I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 148 : Kedamaian Untuk Seluruh Seluruh Ras Di Daratan Benua



"Tuan, kami telah melakukan semua yang diperintahkan dan saat ini sedang dalam perjalanan untuk kembali ke perbatasan. Mengenai raja, kami telah memberitahukan itu ketika di aula pertemuan, sementara untuk sang ratu kami meninggalkan surat di dalam kediamannya." Akio menghubungi Mavis ketika sedang menunggangi kuda miliknya. Berada tak jauh di belakangnya terlihat pula Giraldo, Darius, Wed, dan juga Yennefer yang mengikuti dari belakang.


"Sangat baik, kuharap ayah dan ibuku setelah ini tidak mengkhawatirkan aku," kata Mavis dari seberang sambungan telepati. "Oh, aku hampir saja melupakan sesuatu, apa kalian bertemu dengan Wed dan seorang ahli wanita bernama Yennefer ketika di ibu kota? Seharusnya mereka telah sampai bersamaan dengan rombongan sang ratu."


"Kami bertemu dengan keduanya di dekat alun-alun ibu kota. Sekarang keduanya pun ikut dalam perjalanan kembali," kata Akio dengan nada yang lembut. Pandangannya sesaat teralihkan pada sosok wanita cantik dengan rambut yang tertiup angin di belakangnya itu.


"... jadi begitu."


Beralih di tempat Mavis sekarang berada, terlihat penampakan yang tak biasa pada diri pangeran itu. Tubuhnya jatuh lemah dan bersandar pada sebuah sofa yang berada di ruangan itu. Keringat membasahi wajah dan seluruh tubuhnya, membuat kaos polos berwarna putih yang dikenakannya basah dan membuat cetakan dada bidang miliknya dengan sangat begitu jelas.


Sistem : Mengekstrak bangkai berhasil [42/50]


Di hadapannya kini telah berdiri lima makhluk panggilan terakhir yang telah Mavis ekstrak untuk hari ini. Dengan demikian berakhirlah sesi ritual pembangkitan dari jasad-jasad yang telah dikumpulkan. Mavis dengan napas yang tersengal tertawa kecil dan tersenyum bangga. Tangannya yang lemas menggapai layar tatap muka sistem dan melihat bagaimana informasi yang ditampilkan tentang kelima makhluk panggilan barunya itu.


"Sambut pelayan ini kepada Tuanku, mulai saat ini aku bersumpah setia kepada Tuanku. Kami akan menjadi perisai untuk melindungi dan menjadi pedang tajam untuk menyingkirkan semua musuh Tuanku," kata salah satu makhluk bayangan itu. Kemudian empat lainnya yang masi dalam posisi yang sama yaitu setengah bersujud, mengirimkan salam penghormatan kepada Mavis untuk pertama kalianya.


"Benar, memang sudah seharusnya seperti ini. Tidak sia-sia aku menghabiskan seluruh tenagaku hanya untuk membangkitkan kalian semua. Sangat baik, sangat baik ...." Mavis bersukacita sembari melihat atribut dan kemampuan yang dimiliki Shawn, salah satu pelayan barunya itu.


"Karena semua telah selesai dibangkitkan, sepertinya aku harus mulai menghafal keahlian dari masing-masing dari mereka. Hanya dengan begitu aku dapat memaksimalkan tugas dan peran yang akan kuberikan di kemudian hari." Mavis pun memutuskan untuk melanjutkan kegiatannya melihat-lihat statistik para makhluk bayangan barunya itu.


Pertama dimulai dari Smith, pria berotot yang berada paling kiri kelimanya. Dia mengenakan pakaian khas layaknya seorang petarung silat, yang mana baju tanpa lengan dan celana panjang berwarna putih. Pria itu pada dasarnya menguasai kemampuan sihir transformasi tingkat lanjut yakni perubahan raja kera. Semasa menjadi manusia Smith tercatat sebagai seorang petualang berlencana merah di Kerajaan Mori dan memiliki pencapaian serta reputasi yang baik. Smith seorang pria pemberani dan memiliki jiwa penolong. Dia sangat mencintai seorang ahli wanita bernama Rosita yang merupakan istrinya.


Memanjang ke arah sebelahnya, wanita dengan pembawaan yang pemalu itu bernama Rikai, memiliki kemampuan khusus dalam memanipulasi ingatan dan memasuki alam kesadaran lawannya. Kemudian dilanjutkan pada Frey yang memiliki kontrol yang baik dari kelima elemen sihir. Frey ini menguasai satu dari mantra hebat berskala besar yakni Hujan Penghukuman Langit! Hanya saja mantra sihir itu memiliki serangan balik yakni mengurangi jangka hidup orang yang menggunakannya. Dengan kata lain itu sangat cocok digunakan dalam kondisi baru Frey yang saat ini memiliki tubuh abadi--tidak termakan oleh usia.


Berlanjut ke arah makhluk panggilan terakhir yang berada paling kanan. Namanya Itsuna, wanita itu memiliki pedang besar dan juga berat pada punggungnya. Dia memiliki kemampuan bawaan yang sangat spesial yakni tubuh yang dapat berubah menjadi sangat ringan ataupun sangat berat sesuai dengan apa yang diinginkan. Itsuna juga mampu mempengaruhi benda yang disentuhnya seperti yang dia lakukan pada tubuhnya. Hanya saja kondisi itu akan terpenuhi jika Itsuna memang menghendakinya.


"Cukup yakin, pihak aliansi ketiga kerajaan pasti sangat terpukul dengan kehilangan ahli-ahlinya." Mavis mengedarkan pandangannya ke arah seluruh makhluk panggilannya yang berada di ruangan itu. Selanjutnya bangkit dan berjalan ke arah luar balkon kamarnya. Memandang haru suasana di luar yang sangat tentram dan juga damai. Para penduduk di wilayah perbatasan itu sejatinya sudah mulai bergaul dan terbiasa dengan ras-ras lainnya yang tergabung dalam peperangan besar sebelumnya.


"Mungkin di seluruh daratan benua ini banyak yang berpikir bahwa mereka tidak dapat hidup berdampingan dengan baik. Sampai suatu saat aku akan membuat mereka menyadari bahwa pemikiran itu sangatlah salah. Segala sesuatunya tidak akan berakhir baik jika perselisihan antar ras terus berlanjut di daratan ini, setidaknya itu yang kupelajari dari ingatanku di kehidupan sebelumnya." Mavis berbicara sembari melihat ke arah Isabella yang sedang berjalan bersama seorang wanita dari pemukiman wilayah perbatasan ini. Keduanya pun terlihat berbincang dengan santai, dan sesekali keduanya tertawa ringan ketika ada sesuatu topik yang menurut keduanya sangatlah lucu.


"Tuan...." Mikaela berjalan mendekat dan berhenti di belakang Mavis, dia khawatir dengan perubahan suasana hati majikannya yang menjadi sangat emosional. "Apakah ada sesuatu yang membebani pikiran Tuanku?"


Mavis membalik badan, melihat sosok wanita cantik di hadapannya itu yang saat ini menatapnya dengan sendu. Dia pun buru-buru menggeleng seraya tersenyum hangat kepada Mikaela, mengisyaratkan bahwa semuanya dalam keadaan baik-baik saja. Sesaat bayangan kenangan dulu sewaktu pertama kali bertemu dengannya di pasar, menjadi momen paling membekas dalam ingatannya. Mavis tiba-tiba tertawa kecil saat mengingat penampilan Mikaela yang dulunya berpenampilan wanita tua.


"Tuan?"


"Ah, tidak, tidak...." Mavis kemudian mengembalikan ketenangannya, lalu melanjutkan, "Mikaela, segera atur persiapan keberangkatan para penduduk menuju Kekaisaran Menara Kembar. Pastikan mereka mendapatkan pemahaman bahwa tidak ada unsur pemaksaan pada keputusanku sebagai penguasa wilayah ini. Bagi mereka yang masih ingin tetap tinggal, maka tidak ada yang bisa melarangnya. Hanya katakan saja bahwa aku benar-benar tidak akan mengunjungi tempat ini lagi."


"Sudah saatnya membangun wilayah milikku sendiri, lepas dari campur tangan ayahku dan pihak-pihak lainnya. Membangun kekaisaran yang kelak dapat dihuni oleh siapapun, dari kalangan manapun, dan dari ras apapun itu. Semua dapat hidup berdampingan dengan bahagia dan terbebas dari diskriminasi, aku akan mewujudkan semua itu."