
Berada di suatu gang sempit dengan sedikit pencahayaannya, seorang pria tengah terduduk di atas tumpukan kotak kayu, menatap ke arah pria bertopi yang sedang mendatanginya. Keduanya tampak sangat akrab, begitu pria bertopi itu sampai di hadapan pria lainnya, dia melemparkan sebuah gulungan kecil kepada kawannya itu.
"Mereka gagal?" Pria itu tersenyum sembari merapihkan jarum-jarum miliknya itu dan menaruhnya kembali ke dalam saku jubahnya. "Sepertinya kali ini Tobias telah salah besar dalam memperhitungkan situasi penyerangan ketiga aliansi. Siapa sangka hanya kerajaan berafiliasi tingkat tiga yang sangat terbelakang dapat mengalahkan prajurit gabungan dari ketiga kerajaan."
"Max, jaga ucapanmu. Bagaimanapun juga dia masihlah atasan kita, kau tak seharusnya memanggilanya hanya dengan sebutan nama. Ketua Tobias merupakan kepala cabang yang memiliki kuasa di timur ini. Lebih baik kita segera menyelesaikan tugas yang diberikan beliau, sebelum para tentara itu sampai di ibu kota dan menggagalkan operasi kita."
"Lihat apa yang akan terjadi setelah kita kembali nanti, apa kau kira Tuan Paris akan melepaskannya begitu saja?" Pria kurus itu berdecih seraya menambahkan bumbu ke dalam perkataannya, jelas dia tidak suka dengan atasannya itu.
"Kita berdua tidak memiliki kualifikasi untuk membicarakan urusan para atasan, jadi berhentilah membicarakan hal yang tidak-tidak. Kau seharusnya tau, konsekuensi apa yang akan kau terima jika Ketua Tobias mendengar semua omong kosongmu barusan," kata si pria bertopi, kemudian dia berjalan pergi diikuti kawannya itu.
"Yah, omonganmu ada benarnya." Pria berambut pirang, dengan luka jahitan di sekitar wajahnya itu berkata seraya tersenyum aneh. Dia berjalan dengan langkah sedikit gontai yang disengaja, mengikuti kawannya itu untuk memulai operasi khusus yang ditugaskan kepada mereka berdua.
Dengan langkah menyelinap, keduanya memasuki mansion keluarga kerajaan. Mereka dengan mudahnya mengalahkan para penjaga yang berpatroli di sekitar. Pria bertopi yang bernama Damian itu menggunakan kemampuannya, membuat banyak dopelganger dan menggunakan pakaian para penjaga yang telah dibekukan sebagai penyamaran. Sementara itu Max masuk ke dalam mode stealth yang mana membuatnya tidak dapat terlihat di permukaan.
"Bagaimana, apa dopelgangermu telah menemukan lokasi sang ratu?" Max bertanya dengan nada pelan. Di sisi lain Damian hanya menggelengkan kepalanya, sebagai tanggapan bahwa usahanya itu belum juga mendapatkan hasil yang diinginkan keduanya.
Saat ini Damian dan Max tengah berjalan santai beriringan di sebuah lorong, menunggu informasi yang didapatkan dari salinan Damian yang telah menyebar ke seluruh penjuru mansion. Ketika datang seorang penjaga menemukan keberadaan pria bertopi itu, Max akan segera melemparkan jarum beracun dari saku jubahnya untuk membungkam prajurit tersebut. Yah, dengan cara seperti itulah mereka dengan terang-terangan mengalahkan para prajurit penjaga. Berpikir bahwa semua ahli kuat di tempat ini telah semuanya pergi ke medan perang, tidak ada lagi yang perlu ditakutkan oleh keduanya.
Beberapa saat pun berlalu, Damian tiba-tiba saja memuntahkan seteguk darah dan bersandar pada dinding di dekatnya. Max pun membatalkan stelath-nya begitu menyadari ada yang salah pada kawannya. Selanjutnya dia segera membantu Damian untuk berdiri, dan buru-buru bertanya tentang keanehan yang baru saja terjadi pada kawannya itu.
"Seseorang telah menghancurkan salinanku, ini serangan balik yang aku terima ...." Sebelum Damian selesai menjelaskan kepada Max, lagi-lagi dia berteriak kesakitan seraya memegang erat dadanya. Selanjutnya darah segar mulai mengalir dari mulutnya, Damian kesulitan untuk mengontrol dirinya yang sedang menerima hukuman balik yang sangat amat menyakitkan. "Seorang ahli berada di tempat ini, terlalu beresiko untuk melanjutkan pencarian menggunakan dopelgangerku."
Setelah mengatakan itu, Damian berkonsentrasi penuh untuk membubarkan para salinannya. Takut ahli yang bersembunyi di tempat itu akan menghancurkan dopelganger yang lainnya dan memberi serangan balik padanya. Max pun segera bersiaga dan kembali memasuki mode tak terlihat, kemudian dia memposisikan diri membelakangi Damian.
"Seseorang datang dari arah barat," kata Damian dengan nada setengah berbisik, menginstruksikan kepada kawannya untuk melihat ke arah hang dituju. Max pun yang mendengarnya segera mengeluarkan belasan jarum dari dalam jubahnya lalu melemparkannya.
Segera sesosok wanita berambut panjang muncul dan memblokir semua jarum tipis itu dengan pedang di tangan. Dengan mudahnya wanita itu mengayunkan pedangnya secepat kilat. Kedua mata pria itu pun seperti sedang dipermainkan, tatkala melihat jarum-jarum itu berjatuhan ke tanah tanpa melihat wanita itu menangkisnya.
Max mengernyit ketika menyadari wanita di hadapannya itu sangatlah kuat. Melihat dari aliran mana dalam tubuhnya, pria itu sangat mengerti kalau keduanya tidak akan sanggup menangani wanita tersebut. Oleh karena itu dengan sigap Max meraih lengan Damian dari kabut tak terlihat dan membawanya masuk ke dalam mode stealth. Dengan gerakan menyelinap keduanya berlari menjauh untuk menyelamatkan nyawa.
Bercak darah menetes ke tanah setelah beberapa saat pengejaran itu berlangsung. Terlihat wajah jelek pada kedua ahli yang sedang mencoba menghindari tebasan acak yang dilayangkan Akio, akan tetapi beberapa kali mereka gagal dan berakhir terluka di beberapa titik tubuh.
Pengejaran itu terus berlanjut sampai di luar ruang terbuka, lebih tepatnya di halaman mansion keluarga kerajaan. Keduanya barulah bisa menghela napas lega begitu ruang gerak mereka menjadi lebih luas dibandingkan sebelumnya saat masih di dalam bangunan. Namun, ekspresi itu tidak bertahan lama sampai Damian berhenti dan keluar dari mode stealth-nya.
"Ukhh...."
Sebuah pedang tertancap pada dadanya, membuat pria bertopi hitam itu diam membeku dan tidak bisa berkata apa-apa. Max yang terkejut segera berhenti dan melihat ke arah belakang. Hanya setelahnya menemukan kawannya itu sudah dalam keadaan mengenaskan. Max memasang ekspresi rumit dan bergetar gugup. Melihat kondisi Damian yang sudah sangat parah itu, dia berasumsi bahwa mustahil untuk membawanya saat keadaan seperti ini, dia pun memutuskan untuk melanjutkan pergi dan meninggalkannya. Dalam keadaan terdesak, Max pun menggunakan kemampuan lainnya untuk membantu melarikan diri.
Langkah Indah dewi surgawi!
Kemampuan yang pernah dia pelajari dari salah seorang mentor wanita sewaktu masih dalam pelatihannya di kuil suci. Max benar-benar tidak menyangka akan menggunakan kemampuan memalukan seperti ini. Meski dia sangat tidak suka, mau tidak mau itu harus tetap dilakukannya karena hanya dengan begitu dia bisa menyelematkan nyawanya. Hanya sekedar informasi, setelah menggunakan mantra ini memungkinkan tubuhnya berasa jauh lebih ringan setiap kali dia melakukan pergerakan.
"Cukup bermain-mainnya, hentikan dia." Begitu Akio menghentikan langkahnya, dia mengirimkan pesan kepada Giraldo melalui sambungan telepati.
Gerbang keluar mansion telah di depan mata, Max mencoba dengan sekuat tenaga untuk mempercepat langkahnya dengan spiritnya yang masih tersisa. Namun sayangnya, tak lama kemudian muncul seorang pria botak dan bertubuh besar datang dari luar gerbang dan memblokir jalan keluar. Pria itu kemudian mengerang keras sebelum pada akhirnya menghentakkan tangannya ke tanah dengan sangat keras!
Suara Dentuman!
Tanah di hadapan pria itu hancur dan berhamburan ke langit, mengambil bentuk serpihan-serpihan besar dan bongkahan tanah. Seakan terjadi ledakan yang berkepanjangan, Giraldo terus menghentakkan tangannya, dan wilayah itu hancur sehancur-hancurnya. Sampai pada saat selang beberapa menit, pria itu menghentikan gerakan tangannya dan mengatur napas. Terlihat tanah di hadapannya lurus seperti membelah lautan, sementara di sekitarnya reruntuhan dan keping-keping tanah yang hancur berserakan di mana-mana.
"Kali ini kau terlalu berlebihan, Giraldo." Akio melemparkan tatapan tak berdaya kepada kawannya itu. Kemudian dia berjalan mendekat ke arah jasad pria yang terkubur di antara reruntuhan-reruntuhan tanah.
"Bagaimana kita menjelaskan ini nantinya kepada Tuan? Maksudku tentang kerusakan halaman ini," kata Akio. Dia mengangkat tubuh Max dan menaruhnya di atas pundak. Sungguh pemandangan yang aneh bagi seorang wanita.
"Ma-maaf." Giraldo sendiri gugup dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian dia berjalan menuju jasad lainnya, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Damian. Selanjutnya pria bertubuh besar itu mengangkat mayat tersebut, lalu menyusul Akio yang sudah berjalan lebih dulu. Keduanya pun bergegas kembali ke tempat kediaman sang ratu, bergabung kembali bersama Darius yang masih berjaga di sana.