I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 78 : Kehadiran Yang Kuat



"Baiklah. Kayle, carikan apakah ada tempat di wilayah selatan perbatasan yang bisa dijadikan tempat tinggal untuknya," kata Raja Cornelius dengan wajah tak berdaya. Pada akhirnya dia menyetujui permintaan sang pangeran.


"Yang Mulia, apa kau benar-benar menyetujuinya?" Kayle tidak bisa untuk tidak tinggal diam. Bagaimanapun dia masih mempunyai kepedulian kepada pangeran. "Ini akan sangat beresiko bagi keselamatan Pangeran Asta. Harap pertimbangkan kembali keputusanmu, Yang Mulia."


"Bibi Kayle, aku tau kamu menghawatirkan aku, dan aku sangat berterimakasih untuk itu. Hanya saja aku masih memiliki para pelayan di sekitarku, mereka sangatlah kuat, mereka lebih dari cukup untuk melindungi aku dari siapapun yang ingin berniat buruk. Dan, jangan khawatir, mereka sangatlah setia, tidak mungkin mengkhianatiku."


"Tapi! Tetap saja...."


"Sudahlah, Kayle. Biarkan dia memilih apa yang dia inginkan." Raja Cornelius yang melihat sifat Mavis yang sebegitu tetap keras kepalanya untuk pergi, membuat dia tanpa sadar tersenyum secara tiba-tiba. Entah kenapa dia menjadi sadar kalau sang pangeran benar-benar mirip dengan dirinya yang dulu. Sifat keras kepala itu! Mata yang bulat dengan tekat yang kuat! Sangatlah mirip dengan apa yang dimiliki sang raja sewaktu dia masih muda.


"Biarlah dia menjadi seorang pria sejati. Bagaimanapun, pelajaran yang paling berharga dari seorang pria yaitu ketika dia bisa menghadapi masalah sesulit apapun itu dengan tekat yang kuat. Untuk keamanannya, Kayle kau bisa berbicara kepada Fergus untuk mengirimkan beberapa regu unit untuk pergi bersamanya."


"Yah, pada akhirnya keputusan ada pada Yang Mulia. Kalau begitu, berikan aku waktu untuk mengingat tempat apa saja yang ada di wilayah selatan perbatasan." Kayle akhirnya mencoba menggali memori di pikirannya tentang arsip wilayah perbatasan selatan, dan dia akhirnya menemukannya.


"Yang Mulia, aku pikir di wilayah selatan hanya ada dua tempat dengan dua kondisi yang berbeda. Yang pertama, itu adalah benteng perbatasan yang saat ini masih diperintah oleh Pangeran Sulton, anak dari selir raja terdahulu. Keadaan di sana pun terbilang sangat baik, Pangeran Sulton sangat memperhatikan rakyat di sana dan adil dalam memerintah. Tempat itu juga satu-satunya tembok perbatasan yang dimiliki kerajaan di wilayah selatan, sebagai basis pertahanan pertama jika kerajaan mendapat serangan dari arah selatan."


"Sementara tempat yang satunya lagi hanyalah pemukiman kecil yang dikelola oleh seorang Baron. Tempat itu kumuh dan keadaan di sana sangatlah buruk. Kabar yang beredar Baron Gustav telah memungut pajak dalam jumlah besar dan menggelapkan sebagian dana untuk masuk ke dalam kas pribadinya. Penduduk di sana banyak yang hidup dengan kesulitan dan beberapa diantaranya memilih untuk pindah dari tempat itu. Yang Mulia, ini... sebenarnya sudah lama pihak kerajaan memperingati Baron Gustav, hanya saja kejadian terus berulang ketika utusan kerajaan telah pergi dari tempat itu."


"Dari kedua tempat itu, aku menyarankan Pangeran Asta untuk menempati wilayah yang saat ini dikelola oleh Pangeran Sulton. Aku dengar tentang Pangeran Sulton, dia orang yang bebas, jika saja bukan karena raja terdahulu mengirimnya ke perbatasan untuk mengelola tempat itu, mungkin sekarang dia sudah berpergian menjadi seorang pengembara. Dengan adanya Asta di sana, aku yakin Pangeran Sulton akan dengan senang hati menerimanya," kata Kayle.


"Bolehkah aku yang memutuskannya?" Mavis angkat bicara ketika sang raja berniat menjawab Kayle.


Raja Cornelius mengangguk.


"Terimakasih, Yang Mulia. Kalau begitu aku memilih pemukiman yang saat ini dikelola oleh Baron Gustav. Bagaimanapun kondisi di sana sangatlah buruk, sebagai seorang pangeran aku tidak bisa berdiam diri ketika penduduk di sana mengalami kesulitan dan kesengsaraan," kata Mavis.


"Ini...."


"Baiklah, aku setuju."


"Yang Mulia...."


"Kayle, pimpin jalannya."


"Baik, Yang Mulia." Dengan wajah pasrah Kayle menjawab. Padahal, dia ingin berkomentar tentang pilihan sang pangeran yang sangat aneh. Mengapa juga dia memilih tempat yang buruk ketimbang benteng nyaman yang dikelola Pangeran Sulton saat ini? Wanita itu tidak habis pikir.


Mereka berpisah, Raja Cornelius bersama dengan para penjaga dan Kayle bergerak menuju kediaman sang ratu. Sementara itu, Mavis kembali ke kamarnya dan juga membuat persiapan. Mavis juga perlu berbicara kepada Lily tentang segala hal tentang kondisi pengaturannya. Dia juga harus menceritakan kembali kondisi Kerajaan Baratajaya dan hal-hal apa yang harus dilakukan Lily nantinya.


"Tuanku, hamba mendeteksi lima keberadaan kuat di dalam kamar, Tuanku. Apa perintah Tuanku? Haruskah Hamba pergi untuk membereskannya?"


"Tunggu."


Ketika Mavis berjalan menuju kediamannya Buster tiba-tiba mengirimkan pesan suara melalui telepati, membuat Mavis yang pada saat itu menikmati langkah saat berjalan, berubah menjadi muram. Siapa lagi yang ingin mencari masalah dengannya? Apa itu orang-orang suruhan Selir Juleaha? Apa dia ingin membalas dendam karena sebelumnya Mavis telah membongkar rahasia tabib kerajaan? Jika itu yang terjadi, rubah licik itu akan sangat tidak beruntung. Mavis bukanlah lawan yang sepadan dengan dia.


"Seberapa kuat mereka? Apa kamu bisa mendeteksi itu?" Mavis buru-buru bertanya kepada Buster.


"Tuanku, mereka sama kuatnya seperti para iblis. Mungkinkah mereka dari ras iblis yang sama?" kata Buster.


"Itu belum pasti. Kau bilang kekuatan mereka setidaknya setingkat para iblis biasanya, bukankah itu terlalu hebat? Jika kamu sebelumnya sudah tau, mengapa kamu masih nekat menawarkan diri untuk pergi membereskan mereka? Apa kamu sanggup menang melawan mereka?" Mavis kehabisan kata-kata dengan tingkah si Buster.


"Tuanku, itu belum dipastikan siapa yang kalah dan siapa yang menang sebelum aku mencobanya," kata Buster. Dia tersipu malu ketika menjawab.


"Kamu bukanlah tandingan mereka Buster, setidaknya untuk saat ini. Selanjutnya serahkan hal ini kepada mereka." Mavis memutus sambungan Buster dan mulai mengirimkan pesan suara kepada Bulan dan Bintang.


"Kalian berdua, pergilah."


Begitu selesai Mavis memberikan perintah, kepulan asap muncul dari lantai di belakang Mavis. Selanjutnya itu mengambil bentuk Bulan yang dengan pakaiannya yang rapih serba hitam, dia muncul dengan sikap hormat dengan salah satu tangan di dada. Sementara Bintang, iblis itu muncul seperti biasa dengan senyuman psikopatnya.


"Dimengerti."