I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 96 : Mustahil



Para prajurit yang mengepung kelompok Mavis mengatupkan gigi mereka. Begitu sang komandan memberi perintah untuk menyerang, mereka mulai bergerak menyerbu kelompok itu dengan tombak besi sebagai senjata, seraya berteriak kencang untuk meningkatkan moral satu sama lain.


Sementara itu, Mavis yang berada di posisinya sejak awal melihat mereka hanya bisa menggeleng pelan. Jejak kekaguman sedikit terlihat dari wajahnya ketika para prajurit pemberontak itu patuh pada komandan mereka, akan tetapi itu segera berubah serius saat mereka semakin mendekat. Dia pun segera menginstruksikan Wed untuk mengambil alih para prajurit dari sisinya untuk melawan mereka, Velinka pun ikut ambil adil dalam mengikuti pengaturan pimpinannya itu.


"Kalian memiliki mata tetapi tidak mengetahui kebenarannya. Sudah baik aku memberi kesempatan kepada kalian untuk tetap hidup. Namun, kalian malah menolaknya," kata Mavis dengan wajah santai.


Pada awalnya Mavis memang tidak memiliki niatan membunuh para prajurit itu, karena mereka sangatlah setia. Saat ini dia juga kebetulan membutuhkan prajurit seperti mereka yang bersedia mati demi tuannya. Hanya saja karena mereka sudah dibutakan dengan kesetiaan pada pemimpin yang salah dan juga mereka berniat buruk terhadap kelompok Mavis. Dia tidak punya pilihan lain selain dia harus membunuh mereka semua jika ingin melanjutkan perjalanan.


Dibawah komando Wed, para prajurit di sisi Mavis satu persatu membantai para prajurit pemberontak. Mereka yang hanya berjumlah belasan telah membunuh hampir tiga kali dari jumlah mereka sendiri! Begitu mencengangkan bagi para penduduk sekitar yang menonton jauh dari tenda tempat mereka tinggal. Mereka sudah menyaksikan semuanya sejak awal, dan mereka mengerti bahwa tuan yang menunggangi kuda itu adalah sang pangeran. Pada kenyataannya mereka masihlah memiliki sedikit kecerdasan, meskipun tidak menerima pendidikan yang baik mereka masih dapat mengerti jelas kalau sang pangeran datang untuk menyelamatkan mereka dari kesengsaraan. Lain mereka tidak memiliki gagasan lain mengapa sang pangeran datang ke wilayah perbatasan yang kumuh ini, kalau bukan untuk menegakan keadilan.


"Semuanya! Pangeran telah datang untuk menyelamatkan kita! Siapapun yang bersedia maju membantu pangeran, ikuti aku!" Salah seorang pemuda tampan dengan kulit sawo matang berteriak dan mendeklarasikan perlawanan. Dia mengangkat kapak pemotongan yang biasa dia gunakan untuk menyembelih daging, kemudian dia menghentakkan itu ke depan seraya berbicara kepada penduduk lain yang sudah datang dan bergabung.


"Serang!"


Para warga yang tinggal di tenda-tenda satu persatu muncul dengan senjata yang seadanya. Mereka pergi bersama pemuda itu menuju para prajurit dari dua kubu yang sedang bertarung sengit. Kedatangan para penduduk itu tentu saja sukses membuat Mavis terkejut. Dia tidak menyangka bahwa para warga yang lemah bahkan rela maju mendukung dia untuk melawan para prajurit pemberontak. Padahal, mereka tau betul seberapa mampu mereka, tapi itu tidaklah cukup untuk menumbangkan para prajurit pemberontak yang notabenenya seorang ahli dalam bertarung.


Mavis benar-benar merasakan sesak di dadanya. Dia merasa sangat frustasi melihat pemandangan para penduduk yang berlarian tanpa gentar menyerbu ke arah prajurit pemberontak. Mavis berpikiran, para penduduk itu pasti sangatlah sengsara selama ini, kebencian mereka pasti sudah menumpuk di dalam sana, sampai-sampai rela mempertaruhkan nyawa mereka demi bisa menggulingkan penguasa tirani yang buruk di dalam sana.


"Dimengerti."


Satu persatu para makhluk bayangan itu melesat pergi meninggalkan tunggangannya, menyisahkan Mikaela dan Sera yang masih berada di dekat Mavis untuk melindungi tuannya itu. Segala sesuatunya menjadi begitu membingungkan Velinka dan prajurit yang lain, karena tiba-tiba saja prajurit pemberontak yang sedang mereka lawan tiba-tiba terbunuh begitu saja. Sekelebat sosok dari para makhluk bayangan berpindah dengan cepat dan membunuh mereka secara instan.


Sementara itu, beberapa dari para prajurit pemberontak yang masih berada di lini belakang merasakan tubuh mereka menggigil, setelah melihat rekan-rekannya terbunuh dengan cara yang sadis di depan sana. Mereka menatap dengan wajah jelek, sebelum pada akhirnya menyadari bahwa sesuatu telah merobek dalam tenggorokan mereka dan darah menyembur keluar tanpa bisa dihentikan oleh kedua tangan. Visi mereka pun perlahan meredup, mereka kehilangan kesadaran dan berakhir jatuh mencium tanah.


"Mustahil!" Komandan dari prajurit pemberontak itu tidak bisa untuk tidak terkejut. Rahangnya seakan jatuh ke tanah begitu selesai menonton siaran langsung pembantaian anak buahnya. "Bagaimana mungkin! Apa mereka masih bisa dikatakan manusia?"


"Bintang, kau selalu saja bertindak sesukamu. Mengapa kau begitu pelit tidak menyisahkan beberapa untukku bermain?" Suara itu datang dari Flint yang mana baru saja membatalkan mantra yang belum sempat dia lemparkan kepada para prajurit pemberontak. Dia pun menghela napas berat, karena menyadari kemampuannya itu memang membutuhkan waktu sebelum dilontarkan, berbeda dengan kemampuan tipe jarak dekat seperti Bintang yang instan dalam membunuh.


"Masih seperti dulu, kau begitu lambat, Flint." Bintang tersenyum miring sambil memutar belatinya dengan jemari.


"Kalian berhentilah membuang waktu, segera bereskan sisanya!" kata Mikaela dengan nada tidak suka. Para makhluk bayangan itu pun segera mengerti dan melanjutkan pembantaian itu.