I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 133 : Kembali Ke Rumah



Penjaga pintu gerbang ibu kota kerajaan bagian terluar telah mengirimkan pesan lebih awal kepada mansion keluarga. Para pemantau yang berjaga di atas tembok menara, dari kejauhan menangkap kedatangan sang pangeran bersama dengan rombongan besar tengah bergerak menuju ibu kota. Berita baik itu tidak hanya sampai di kalangan keluarga kerajaan, itu juga sampai di telinga Pangeran Arslan yang sedang meminum teh di kediamannya. Wajah pria itu pun segera berubah cerah dan bergegas keluar menunju halaman untuk menyambut kembalinya sang pangeran dan juga sosok yang ingin dilihatnya.


"Salam, Yang Mulia."


Setelah turun dari tunggangan, Mavis bersama dengan beberapa pelayannya memposisikan diri setengah bersujud untuk memberi penghormatan kepada sang raja. Dia tersenyum dan kemudian memeluk dengan kerinduan untuk beberapa saat. Sang raja pun menyambut pelukan hangat itu dan bersuka cita bahwa sang anak telah kembali dengan selamat.


"Kamu telah tumbuh dengan sangat baik, Nak." Sang raja melepas pelukan itu dan terkekeh ketika meraba pundak serta lengan anaknya itu. Dia menyadari bahwa segala sesuatunya telah berubah, tubuh lemah yang dulu dia kenali itu telah menjadi kokoh. "Bagaimana bisa hanya dengan setengah tahun lebih pergi, kamu telah berubah sangat banyak?"


"Ayah terlalu berlebihan, aku hanya melakukan pelatihan kecil selama berada di wilayah perbatasan." Mavis menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Setelahnya, dia melirik ke arah barisan yang berada di belakang sang raja dan langsung menyadari ada sesuatu yang kurang di sana. Mavis pun memasang ekspresi khawatir dan bertanya, "Ayah, di mana ibu? Apa terjadi sesuatu yang buruk selama aku tidak ada?"


"Tenanglah, ibumu sedang dalam perjalanan pergi ke tempat kakekmu." Sang raja merangkul anaknya itu dan membawanya berjalan dengan santai menuju ke dalam mansion, kemudian dia memberikan instruksi kepada para pengawalnya dan Kyle untuk memberikan jarak agar keduanya bisa berbincang dengan santai.


"Kerajaan Toran?"


Raja Cornelius mengangguk, alih-alih menjawab dengan perkataan.


"Bukankah itu sangat berbahaya berpergian ketika musuh telah mulai mengirimkan para pengintai? Apa itu sepadan membahayakan dirinya demi mendapatkan satu tambahan sekutu di medan perang?"


".... jangan salahkan ayahmu ini karena tidak bisa menghentikan ibumu pergi. Kau tau sendiri, jika ibumu sudah bertekad aku tidak bisa berbuat banyak. Dia sebenarnya sangat mengkhawatirkan kamu dan ingin melihat kepulanganmu. Hanya dia masih memiliki kecemasan dan bersikeras untuk pergi menghubungi ayahnya langsung, meminta bantuan dalam perang yang akan mendatang."


"Baiklah, aku mengerti," kata Mavis.


Sementara itu, berada di barisan paling belakang para makhluk bayangan berjalan bersama dengan para pengawal. Terlihat pula sosok Pangeran Arslan yang sudah mengambil posisi di sebelah Lily, berjalan mengikuti mereka masuk ke dalam mansion. Sang penasihat raja--Kayle pun merasa aneh dengan keberadaan pangeran itu, maka darinya dia bertanya untuk mengkonfirmasi.


"Pangeran Arslan, apa ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengan Yang Mulia?" Kayle berhenti dari langkahnya dan mencegat pangeran itu yang berjalan di belakangnya.


"Nona Kayle? Oh, aku hanya ingin berbicara dengan Pangeran Asta, apa itu bisa?" kata Pangeran Arslan.


"Pangeran Arslan dan Yang Mulia Cornelius akan pergi berbicara, Pangeran Arslan dapat menitipkan pertanyaan padaku, setelah keduanya selesai berbicara aku akan menyampaikannya," kata Kayle.


Kayle mengangguk, lalu menyimpan gulungan itu dan berjalan meninggalkan sang pangeran. Para prajurit dan makhluk panggilan yang sempat berhenti pun perlahan berjalan kembali. Namun, berada di luar pemikiran yang masuk akal, Pangeran Arslan tiba-tiba menarik tangan Lily ketika hendak melanjutkan perjalanannya.


"Nona Lily." Dengan ragu-ragu pangeran itu memanggil wanita iblis di hadapannya. Setelah beberapa saat keduanya saling menatap, Lily pun tersenyum dan mengisyaratkan kepada sang pangeran untuk segera melepaskan pergelangan tangannya, mencegah adanya kesalahpahaman.


"Ma-maaf."


"Pangeran Arslan, ada perlu apa?" Seperti biasanya Lily menyunggingkan senyuman yang ramah.


"Eng, tidak, aku hanya ingin bertanya apakah Nona bersedia pergi menemaniku untuk minum teh? Aku memiliki kesulitan untuk menghabiskannya sendiri. Kau tau, para bangsawan terus mengirimkanku banyak bubuk coklat maupun teh."


"Maaf, Pangeran. Mungkin lain waktu aku akan pergi bersamamu." Lily memberi penghormatan dan segera mengejar para makhluk bayangan yang lain.


Pangeran Arslan berdiam di tempat melihat kepergian wanita iblis itu. Untuk beberapa saat dia terdiam dan merasa sedih, hanya setelahnya dia menghela napas lalu berkata dengan lirih, "Benar, aku terlalu bersemangat dan melupakan fakta bahwa dia baru saja tiba dan perlu beristirahat. Sungguh tidak sopan meminta, aku akan meminta maaf ketika bertemu dengannya lagi."


Pangeran Arslan pun menyerah tentang niatannya saat itu dan memutuskan kembali menuju kediamannya.


"Sepertinya Nenek Tua ini memiliki penggemar anak muda, benar begitu?" Isac terkekeh kecil, mencoba menggoda kawannya itu.


"Berhentilah untuk berbicara omong kosong. Bukankah Tuan sudah memperingatkan kamu untuk menjaga sikap? Ingatlah identitasmu saat ini tidak boleh diketahui orang lain, karena itu hanya akan merepotkan Tuanku," kata Bulan dengan nada dingin.


"Hanya bocah kecil, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," kata Bintang.


"Kamu bilang aku apa, hah!" Isac menggertakan gigi dan urat-urat di sekitar wajahnya terlihat jelas. Dia sangat kesal, dari dulu sampai sekarang mengapa juga dia selalu dipanggil bocah kecil?


"Bintang, kau juga." Bulan melemparkan tatapan tajam kepada adiknya itu. "Sebaiknya kita segera bergegas menyusul Mikaela dan yang lainnya."


Lily hanya tertawa kecil sambil menutup mulutnya ketika menyaksikan pertengkaran kecil mereka. Dia sama sekali tidak terusik dengan candaan yang dilontarkan Isac padanya, lagipula Lily sudah mengenal Isac sejak lama, dia sudah terbiasa dengan anak bermulut besar itu. Keempatnya pun segera bergegas menyusul kawanan yang sudah berjalan jauh di depan, tidak ada pembicaraan lain lagi.