
Kabar yang datang dari pemukiman goblin membuat Mavis sakit kepala. Dia tidak menyangka pihak kekaisaran begitu cepat mengambil langkah untuk mengirimkan pasukan ke tempat itu, bahkan jika menyebutkan apa yang disampaikan Ivar barusan kekaisaran telah mengerahkan tim ekspedisi baru dengan jumlah kurang lebih 15.000 pasukan! Siapapun yang mengetahui hal ini akan beranggapan kekaisaran begitu menganggap serius pada pemukiman para goblin itu.
Apa yang tidak diketahui Mavis, kekaisaran bahkan mengerahkan satu-satunya orang yang paling kuat di kekaisaran! Orang itu tidak lain adalah penasihat Barok, seorang ahli yang memiliki lencana merah petualang. Kartu andalan yang dimiliki kekaisaran itu telah memimpin tim ekspedisi untuk memastikan keberhasilan dalam menghapus dungeon kali ini.
Berkaca dari tim ekspedisi sebelumnya yang gagal dan berakhir dibantai, Sang Kaisar tidak bisa menganggap remeh para makhluk kerdil lagi, dia tidak ingin kehilangan lebih banyak pasukan militernya.
"Kalian dapat keluar dan pergi lebih dulu untuk menyiapkan segala keperluan untuk perjalananku. Mari kita tunda kunjungan ke tempat Earl Edward, Becky dan Becca pergi dan beritahu dia bahwa aku akan pergi dalam waktu beberapa hari mulai dari sekarang," kata Mavis.
Dia menghela napas berat dan mengungkapkan senyuman pahit saat melihat para makhluk panggilannya itu muncul dari asap hitam di bawah tanah. Begitu sosok-sosok kuat itu muncul, mereka langsung mengambil posisi hormat seperti biasanya.
"Tuanku, apa boleh aku mengatakan sesuatu?" Becky berkata begitu dia bangkit dari posisi hormatnya.
"Ya, katakan apa itu," kata Mavis.
"Bisakah Tuan mempercayakan aku dan saudariku untuk mengurus masalah di tempat Ivar? Aku merasa itu akan sangat merepotkan bagi Tuanku untuk datang langsung mengurusi hal kecil seperti ini. Kami berdua sudah lebih dari cukup," kata Becky.
Mavis terdiam dan masuk dalam pemikiran terdalam, dia sedikit setuju dengan apa yang dikatakan Becky. Lagipula bertemu dengan iblis yang berada di belakang Earl Edward tidak kalah penting dengan urusan ini, dia tidak tau sampai kapan sang ratu dapat bertahan, dia harus bertemu dengan iblis penyembuh itu secepatnya.
Akan tetapi di sisi lain dia sendiri paham jumlah pasukan yang dikerahkan kekaisaran kali ini berjumlah tiga kali lipat dari pada sebelumnya, itu angka yang tidak bisa dianggap remeh. Dan lagi pasukan di kubu para goblin sendiri sudah terbantai habis dan hanya menyisahkan sekelompok kecil saja, itu bahkan tidak sampai 50 pasukan.
"Kalau begitu aku mempercayakan hal ini padamu, Becca, dan Mikaela untuk pergi membantu Ivar. Mikaela, kau dapat memimpin mereka dalam hal ini. Juga, bicaralah terlebih dahulu kepada pimpinan tim ekspedisi mereka jika itu masih memungkinkan. Sampaikan pesanku bahwa pemukiman goblin sekarang berada dibawah perlindunganku. Bila mereka masih menolak untuk pergi setelah mendengar isi pesanku, kalian dapat pergi membereskan mereka.
"Dimengerti." Si Kembar itu menyunggingkan senyuman lebar ketika permintaan mereka dikabulkan.
Ketiganya segera mengucapkan salam perpisahan dan melepas hormat sebelum pergi meninggalakan ruangan. Setelahnya, Mavis mengela napas lega ketika melihat pintu itu tertutup kembali. Masalah yang datang dan hampir menghancurkan rencananya akhirnya telah terselesaikan. Dia pun segera membubarkan mereka yang masih tersisa untuk kembali ke dalam bayangan. Dia ingin cepat bersiap-siap karena dia tidak tau kapan Earl Edward akan datang menemuinya.
Hari ini adalah hari yang telah ditentukan. Earl Edward akan datang untuk membawa Mavis menemui iblis itu. Oleh karenanya Mavis terlihat begitu bersemangat, dia berjalan dengan cepat seperti sedang terburu-buru. Dia tidak ingin membuang waktu jika Earl Edward tiba dan dia masih dalam keadaan tidak siap.
Sambil mengenakan kaos putih polos dengan kancing di atas layaknya kaos seorang bangsawan, dia menyuruh orang di luar untuk segera masuk ke dalam.
"Pa-pangeran...." Sasha mengungkapkan wajahnya yang memerah saat melihat Mavis sedang kesulitan dalam mengancing. Dia melepas gagang meja dorong itu dan berbalik membelakangi Mavis. "Maaf Pangeran, mengapa kau menyuruhku masuk jika kamu belum selesai dengan itu!" Dia kemudian salah tingkah.
"Hei, hei, apa hanya mengancing baju kamu sampai segitunya malu. Kamu tidak berpikir yang macam-macam, kan?" Mavis terkekeh mencoba meledek.
"Ti-tidak! Aku hanya kaget saja!" kata Sasha, dia berbalik dan mendengus kesal. "Ini, aku bawakan makanan kesukaanmu! Silahkan makan, Pangeran." Dia menggiring meja berjalan itu dan memarkirkannya di samping tempat tidur milik Mavis.
"Ada apa denganmu belakangan ini? Apa kamu masih marah?" Mavis menjadi penasaran sebenarnya apa yang Sera katakan sewaktu menggantikanku.
"Tidak juga." Dia memalingkan mukanya dan malu untuk menatap tuannya itu. "Apa ada yang ingin Pangeran butuhkan lagi? Kalau tidak aku akan undur diri."
"Tunggu, apa kamu mau pergi jalan-jalan denganku ke luar?"
"Hm?" Sasha membelalakan matanya tapi buru-buru bersikap seolah tidak tertarik. "Memangnya pergi ke mana?"
"Ada pokoknya, aku ada urusan dengan seorang kenalan di suatu tempat. Aku sendiri tidak yakin seberapa jauh tempat itu. Bagaimana, apa kamu mau ikut?" Mavis menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tanpa dia sadari apa penyebabnya, dia merasa gugup saat mengajak Sasha.
"Baiklah, kapan itu?" Sasha berkata setelah beberapa saat terdiam.
"Sekarang."
"Hah!"