada pandangan pertama, wanita itu benar-benar tipenya.


"Apa kalian datang untuk menyambut kedatanganku? Bukankah ini terlalu berlebihan? Mengapa perlu begitu banyak orang?" kata Lily.


"Eh?"


Sang Pangeran jatuh linglung dan menaikan setengah alisnya. Dia tidak mengerti, mengapa wanita itu bisa mengira mereka datang untuk menyambutnya? Sang pangeran pun buru-buru meluruskan kesalahpahaman ini dan berkata, "Maaf, Nona telah salah paham. Kami di sini memang karena kedatangan Nona, hanya saja itu bukan untuk menyambut, tapi kami ingin memberitahukan kepada Nona bahwa saat ini ibu kota kerajaan sedang tidak bisa dimasuki oleh orang luar."


Sang pangeran berbicara dengan nada ramah dan juga hangat. Tidak ada jejak provokasi sama sekali, dia benar-benar memperlakukan Lily dengan sangat baik.


"Oh, benar. Namaku Lily, dari kerajaan berafiliasi tiga di bagian timur benua," kata Lily dengan ekspresi canggung. Bisa-bisanya dia lupa memperkenalkan diri.


Sang pangeran mengangguk, meski tidak paham mengapa wanita itu tiba-tiba bersedia memperkenalkan diri? Sang Pangeran pun jatuh dalam pemikiran mendalam dan sesaat terdiam. Setelah dia beberapa saat mencerna perkataan dari wanita itu, dia baru menyadari bahwa wanita itu sebenarnya datang dari timur benua.


Bukankah itu aneh berpergian seorang diri jauh melintasi padang pasir dan tiba di wilayah utara?


Sang pangeran masih memaklumi wanita itu bisa selamat dari para serangga penghisap darah, lagipula nenek tua itu berkata dia sangatlah kuat. Sang pangeran masih tidak mengerti bagaimana wanita yang ada di hadapannya itu bisa menemukan arah ke wilayah utara di tengah badai gurun yang mematikan? Perlu diketahui, di tengah gurun itu segala macam bentuk sihir dan alat penunjuk arah tidak akan berfungsi dengan baik, semua pada akhirnya akan dikecoh oleh gurun pasir itu sendiri. Dengan demikian, berpergian melintasi gurun pasir dari timur ke utara atau sebaliknya masihlah sesuatu hal yang sulit dilakukan. Sehingga, sampai saat ini masing-masing wilayah tidak bisa mempengaruhi satu sama lain.


Sebenarnya dia bingung mau berkata apa, tapi karena tidak mungkin mereka terus berada di sini, sang pangeran pun angkat bicara, "Nona datang jauh-jauh dari timur, sangat disayangkan tidak bisa berkunjung ke ibukota kami. Kalau boleh tau bisnis apa yang dimiliki Nona? Aku bisa membantu Nona untuk mengurusnya."


"Surat?"


"Ya, lebih dari satu bulan yang lalu pihak kerajaan kami telah mengirimkan surat kepada raja kalian." Lily berkata dengan wajah serius, siapapun yang melihat pasti berpikir dia sedang tidak berbohong.


Melihat reaksi sang pangeran dan para prajurit yang tidak yakin dengan pernyataannya, Lily pun menghela napas berat. Kemudian dia melanjutkan perkataannya, "Itu sesuatu yang penting untuk dibicarakan."


Sang pangeran yang paham segera mengangkat tangan kanannya rendah, mengisyaratkan para prajurit untuk mundur dan memberi jarak untuk keduanya berbicara secara rahasia. Selanjutnya sang pangeran menggerakkan kudanya dan mendekat ke arah wanita itu.


"Ini, ambillah...." Lily mengrimkan sebuah gulungan surat kertas itu dengan kemampuannya, sebuah ranting perlahan muncul dari telapak tangannya dan menjalar lurus menuju sang pangeran. Setelah itu sampai di tangan sang pangeran, Lily pun melanjutkan, "Tuanku telah menduga hal ini mungkin saja terjadi, maka dari itu aku membawakan surat yang sama sebagai gantinya."


Sang pangeran dengan wajah ragu membuka gulungan itu. Kemudian dia mulai membaca isi dari surat itu dengan hati-hati dan merangkum secara keseluruhan. Setelah dia selesai membaca habis surat itu, sang pangeran terdiam membeku, seraya menatap Lily dengan pandangan skeptis.


"Terimakasih atas niatan baik dari Kerajaan Sriwijaya karena telah mau membantu kerajaan kami. Aku sebagai perwakilan dari pihak kerajaan sangat menghargai ketulusan dari kalian. Hanya saja, keadaan di sini telah semakin memburuk, aku takut Nona tidak bisa mengatasinya dan malah berakhir membahayakan keselamatan Nona," kata sang pangeran, melemparkan tatapan cemas ke arah Lily.


"Ah, itu ... bukan maksudku untuk meremehkan Nona...."


"Aku mengerti." Lily bukan hanya tidak tersinggung, dia malah tersenyum alih-alih mengangguk sebagai balasan dari penolakan sang pangeran.


"Hanya saja, Tuanku telah mempercayakan tugas ini padaku. Sesulit apapun itu aku akan tetap berusaha, aku benar-benar tidak ingin mengecewakan Tuan."


"Mengenai kunjunganku ke ibu kota kerajaan, kau tidak perlu khawatir untuk itu. Berikan saja aku sedikit bantuan ...." Lily pun memutuskan untuk melupakan niatannya memasuki ibu kota kerajaan itu. Dia berniat pergi langsung ke wilayah kerajaan yang terjangkit wabah penyakit itu. Dengan demikian, dia meminta bantuan sang pangeran untuk memberikan sebuah peta lengkap kerajaan.


Tentu saja sang pangeran tidak keberatan untuk memberikan hanya sebuah peta kerajaannya. Dengan begitu urusannya dengan wanita itu berakhir dengan damai. Namun, entah mengapa perasaan sesak sedikit muncul begitu wanita itu menghilang dari jarak pandanganya. Cukup yakin, tanpa pangeran itu sadari bahwa sebenarnya dia telah jatuh hati pada wanita itu.