
Berada di tempat lain, di sebuah bangunan berlantai dua. Seorang pria dengan tumpukan lemak di perutnya, terlihat tengah berjalan bolak-balik dengan wajah cemas. Dia sesekali mengumpat dan memaki seorang diri. Sementara itu berada tidak jauh dari pria sebelumnya, seorang pria seumurannya tampak tenang dan tidak banyak berkomentar. Sikapnya datar, seakan meninggalkan jejak ketidak pedulian dengan apa yang terjadi.
Pria itu hanya bereaksi ketika pria gembrot itu bertanya kepadanya, dia pun akan menjawab dengan seadanya. Itu membuat pria gempal itu menjadi begitu kesal dan menjadi sangat marah.
"Benar-benar tidak berguna!" Lemak itu mencemooh perilaku bawahannya karena tidak banyak berguna. Dia benar-benar telah salah berpikir bahwa dengan membeli seorang budak berkualitas tinggi, dia bisa mendapatkan seorang petarung setia yang akan melayaninya. Hanya saja dia malah mendapatkan kesialan karena tertipu oleh pedagang budak!
Pada dasarnya budak ini bukan saja tidak berguna ketika bertarung bahkan dengan prajurit lemah sekalipun, dia juga tidak banyak membantu dalam memberi saran ketika masalah datang seperti ini. Dengan kata lain, dia benar-benar budak tidak berguna! Pria gempal itu tidak bisa membantu tapi memaki pedangan budak karena telah memberi barang yang salah!
"Kau, Budak sialan!"
Si Lemak menampar pria itu dengan pukulan sekuat yang dia bisa, sementara pria itu sendiri hanya diam menerimanya dan terhuyung sesat. Kemudian dia kembali pada posisinya yang tegap tanpa ekspresi sekalipun.
"Kau bedebah tak berguna! Sialan! Apa kau tau berapa banyak uang yang aku habiskan hanya untuk membelimu?" Pria bertubuh gempal itu mendorong budak pria sampai jatuh tersungkur. Kemudain dia menginjak dan mendendang tubuh pria itu, sambil tertawa dan tersenyum jijik.
Tak berselang lama, ketika Si Lemak itu berhenti mengganggu budaknya, seseorang datang dengan langkah tergesa-gesa. Orang itu berhenti dan mengambil jarak di hadapan si penguasa gempal itu. Dia sejenak mengatur napasnya seraya membenarkan kacamatanya yang telah berger posisi. Kemudian dengan wajah cemas dia mulai berbicara kepada tuannya itu.
"Lapor, Tuan. Para pemantau telah mendeteksi kemunculan sang pangeran beserta prajurit yang dibawa," kata pria itu dengan wajah tegang.
"Apa! Kalau begitu kenapa kamu masih di sini? Sialan! Cepat kirim pasukan keluar! Bunuh Pangeran itu!"
"Ba-baik! Tuan!" Kemudian asisten berkacamata itu langsung memberi hormat dan pergi dengan langkah cepat.
Sementara itu, masih berada di atas tunggangannya Mavis melihat ke arah kejauhan. Itu terlihat sebuah pemukiman kumuh yang berada di luar dinding, lebih seperti tenda-tenda putih yang tidak kokoh. Debu dan pasir dari tanah tandus itu pun sesekali terhempas oleh angin, menyebabkan tempat tinggal itu sangatlah berbahaya untuk ditempati.
"Keadaan ini jelas lebih buruk daripada yang kupikirkan. Mereka para pejabat yang seharusnya menjaga dan membantu para rakyat, benar-benar tidak tau malu bersembunyi dibalik dinding," kata Mavis pelan. Dia berbicara seorang diri ketika sampai di pemukiman itu dan mengedarkan pandangannya.
"Tuan, aku memiliki tempat beristirahat yang baik. Harga permalamnya hanya satu koin perunggu. Apakah Tuan berminat?" Seorang pria dengan topi kain yang melilit di atas kepalanya datang menghampiri Mavis, dia memasang wajah ramah dan mulai menawarkan tempat penginapan yang dia kelola sendiri.
"Tidak, terimakasih." Mavis berkata seraya menggeleng pelan, lalu membalas senyuman dengan ramah.
"Tuan, tempat kami memiliki beberapa aksesoris yang cocok dengan Tuanku. Mengapa tidak coba untuk melihatnya lebih dulu?"
"Tuan! Kami memiliki tempat untuk bermalam yang baik, ada banyak wanita penghibur yang berkualitas baik untuk menemani Tuanku. Harganya hanya lima koin perunggu untuk satu malamnya. Dan jika Tuan membutuhkan pelayanan tambahan, Tuanku hanya perlu menambah dua koin perunggu perorangnya! Tuanku harap yakin, Tuan dapat puas memilihnya!"
"Tuan, aku menjual anakku. Dia sangatlah baik dan masih perawan. Beri saja aku lima potong roti untuk ditukarkan."
"Tuan ...."
Semakin Mavis dan rombongannya menyusuri jalan besar di antara tenda-tenda, semakin banyak penduduk di sana yang berbondong-bondong mendekat dan menawarkan apapun yang mereka miliki. Orang-orang itu pada kenyataanya sangat buruk dalam segi penampilannya, mereka semua rata-rata sangatlah kurus dan berkulit kusam. Mereka terlihat sangat kelaparan dan bahkan tak sedikit yang nekat menjual diri jika saja itu bisa ditukarkan dengan sepotong roti untuk dia makan.
Mavis pun yang tidak ingin terus menjadi pusat perhatian segera menyuruh kelompok rombongannya itu untuk segera bergegas pergi lebih cepat. Mereka pun melaju di jalan besar itu, sementara para penduduk yang berada di pinggiran semua menatap ke arah jalan di mana kelompok Mavis melewatinya. Orang-orang itu sedikit linglung dengan kehadiran kelompok Mavis, itu karena sudah sangat lama terakhir kali ada orang luar yang mau-maunya mengunjungi tempat gersang seperti ini.
"Baron Gustav, sepertinya kau benar-benar tidak mengecewakanku," kata Mavis dengan senyum pahit di wajah. Di dalam hati dia mengutuk penguasa sebelumnya itu yang telah membuat tempat ini menjadi sedemikian buruknya. "Dengan begini, aku semakin yakin untuk tidak membiarkanmu hidup lebih lama lagi, tunggu saja!"