
"Sampai jumpa."
Lily tersenyum sebelum akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke belakang, terjun bebas langsung ke arah luar jendela. Dia mendarat dengan posisi sempurna dan pergi meninggalkan mansion itu dengan langkah menyelinap. Berada di belakangnya, seorang pria mengikuti langkah yang serupa. Pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Isac, yang memutuskan pergi mengikuti Lily semenjak bertemu dengannya di pemukiman kecil milik Baron Sifferdi, yang mana ayah dari Elena.
Sementara itu, Pangeran Arslan dan ingrid, bersama dengan dua penjaga yang mengantar telah tiba di luar pintu sebuah kamar. Kedua penjaga itu pun segera memberitahukan kepada para pengawal yang berjaga di luar pintu bahwa telah kedatangan Pangeran Arslan. Dengan sigap keempat pengawal memberi salam hormat dan mempersilahkan sang pangeran untuk masuk.
Sesaat Pangeran Arslan menarik napas panjang, sebelum akhirnya menarik gagang pintu dan membukanya. Setelah memastikan Pangeran Arslan dan wanita rese itu elah masuk ke dalam, kedua penjaga itu segera pamit dan kembali ke tempat mereka berjaga di luar gerbang.
"Salam, Pangeran Daryl." Pangeran Arslan memberi hormat seraya tersenyum kepada pria di hadapannya.
"Kau ... kalian mengapa bisa ada di sini?" kata Pangeran Daryl dengan wajah terkejut. Dia segera berjalan mendekat dan memeluk adiknya itu dan tertawa kecil. Tangannya menepuk pelan pundak Pangeran Arslan, alih-alih mengekspresikan rasa senangnya karena dapat bertemu kembali dengan adik kesayangannya itu.
"Dasar anak nakal, apa Yang Mulia Raja tau kamu pergi ke sini?" Pangeran Daryl melepas pelukan itu dan menjitak keras kepala Pangeran Arslan dan juga pelayannya.
"Pangeran, mengapa kau menjitakku juga?" kata Ingrid, mengeluh sambil mengelus bagian atas kepalanya.
"Sudah kubilang, aku bukan anak kecil lagi, Kak! Delapan belas! Umurku sudah delapan belas tahun!" kata Pangeran Arslan dengan nada begitu kesal, dia mengernyit menatap kakaknya yang tengah menertawainya.
"Ingrid, kamu sungguh mengecewakanku. Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk mengawasi anak ini? Apa kamu tidak memberitahunya kalau sangat bahaya datang ke tempat ini? Untung saja keadaan sudah aman, wabah itu telah sepenuhnya diatasi. Kalian ini benar-benar sembrono!"
"Tenang, Pangeran Daryl. Yang Mulia Raja telah mengetahui keberangkatan kami dan menyetujuinya," kata Ingrid.
"Bagaimana bisa?" Pangeran Arslan jatuh dalam pemikiran mendalamnya dan melirik ke arah sang adik dengan wajah skeptis. Sulit dipercaya Yang Mulia Raja akan menyetujui hal itu. Dia pun menduga dengan kasar apa yang sebenarnya telah terjadi di sini.
"Apa kamu telah membuat kesalahan besar? Sampai-sampai ayah mengirim kamu ke tempat ini?"
"Tunggu, Kakak telah salah paham!"
"Ayah telah mendengar tentang kesembuhan kamu dan warga lainnya dari surat yang dikirimkan tempat ini. Oleh karena itu ayah mengirim aku untuk menjemput Kakak kembali ke ibu kota."
"Jadi begitu."
Pangeran Daryl menjadi bertanya-tanya dalam hati, bagaimana bisa berita itu sampai di telinga sang raja begitu cepat? Dan juga dia penasaran, siapa yang mengirimkan pesan itu kepada sang raja?
"Apa dia yang mengirimnya?" kata Pangeran Daryl dalam hati.
Setelah menimbang segala kemungkinan, akhirnya dia paham bahwa Nona Lily sendiri yang mengirimkan kabar itu ke ibu kota kerajaan. Hanya saja dia sedikit bingung, metode apa yang digunakan Nona Lily? Sampai bisa menerobos penjagaan yang begitu ketat dan pesan itu sampai di tangan sang raja?
Sebenarnya, apa yang tidak diketahui Pangeran Daryl bahwa Lily telah memainkan trik kecilnya, yaitu mengrimkan pesan bersama burung khusus dari sedikit benang auranya. Sehingga pos pemeriksaan dan penjaga biasa akan mustahil dalam mendeteksi keberadaan burung itu. Kecuali jika ada master kuat berlencana ungu di ibu kota, itu baru bisa menyadarinya.
Mereka berbincang lumayan lama setelah duduk di atas sofa. Terutama Pangeran Daryl, dia mulai menceritakan mulai dari kedatangannya di tempat ini, mengalami nasib buruk karena wabah penyakit tersebut, dan harus melihat rakyatnya yang menderita dan mati satu persatu. Sampai diakhir dia bercerita bagaimana pertama kali bertemu dengan seorang master yang telah menyelamatkan para penduduk.
"Namanya Lily, aku sangat berterimakasih padanya karena telah banyak membantu kerajaan menangani wabah penyakit itu. Yang kudengar dia juga pergi ke seluruh wilayah kerajaan untuk menyembuhkan para penduduk kerajaan, bukankah dia begitu luar biasa?"
"Ya, kau benar. Dia begitu luar biasa, cantik dan juga kuat."
"Ah, tidak ... hanya aku mengenal Nona Lily. Sebelumnya aku telah bertemu dengannya di depan gerbang ibu kota dan terjadi sedikit kesalah pahaman. Sekarang, apa kamu tau Nona Lily ada di mana, Kak? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya."
"Kamu kurang beruntung. Beberapa saat yang lalu sebelum kamu masuk ke dalam kamarku, Nona Lily telah pergi."
"Apa!" Pangeran Arslan tersentak dan bangkit dari duduk.
"Mengapa kamu begitu terkejut?" kata Pangeran Daryl.
"Ini... mengapa Kakak tidak menahannya sampai aku datang!"
Berada di samping, Ingrid melirik ke arah Pangeran Daryl, begitu pula sebaliknya sang pangeran melirik ke arah Ingrid dengan tatapan heran. Seakan-akan bertanya kepada pelayan itu, sebenarnya apa yang terjadi pada adiknya? Mengapa dia menjadi begitu marah dan meneriaki kakaknya ini?
"Kamu begitu marah hanya karena Nona Lily pergi. Bahkan sampai berani membentak kakakmu ini?"
Pangeran Daryl bangkit dan merangkul adiknya itu dengan kencang, kemudian menjitaknya sekali sebagai balasan. Tentu Pangeran Arslan mengerang kesakitan dan dengan kesal mencoba melepaskan kunci dari tangan kakaknya itu.
"Bukan begitu ...."
"Lalu apa?" Pangeran Daryl sejenak berhenti menggangu dan menatap wajah adiknya itu dengan tatapan skeptis. Sebenarnya, dia tidaklah serius marah kepada Pangeran Arslan. Dia hanya ingin menggangu adiknya itu setelah melihat gelagat dan raut wajahnya yang salah tingkah.
Pangeran Daryl yang menyadari akan sesuatu pun segera memasang wajah aneh untuk menggoda adiknya.
"Mungkinkah kamu menyukai Nona Lily?" kata Pangeran Daryl.
Berada di sisi lain Pangeran Arslan tidak tau harus menjawab apa. Dia hanya terdiam dan kembali duduk. Sejatinya dia tidak berniat menanggapi pertanyaan kakaknya itu, yang berarti dia tidak membantah kalau dia benar menyukai Nona Lily.
"Sangat disayangkan, Nona Lily telah berpamitan pergi untuk kembali ke timur. Sepertinya dia tidak akan kembali, jadi aku sarankan kamu untuk berhenti mengejarnya."
"Demi kebaikanmu."
Pangeran Daryl kemudian beranjak ke meja kerjanya, membuka sebuah perkamen baru dan menyerahkan itu kepada Pangeran Arslan.
"Nona Lily meminta bantuan kepada Kerajaan Baratajaya, sebagai bentuk balasan karena telah membantu menghilangkan wabah penyakit di kerajaannya. Dan aku telah menyetujui itu, terlepas resiko apa yang akan ditanggung kerajaan. Bagaimanapun Nona Lily sudah sangat berjasa kepada kerajaan. Dan aku cukup yakin, Yang Mulia Raja tidak akan keberatan mengirimkan beberapa ahli ke timur untuk membantunya."
"Di sini kamu masih memiliki kesempatan untuk pergi dan bertemu dengannya. Namun perlu kamu ingat, mungkin Yang Mulia Raja tidak akan suka dengan keputusan itu. Kemungkinan terburuknya itu akan membahayakan posisimu sebagai seorang pangeran. Kemungkinan lainnya kamu tidak akan bisa kembali ke benua utara, mengingat perang besar akan terjadi di kerajaan itu. Kalau tidak salah Nona Lily menyebutkan Kerajaan Sriwijaya, kerajaan berafiliasi tiga di benua timur."
"Terimakasih karena telah mencemaskan aku. Namun, Kakak seharusnya tau dengan baik bagaimana sifat adikmu ini. Sesuatu yang aku inginkan haruslah menjadi milikku. Terlepas itu dapat membahayakan posisi ataupun nyawa, aku akan tetap memilih pergi," kata Pangeran Arslan, tersenyum lega menanggapi kakaknya itu.
"Yakinlah, kamu akan menyesal dengan keputusanmu ini. Lagipula Nona Lily bukan wanita yang mudah untuk didekati." Pangeran Daryl menghela napas berat ketika melihat kesungguhan dari wajah adiknya itu. Dia pun melanjutkan perkataannya, "Kalau begitu aku tidak bisa menahanmu pergi jika kamu bersikeras untuk itu."
"Hanya aku harus merepotkan Kakak, untuk membantuku berbicara pada Yang Mulia Raja dan Selir Adriana."
"Baiklah, kakakmu ini akan berusaha membantu."