I'M THE NECROMANCER KING

I'M THE NECROMANCER KING
Chapter 76 : Rencana Diplomasi



Siang itu ketika Mavis sedang bersender pada pohon besar di halaman belakang mansion pangeran, memejamkan mata dan menikmati suasana santai penuh dengan kedamaian, seseorang tiba-tiba berteriak memanggil namanya dari arah kejauhan. Merasa tidur siangnya terganggu, Mavis menghela napas berat dan memutar bola matanya. Dengan malas, Mavis melihat ke arah datangnya suara milik pelayan wanitanya, Sasha.


"Ada apa?"


Melihat ekspresi Sasha yang sangat kelelahan akibat berlarian mencari keberadaannya, membuat Mavis menjadi penasaran tentang hal penting apa yang ingin Sasha sampaikan.


"Pangeran, akhirnya aku menemukanmu. Apa kau tau? Aku sudah mencarimu ke mana-mana! Ah sudahlah, sebaiknya kamu segera pergi ke aula pertemuan. Yang Mulia memanggilmu untuk datang ke sana," kata Sasha.


"Oh?"


Mavis menjadi tertarik, dia bangkit dan membersihkan debu di bagian belakang pakaiannya. Dia menepuk bokongnya beberapa kali.


"Mengapa Yang Mulia memanggilku? Apa ada sesuatu yang terjadi?"


"Tidak tau, Pangeran. Aku hanya disuruh oleh Nona Kayle untuk mencari kamu dan menyuruhmu cepat ke sana." Sasha menyangga kedua tangannya ke pinggang, sambil cemberut dia mencoba mengatur kembali napasnya.


Sasha sebenarnya baru saja selesai dari pekerjaannya ketika Nona Kayle menghampirinya. Sasha kesal, seharusnya dia sudah bisa beristirahat dengan nyaman, jika tidak mendapat perintah dari Nona Kayle untuk mencari sang pangeran. Meski dia tidak ingin, mau bagaimana lagi? Dia hanyalah pelayan kerajaan, sudah menjadi kewajibannya menuruti perintah eselon atas seperti Kayle.


Kekesalannya pun kian bertambah ketika dia mencari ke kamar sang pangeran tetapi dia tidak mendapatkan tanggapan dari dalam, menandakan pangerannya itu tidak berada di dalam. Alhasil, Sasha berlarian mencari tuannya itu ke sana kemari. Membuat darahnya naik sampai ke ubun-ubun, terlebih ketika mengetahui sang pangeran tengah tertidur santai di bawah pohon besar itu.


"Kalau begitu, bawa aku ke aula pertemuan," kata Mavis santai, dia mengangkat tangannya dan menahan kepalanya dari belakang.


"Ikuti aku!"


Sasha berjalan dengan langkah cepat di depan Mavis. Dalam perjalanan Sasha tidak bersuara, begitu juga dengan Mavis yang melihat gelagat Sasha yang marah hanya membatin dalam hati.


Apa dia sedang mens? Mavis teringat di kehidupan sebelumnya, para wanita sering sekali marah ketika datang waktunya bagi mereka. Nasib para lelaki sepertinya yang harus dilakukan hanyalah diam, atau itu akan semakin memburuk jika kamu menanyakan banyak hal pada si wanita.


Sampai tibalah di pintu besar yang mana berdiri para penjaga yang berbaris di depan ruangan. Sasha tidak mengindahkan para penjaga itu dan terus berjalan sampai tiba di ambang pintu. Dia mempersilahkan Mavis untuk terus berjalan dan masuk ke dalam. Begitu melihat sang pangeran melangkahkan kaki ke dalam, Sasha menghela napas berat dan berjalan pergi. Dia tidak ingin berlama-lama di sana, takut-takut dia mendapatkan tugas lagi.


"Yang Mulia...." Kayle berbisik kepada Raja Cornelius.


"Ya, aku tau."


"Salam, Yang Mulia." Mavis segera memberi hormat kepada ayahnya itu dengan gerakan anggun. Kemudian dia kembali pada posisi tegak dan lanjut berkata, "Yang Mulia memanggilku?"


"Ya, ini... aku ingin berbicara sedikit denganmu." Raja Cornelius tiba-tiba menjadi bingung untuk memulai, dia tidak tau harus mulai dari mana untuk menanyakan tentang sang ahli penyembuh yang berada dibawah kendali Mavis.


"Yang Mulia dapat mengatakannya, Mungkinkah Yang Mulia menginginkan sesuatu dariku?"


"Sebenarnya itu memang tujuan aku memanggilmu, sesuatu telah terjadi dan kerajaan dalam kondisi yang tidak menguntungkan," kata Raja Cornelius dengan raut wajah masam.


Selanjutnya, Kayle mulai menjelaskan kepada Mavis segala sesuatunya yang menjadi pembicaraan ketika rapat sebelumnya berlangsung. Dan Mavis dengan mudah menangkap kondisi dari kerajaan yang sedang tidak baik. Juga, ketika Mavis mendengar berita tentang kondisi di Baratajaya, dia sepertinya tau tentang niatan sang raja memanggilnya.


"Situasi telah memburuk, Asta. Aku dengar bahwa seorang ahli dari pelayanmu mempunyai kemampuan dalam mengobati Ratu Lilian. Apa kamu bisa menceritakan tentang identitas Nona Lily yang sebenarnya?"


"Itu karena Yang Mulia berniat meminjam Nona Lily untuk mengatasi situasi di Kerajaan Baratajaya. Apa kamu tidak keberatan dengan hal itu?" Kayle bertanya dan menatap dengan penuh harap.


Mavis terdiam dan masuk dalam pemikirannya.


Pada kenyataannya Mavis tidak bisa mengatakan kepada sang raja dan Kayle, tentang identitas Lily yang sebenarnya. Pemikiran keduanya sangatlah keliru. Lily bukanlah sekedar pelayan bayaran yang disewa Mavis untuk selalu berada di sisinya dan melindunginya. Lily yang sesungguhnya adalah iblis yang sudah menjadi makhluk panggilan bayangan milik Mavis, bukan seorang penjaga yang bisa dengan mudahnya dipinjam-pinjamkan.


Tentu, Mavis tidak keberatan jika mengirimkan Lily untuk pergi menangani kondisi di kerajaan itu, mengingat kebutuhan sang ratu yang sudah pulih dari penyakitnya. Mavis tidak mempunyai alasan lain untuk menolak itu.


"Mengenai identitas Lily, aku sungguh tidak bisa memberitahu tentang itu, Yang Mulia." Mavis berkata dengan wajah serius.


"Sementara untuk mengirim Lily mengatasi wabah penyakit di sana, aku tidak masalah dengan itu, aku akan berbicara nanti dengannya."


"Benarkah?" Raja Cornelius bertanya dengan wajah syok.


Raja Cornelius pada awalnya murung ketika Mavis tidak bisa menceritakan tentang asal usul ahli hebat seperti Lily. Dia pikir anaknya itu akan menolak menyerahkan Lily untuk pergi jauh ke Kerajaan Baratajaya, mengingat keselamatan yang menjadi taruhannya. Itu akan sangat disayangkan jika seorang ahli penyembuh seperti Lily mati terbunuh di tempat asing. Namun, diluar perkiraan sang raja, Mavis setuju dengan mudah seakan tidak khawatir dengan keselamatan Lily.


Sang Raja tersenyum bahagia! Dia merasa anaknya telah mempercayakan sepenuhnya dengan keputusan ayahnya. Raja Cornelius berpikiran bahwa sang pangeran percaya dengan keselamatan Lily dibawah pengaturannya. Namun, apa yang tidak diketahui Raja Cornelius bahwa Lily bukanlah seorang ahli penyembuh belaka! Dia itu iblis, memiliki kekuatan makhluk mitos yang hanya ada dalam legenda! Meski Lily mempunyai spesialis penyembuhan yang biasa berada di lini belakang, akan tetapi dia masih dari mampu menang jika berhadapan dengan musuh kuat berlencana merah sekalipun. Kekuatan Lily bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh!