I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 138 : Bunyi Terompet Peperangan



Di tengah terik matahari yang hampir di atas kepala, sang raja mengenakan pakaian zirah menakjubkan berwarna silver dan pedang mengkilap di tangannya. Terlihat pasukan kavaleri berada di sekitar sang raja, menaiki kuda tempur yang sama kuatnya. Bendera kerajaan bermotifkan cakar harimau pun dinaikan di tengah pasukan tersebut. Di tanah lapang berpasir itu suasana menegangkan, hening, mereka pada dasarnya menunggu kembalinya para pengintai yang sebelumnya pergi.


"Para pengintai datang." Suara menyenangkan datang dari seorang wanita yang muncul dari atas langit. Dia merupakan kepala sekolah akademi terbaik di kerajaan itu. Salah satu kekuatan yang dimiliki kerajaan. Saat ini dia tengah berdiri di atas sapu terbangnya dan mendekat ke arah sang raja.


"Alice, apa kamu yakin dengan hal itu?" kata Raja Cornelius.


"Tentu, Yang Mulia."


Pasukan pun bersiaga dengan posisi tubuh yang sigap. Begitu para pengintai tiba dan langsung menghadap Raja Cornelius, semua pandangan terfokuskan pada beberapa orang itu.


"Lapor, Yang Mulia. Terlihat pergerakan datang dari pasukan besar yang sedang mengarah ke tempat ini. Jika diperkirakan posisi mereka haruslah sudah mengambil jarak lima kilometer dari sini," kata sang pemimpin regu pengintai itu dengan ekspresi serius.


"Apakah kamu bisa memperkirakan seberapa besar jumlah mereka yang datang?"


"Ini...." Sesaat pimpinan regu itu melirik ke arah sekitarnya, ragu untuk mengatakan yang sebenarnya begitu mengetahui mereka semua sedang memperhatikan.


"Katakan saja."


"Yang Mulia, jumlah mereka terlihat sangat banyak. Bila perhitunganku tidak salah, dan tidak ada tipuan sihir dalam pengelihatanku, jumlah mereka kurang lebih dua kali dari pasukan yang berada pada pihak kami. Dengan kata lain mereka memang datang untuk menyerang."


"Baik-baik saja, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Raja Cornelius terkekeh dengan raut wajah bersemangat. Tidak sama sekali mengenal rasa takut alih-alih malah menjadi semakin bersemangat setelah mendengar itu.


"Yang Mulia, kau masih bisa tertawa di saat seperti ini?" kata Kayle dari arah belakang sang raja. Terlihat penampakan dirinya yang kini berpakaian seperti seorang kesatria wanita dengan pedang yang berada di sakunya, walaupun sebenarnya itu hanya akan menjadi pajangan saja.


Sinar matahari pun semakin membakar kulit ketika hari beranjak tengah siang, kedua belah pihak telah mengambil posisi yang berlawanan dengan jarak yang cukup jauh. Maju satu di antara barisan masing-masing pihak untuk mendiskusikan terlebih dahulu tentang kesepakatan perang kali ini, apakah itu bisa diselesaikan dengan suatu perjanjian ataupun penawaran yang menguntungkan.


"Dalam hal ini Yang Mulia Raja Cornelius Dixon hanya menyampaikan bahwa tidak ada penawaran untuk kompensasi peperangan kali ini. Namun, jika pihak kalian memberikan muka dan mundur kembali ke wilayah masing-masing, beliau akan sangat menghargainya," kata Fergus dengan wajah menyeringai. Berdiri di belakangnya Kayle dan para prajurit yang membawa bendera tidak bisa untuk tidak gemetar jiwanya, seakan roh dalam tubuh mereka sesaat bermain-main di luar.


"Cukup sombong, hanya dengan kemampuan pimpinan prajurit sepertimu, sangat tidak layak bersikap angkuh di hadapan Tuan Odin!" kata salah seorang prajurit pria muda yang berdiri di belakang pria paruh baya itu. Berbeda dengan pemuda bau kencur itu, pria yang menjadi perwakilan dari pihak lawan hanya mengangkat tangannya sebagai isyarat kepada anak buahnya agar tidak membuang-buang tenaga untuk menyahuti Fergus.


Pria bernama Odin itu pun tersenyum, sebelum pada akhirnya melanjutkan perkataannya, "Kalau begitu tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, sebaiknya kita menyudahi pembicaraan ini dan bersiap untuk memulai perang."


Setelahnya membawa para bawahannya pergi beserta para pasukan berseragam zirah yang mengibarkan bendera ketiga kerajaan. Begitu juga dari pihak Fergus, mereka berbalik badan dengan sengit dan kemudian bergerak untuk kembali bergabung dengan barisan yang lain. Kedatangan Fergus membawa atmosfir di antara prajurit sesaat tercekik dan tak lama darah mereka mendidih, dan muncul semangat berperang yang tinggi ketika mereka mengeluarkan pedang masing-masing.


"Bersiap, angkat senjata kalian!" Sang raja mencabut pedang dari sarung tangannya, kemudian mengangkat ke atas sebelum mengacungkannya ke depan. Kemudian dia melanjutkan perkataanya, "Kejayaan Sriwijaya, serang!"


Suara berdengung.


Terompet perang menggema di medan perang, banjir prajurit dari kedua belah pihak maju, semakin dekat semakin mengambil jarak yang berdekatan. Sebelum prajurit dari kedua belah pihak bentrok, hujan panah ditembakan dari arah lini belakang prajurit Sriwijaya dan menghujani prajurit ketiga kerajaan. Tak membutuhkan waktu lama setelah panah itu reda mereka pun bertemu. Teriakan dan jeritan memenuhi para prajurit yang bentrok, darah segar pun bercucuran menggenangi tanah di sekitar. Lusinan mayat prajurit mulai berjatuhan dan terinjak oleh yang lain.


"Mati dengan kebanggaan!" Salah seorang prajurit dengan gagah berani berteriak ketika mengayunkan pedangnya, menebas kepala prajurit lawan dengan kencang. Dia berhasil dan bersyukur ketika melihat darah bercucuran dan kepala yang menggelinding di tanah. Hanya sebelum dia dapat menyadari pihak lain bergabung dan menghunuskan pedang ke arah jantungnya. Seketika pria itu terkejut dan membelalakkan mata, kemudian tersenyum seraya melihat ke arah dadanya yang tertancap pedang.


"Ke-kejayaan Sri-wijaya!" kata prajurit itu sebelum menghembuskan napas terakhir dan terhuyung jatuh.