
Berada di benua bagian tengah, sebuah ruangan tersembunyi milik Kuil Suci yang berafiliasi tingkat sepuluh. Sekelompok orang tengah berjalan menuruni anak tangga dengan kedalaman satu kilometer. Terlihat seorang pria tua dengan rambut kuning keemasan berada di barisan terdepan. Pria tua itu berjalan dibantu dengan tongkat staff miliknya. Mengenakan pakaian longgar berwarna putih, sama seperti yang dikenakan orang-orang di belakangnya.
"Perhatikan langkah kalian," kata seorang pria yang tepat berada di belakang pria tua itu. Setelah mereka sampai di dasar, tak ingin membuang-buang waktu dia kembali berkata kepada anak-anak itu. "Kalian berbarislah yang rapih, Uskup Parker akan mulai memberikan berkat suci kepada kalian."
Mengikuti instruksi darinya, anak-anak itu segera berbaris memanjang, menghadap langsung ke arah pria tua yang mana disebut dengan panggilan Uskup Parker. Berada di sisi samping uskup itu, berdiri dua pria lainnya. Salah satunya merupakan pria beralis tebal yang sedari tadi memberikan arahan kepada anak-anak baru itu. Sementara pria lainnya, sampai saat ini masih memperlihatkan pembawaannya yang begitu tenang.
"Kalian adalah anak-anak terpilih yang diberkati oleh para dewa. Mulai sekarang kalian adalah bagian dari kuil suci dan dinobatkan sebagai Anak Cahaya. Tentu, kalian akan memperoleh beberapa manfaat ketika menjabat sebagai anak cahaya. Diantaranya, kalian akan mendapatkan pelatihan khusus dari para kepala cabang. Sebelum nantinya pergi ditugaskan menjalankan misi suci dari para dewa, yaitu menyapu seluruh daratan dan membersihkan sisa-sisa dari kejahatan."
Kemudian, Uskup tua bernama Parker itu mulai menceritakan awal mula dari penciptaan dunia. Saat itu hiduplah pertama kali makhluk daratan yang kini disebut sebagai keberadaan para dewa. Mereka individu yang memiliki sifat baik, ramah, saling menolong, serta memiliki rasa kekeluargaan yang tinggi. Sebagai mana tujuan sang pencipta melahirkan para dewa di daratan ini yaitu untuk menjaga dan melindungi daratan dari ancaman kehancuran. Para dewa diberkati kekuatan yang begitu kuat dan menantang akal sehat! Begitu juga dengan para iblis.
Tentu, tidak bijaksana jika hanya menciptakan para dewa di daratan. Tidak ada yang tau kapan, tapi setelahnya munculah makhluk lain yang memiliki sifat yang kontras dengan para dewa, yaitu para iblis. Mereka semua memiliki perilaku yang buruk dan cenderung terus melakukan kerusakan di daratan.
Sesudahnya, barulah muncul apa yang sekarang dinamakan manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, elf, goblin, dwarf, dan makhluk hidup lainnya sebagai pelengkap di daratan ini. Para pendatang ini semua memiliki sifat dari kedua makhluk sebelumnya, mereka bisa saja mengikuti apa ajaran dari para dewa ataupun memilih untuk menyembah para iblis.
Saat itulah mereka para manusia yang mengikuti ajaran para dewa membentuk tatanan baru, mereka berkumpul dan mendirikan kuil suci sebagai tempat penghormatan para dewa.
"Sayangnya, setelah pertempuran besar melawan raja iblis beratus-ratus tahun yang lalu, para dewa tiba-tiba menghilang bersamaan dengan para iblis itu. Namun, ini menjadi satu pukulan terbesar bagi kuil suci karena beberapa iblis yang berada di medan perang tidak juga ikut menghilang! Para iblis itu sejatinya banyak yang berhasil melarikan diri dan sampai saat ini bersembunyi di suatu tempat," kata Uskup Parker dengan raut wajah serius. Kemudian dia sejenak berhenti dari pidatonya dan berpindah tempat menuju kuali yang berada tak jauh dari tempatnya.
Uskup itu pun berdiri di depan kuali tersebut dan melanjutkan, "Sudah beratus-ratus tahun pula kuil suci melindungi daratan dan terus memburu para iblis. Meski sampai saat ini kita belum bisa menemukan mereka, tapi suatu saat mereka pasti akan muncul kembali ke permukaan. Saat itulah kalian akan menghadapi para iblis itu, menghancurkan mereka, dan membebaskan daratan ini dari ancaman kehancuran."
Dengan tersenyum tipis, uskup itu kemudian mulai mengambil air yang berwarna merah darah itu. Sejenak dia mengedarkan pandangannya ke arah anak-anak itu seraya berkata, "Baiklah, siapa di antara kalian yang ingin pertama kali menjadi pelindung daratan ini?"
Uskup Parker sesaat menaikan sedikit alisnya karena terkejut, tapi buru-buru dia tersenyum dan mengangguk sebagai tanggapan. Gadis itu pun maju mendekati sang uskup, kemudian tanpa ragu menerima satu tegukan dari air berwarna merah darah itu.
"Bagaimana? Apakah kau menyukainya?" kata Uskup Parker.
"Ya, Tuan Agung."
"Sungguh, kamu cukup menarik perhatianku, Nak. Apakah kamu tertarik menjadi anak didikku?" Uskup Parker pun bertanya dengan begitu hangat, ketika menawarkan posisi sebagai muridnya kepada gadis itu.
"Suatu kehormatan bagiku, bisa menjadi murid dari Tetua Agung," kata gadis berkepang itu seraya membalas tersenyum kepada sang uskup.
"Siapa namamu dan dari mana kamu berasal?"
"Tuan Agung, namaku Yeneffer dari kerajaan berafiliasi kecil yang ada di benua bagian timur."
"Bagian timur, ya?" Uskup itu benar-benar tidak menyangka gadis berbakat seperti dia hanya berasal dari tempat terpencil di benua bagian timur. Cukup beruntung, bawahannya yang pada saat itu berada di bagian timur secara tidak sengaja menemukan gadis itu. Lain, jika terlambat beberapa tahun saja, ketika dia sudah beranjak semakin dewasa dan kemampuannya tidak juga diasah, itu hanya akan menjadi sia-sia.
"Kalau begitu, mulai besok kamu bisa menemuiku untuk berlatih. Sekarang cukup kembali dalam barisan," kata sang uskup, menepuk pundak gadis itu seraya menginstruksikannya untuk kembali bergabung dengan yang lain.