
"Apa kalian sudah tiba di sana?"
"Ya, Tuan. Aku juga membawa sesuatu yang ingin aku tunjukan kepada Tuan," kata Mikaela.
"Oh, apa itu?"
"Tuan harus melihatnya sendiri, aku membawa dua jasad manusia yang layak, mungkin Tuan akan menyukainya."
"Manusia? Eng... baiklah, aku akan segera ke sana setelah menyantap beberapa makanan dan membersihkan diri."
Mavis memutuskan sambungan komunikasi dengan Mikaela. Sesuatu menarik perhatiannya tentang kondisi jasad manusia yang dibawa Mikaela. Dia sedikit terkejut Mikaela bisa berpikir sampai sejauh itu dalam membantu Mavis dalam mencari bibit berkualitas untuk dijadikan makhluk panggilannya.
Dia jadi teringat saat awal menjadikan bangkai seekor burung pemakan biji-bijian sebagai makhluk panggilannya dan itu mengambil bentuk Buster yang sekarang. Bukan apa-apa, dia bukannya menyesal telah membangkitkan Buster. Dia hanya ingin lebih berhati-hati dalam memanfaatkan slot yang tersisa pada kemampuan mengekstrak bangkai. Baik-baik saja jika Mavis sudah berlevel tinggi, karena banyaknya slot akan bertambah seiring levelnya bertambah. Tetapi levelnya yang sekarang hanya bisa memungkinkan dirinya mengekstrak lima belas bangkai.
Berhubung terakhir kali Mavis membangkitkan Ivar, dia masih memiliki 2 slot yang tersisa, itu akan bagus jika jasad mayat manusia yang dibawa oleh Mikaela sesuatu yang baik. Mavis tidak meragukan penilaian Mikaela, lagipula iblis seperti dia yang membenci manusia bisa mempunyai penilaian baik terhadap seorang manusia? Itu berarti keduanya sangat baik, bukan? Mavis menjadi semakin penasaran.
"Bagaimana denganmu, apa kamu sudah menemukan tabib itu?" Mavis berkata setelah meneguk minuman sari buah yang rasanya mirip buah melon. Dia bertanya kepada Darius melalui telepati.
"Aku sudah mendapatkannya, Tuan."
"Kerja bagus. Bawa tabib itu ke tempat Mikaela sekarang berada. Kita bertemu di sana, aku akan bersiap dan segera pergi ke sana," kata Mavis. Kemudian setelah memutus koneksi dengan Darius, dia mengelap mulutnya dan menyingkirkan tatakan makanan, menaruhnya kembali ke atas meja beroda itu. Seperti biasanya, nanti Sasha akan datang untuk mengambilnya.
Mavis beranjak untuk membersihkan diri, bersama dengan makhluk panggilan iblis pria masuk ke dalam kolam pemandian di bilik lain dalam kamarnya, sementara para wanita menunggu giliran di luar. Setelah semuanya terlihat lebih segar, Mavis memberitahukan kepada Sasha bahwa dia akan pergi untuk keluar, kebetulan saat Mavis selesai dan hendak pergi, saat itu Sasha datang untuk mengambil sisa makanan.
Bersama dengan kelompoknya, Mavis bergerak menuju tempat yang telah ditentukan, kamar rahasia di dalam Bar Hammer. Menggunakan pakaian serba hitam dengan jubah hitam yang mendominasi, mereka berjalan di tengah keramaian tanpa mengambil banyak perhatian. Tak butuh waktu lama, tidak sampai satu jam, mereka telah sampai di depan Bar Hammer.
"Paman."
Mavis segera mengetahui sosok gagah yang baru saja keluar dari dalam bar, membawa sekantung sampah makanan dikedua tangannya. Pria itu merespon dan menoleh untuk melihat. Ternyata itu si bocah Mavis, dalam hati Hammer bersukacita karena dia telah datang kembali.
"Sudah lama tidak melihatmu lagi, apa kabar?" kata Hammer.
"Baik, bagaimana dengan Paman?"
"Aku? Tentu saja baik." Hammer terkekeh dan tak lama tersadar sesuatu telah mengganggu indra penciumannya. "Ah ya, aku selesaikan ini terlebih dahulu."
"Ini...."
"Kamu pasti sangat terkejut melihat perubahannya, benar?"
"Ya, bagaimana bisa sangat berubah? Apa yang kamu lakukan, Paman?"
"Apa kamu bercanda? Tentu, koin emas yang dibelanjakan untuk ini semua datang dari dirimu, Bocah." Hammer merangkul Mavis dan membawanya pergi untuk melihat lebih dalam bar miliknya itu.
Mavis sedikit linglung pada awalnya, tapi dia tidak terlalu memusingkan hal itu. Paling-paling ini kerjaannya si Mikaela atau tidak yang lainnya. Mavis menikmati tur singkat itu dan bertemu dengan istri Hammer dan anaknya yang imut. Sesudahnya, Mavis mengatakan tujuannya datang ke sini untuk menemui rekannya dan pergi untuk berpisah, Hammer yang mendengarnya sedikit malu karena telah membuang waktu Mavis hanya untuk terlihat pamer.
"Tidak apa, aku senang melihat perubahan pada bar milikmu ini. Kalau begitu, kami akan berpisah di sini," kata Mavis.
Kelompok Mavis beranjak pergi menuju ruangan pertemuan mereka. Sampai di depan pintu masuk ruangan itu, terlihat Darius yang tersenyum dan memberi hormat saat melihat kedatangan Mavis.
"Selamat datang, Tuan."
Darius kemudian membukakan pintu dan memberi jalan masuk untuk tuannya dan kelompok dibelakangnya. Setelah merasa semua telah masuk, dia ikut masuk dan menutup pintu itu dari dalam.
"Jadi ini tabib yang kamu katakan?" kata Mavis.
Berjalan mendekat ke arah pria yang tengah terbaring dengan kondisi terikat, Mavis memancarkan aura kematian yang sangat besar. Di luar Mavis terlihat sangat tenang, akan tetapi dari dalam dia merasa haus akan kebencian terhadap tabib itu dan orang yang berada di belakangnya.
"Kamu memiliki kesempatan untuk hidup, jika kamu menjawab dengan jujur pertanyaan dariku."
"Mikaela, buka perekat di mulutnya."
"Pangeran... maaf... pangeran... aku...." Tabib itu terlihat panik bercampur ketakutan mendengar kata kematian keluar dari mulut Mavis, setelah apa yang telah dilakukan Darius pada dirinya sebelumnya.
Perlu diketahui, sebelum tabib itu dibawa oleh Darius ke tempat ini, dia telah mendapatkan siksaan bertubi-tubi dari Darius, sebagai upaya agar tabib itu membuka mulut. Akan tetapi, separah apapun siksaan yang telah diberikan Darius, sampai dia menjerit dan merintih, meski tabib itu ingin mengatakan yang sebenarnya, dia tidak bisa.
"Katakan, siapa yang mengirimu untuk meracuni sang ratu?"