I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 140 : Pasukan Pengalihan



Berada di barisan paling belakang aliansi tiga kerajaan, seorang wanita menggunakan lencana biru di jubahnya datang untuk melapor kepada sang komandan. Terlihat jelas wanita itu sangat gelisah lantaran memikirkan nasib kawan-kawannya yang masih bertarung dengan para elite petualang berlencana merah dari benua bagian utara.


"Komandan Juya, sepertinya ketujuh ahli yang dikirimkan sebagai pengalihan tidak bisa bertarung lebih lama lagi dengan pihak lawan. Para petualang yang berasal dari utara itu sangatlah kuat, aku takut mereka tidak akan bertahan dalam hitungan beberapa menit lagi. Mengingat durasi ramuan peningkatan kekuatan akan sebentar lagi habis, para ahli dari utara itu pasti akan segera menyadarinya," kata wanita penyihir bernama Sonya itu dengan wajah khawatir.


"Bersantailah. Segala sesuatunya telah direncanakan dengan sangat matang. Begitu durasi ramuan itu telah habis mereka akan segera mundur dan melarikan diri, begitu juga dengan para prajurit di pihak kami." Komandan itu duduk tenang di atas tunggangannya, tersenyum ketika menikmati jeritan dan dentuman datang dari pasukan yang mati silih berganti. "Bagaimanapun kita harus mengalihkan perhatian mereka untuk memberi waktu pasukan utama bergerak memutar langsung menuju ibu kota Kerajaan Sriwijaya."


"Baiklah, aku akan membantu para petualang itu melarikan diri nantinya. Kalau begitu aku akan pamit dari sini, Komandan Juya." Sonya memberi salam penghormatan sebelum pada akhirnya melesat ke arah teman sesama penyihirnya itu.


Sementara itu beralih di tempat lain, masih berada di wilayah selatan paling atas dekat barat daya.


Pasukan berjumlah lebih dari tiga puluh ribu beserta belasan ahli puncak berlencana merah terlihat mengambil jalan memutar ke arah wilayah barat daya Kerajaan Sriwijaya. Dalam pasukan tersebut terlihat sosok pria muda menggunakan mahkota pangeran menunggangi kuda putih, sementara berada di belakangnya nampak pria berpakaian serba putih dengan pembawaan yang tenang.


"Pangeran, menurut pengelihatan Nona Maya berada jauh di depan muncul ribuan pasukan yang berniat memblokir jalan kita. Haruskah kita memutar lebih jauh lagi ke barat untuk menghindari bentrok dengan pasukan itu?" kata seorang pria yang merupakan pengawal kesatria pangeran itu.


"Apa kamu bodoh? Mengapa repot-repot bertanya jika sudah jelas jawabannya?" Pangeran itu mengerutkan kening, kesal setelah mendengar pertanyaan konyol bawahannya itu. "Percepat gerakan pasukan, bunuh siapapun yang berniat menghalangi jalanku di depan."


Segera pasukan itu mempercepat pergerakan mereka. Kemudian tak berselang lama, mengambil jarak yang cukup, pasukan itu berhenti atas komando sang pangeran. Sesaat keheningan terjadi di antara kedua belah pihak yang saling melirik satu sama lain, sampai pada saat seorang ahli dari sisi aliansi tiga kerajaan itu buru-buru memberikan tanggapan kepada tuannya itu.


"Pangeran, menurut apa yang kulihat pasukan mereka sangatlah tidak normal. Bukan saja terdiri dari prajurit manusia biasanya, ras kuno lainnya yang biasa mendiami dungeon besar seperti goblin dan dwarf bergabung dalam pasukan mereka," kata Maya dengan raut wajah yang masam.


Sejatinya wanita penyihir kecil itu masih merasa bahwa pasukan dari pihak musuh tidaklah sesederhana yang terlihat. Meski kemampuannya terbatas pada pengelihatan jarak jauh dan tidak bisa mengukur standar tempur di pihak musuh, Maya masih dapat melihat jelas bagaimana ekspresi pasukan itu yang semuanya tenang. Seakan sengaja menunggu pasukan besar dari aliansi ketiga kerajaan itu datang dan bergabung dalam pesta. Sederhananya hal tersebut menandakan bahwa mereka memiliki kualifikasi untuk itu.


"Pangeran-"


"Kau terlalu banyak bicara."


Namun sayangnya, sang pangeran dengan angkuh menghiraukan perkataan penyihir bertubuh mungil itu. Bagi sang pangeran, selama ada dukungan dari pria berjubah putih di belakangnya itu, tidak ada yang perlu ditakutkan. Selanjutnya sudah dapat ditebak, Pangeran bernama Gregor itu memberikan arahan kepada prajurit untuk memulai penyerbuan.