
Berada di tempat lain, pemukiman kecil di daerah kekaisaran Menara Kembar. Hari itu para pasukan terlihat sibuk mempersiapkan segala hal keperluan untuk hari berikutnya. Hari yang mana tim ekspedisi itu akan menyerang dungeon tempat para goblin berada. Pasukan itu terlihat lebih banyak dari pada pertama kali sampai di benteng kecil itu, apalagi siang tadi bertambah ketika seribu pasukan dari kerajaan berafiliasi milik Raja Hansington tiba di sana.
Saat terik matahari berada pada tingkat tertinggi kerumunan yang berkemah di luar benteng melihat kedatangan pasukan itu tidak bisa membantu tapi mengerutkan kening. Pada kenyataannya Raja Hansington adalah raja dari kerajaan berafiliasi di Kekaisaran Menara Kembar yang menyumbang kontribusi terbesar. Namun, begitu dari pihak kekaisaran, Penasihat Barok mengumumkan kepada publik dalam perekrutan tim ekspedisi baru, Raja Hansington memilih menutup mata dan terkesan tidak akan membantu.
Bukan tanpa sebab, Raja Hansington memilih diam sebelumnya itu karena kerajaannya baru saja mencapai kesepakatan berdamai dengan kerajaan tetangganya, milik Raja Bagar. Siapapun yang melihat akan berpendapat bahwa kedua kerajaan itu tidak akan mengirimkan pasukan, terlebih itu bukan perintah dari sang kaisar. Lagipula, tidak ada yang tau kedamaian diantara keduanya akan bertahan sampai kapan, itu hanya kesepakatan sesaat. Kedua belah pihak tidak ingin mengambil resiko dengan mengirimkan pasukan mereka keluar untuk membantu tim ekspedisi. Bagaimana jika tiba-tiba salah satu diantara keduanya memutuskan perjanjian itu dan datang menyerang? Itu akan menjadi kekalahan yang tak terelakan! Kekaisaran pun tidak akan peduli hanya dengan masalah kerajaan berafiliasi. Akan tetapi, beberapa hari yang lalu, sang kaisar telah mengeluarkan dekritnya.
Dekrit itu berisi perintah yang dituntutkan kepada seluruh kerajaan berafiliasi di wilayah kekaisaran untuk ikut mengirimkan pasukan bantuan. Sementara itu perintah lainnya mengatakan bahwa kekaisaran berada dalam masa tenangnya, kerajaan berafiliasi dipaksa untuk berhenti dalam konflik. Itu membuat dua kerajaan milik Raja Hansington dan Raja Bagar hanya bisa pasrah. Mau tidak mau mereka akan mengirimkan pasukan ke luar, dan bergabung dalam tim yang sama.
"Yang Mulia, Raja Hansington baru saja tiba di luar benteng. Haruskah kita pergi untuk bertukar salam? Raja-raja yang lain sudah berjalan menuju aula," kata seorang pria dengan balutan jubah biru.
Berada di suatu ruangan, seorang pria berusia lima puluhan dan berjanggut putih tengah melihat ke arah luar jendela. Pria itu memakai pakaian lengkap tempur dengan perlengkapan terbaik. Sepasang mata hazelnya menatap sinis segerombolan orang berkuda yang baru saja masuk dari arah luar gerbang. Dia jelas langsung mengenal kelompok itu!
"Ya, aku tau." Dengan nada berat dia menjawab panggilan bawahannya di belakang. Kemudian dia berbalik dan menatap pria berjubah itu.
"Bawa aku ke aula pertemuan," kata Raja Bagar.
"Bagaimanapun aku tidak bisa terlihat buruk di hadapan raja-raja yang lain. Meski aku tidak suka, aku tidak punya pilihan. Jika mereka tidak melihat aku di sana, orang-orang akan beranggapan aku takut dengan dia." Dalam hati Raja Bagar berkomentar.
Keduanya pun berjalan menuju aula pertemuan. Begitu keduanya sampai, mereka segera disambut dengan pemandangan barisan para raja dan ratu dari kerajaan berafiliasi. Barisan itu pada dasarnya berada dua, disisi yang berlainan dan itu memberi jalan di tengah yang memisahkan.
Berada di tengah, seorang pria tua dengan jubah berwarna putih dengan sedikit corak biru tengah melihat semua raja yang hadir. Setelah mengonfirmasi semua tokoh berpengaruh telah hadir di aula pertemuan, dia pun mulai berbicara di depan.
"Raja Hansington, Raja Bagar, Raja Roman, Raja Weistmen, dan Ratu Snow, juga raja-raja lainnya yang hadir di aula ini." Penasihat Barok melirik dan memberi hormat ketika setiap menyebutkan nama raja dan ratu terkenal satu persatu, sementara raja-raja kecil lainnya dia hanya sekilas mengedarkan pandangannya.
"Seperti yang kita tahu, maksud dari pertemuan ini juga dibentuknya tim ekspedisi besar kali ini untuk menyapu dungeon tempat tinggal para goblin. Perlu aku katakan dalam pertemuan ini, para goblin yang berada di tempat itu berbeda dari goblin yang selama ini tercatat dan muncul di dungeon tempat lain. Makhluk kerdil yang dikabarkan salah satu penghuni dungeon yang bodoh dan lemah, itu tidaklah sama seperti yang ditemui di dungeon di wilayah Kekaisaran Menara Kembar kami. Bisa disebutkan itu menjadi kehilangan terbesar ketika tim ekspedisi pertama dikalahkan dan harus mundur dengan susah payah."
"Menurut Yang Mulia, Pangeran Julius mengatakan bahwa goblin di tempat itu ganas dan kuat. Mereka juga sudah memiliki sedikit kecerdasan. Para goblin telah membentuk struktur pertahanan kecil dan mereka memiliki pemimpin di kedalaman gua. Pemimpin goblin itu sangatlah kuat, Yang Mulia Pangeran Julius bahkan tidak yakin seberapa kuat itu. Setiap langkah kakinya akan mengirim terbang para prajurit dan mati dengan instan. Dia begitu kuat diantara goblin lainnya, dia juga memiliki kecerdasan sedikit lebih baik, meski itu belum mencapai standar manusia biasanya. Oleh karena itu, harus aku katakan untuk tidak memandang remeh mereka."
Penasihat Barok dengan jelas mengatakan informasi itu kepada para raja dan ratu yang hadir. Itu terus berlangsung sampai Penasihat Barok memberikan arahan rencana saat penyerbuan dungeon.
"Penasihat Barok, aku keberatan untuk menempatkan diri di bagian terdepan. Pasukan yang aku kirimkan hanya berjumlah seribu, bagaimana jika Raja Bagar saja yang datang memimpin? Aku dengar dia membawa pasukan tiga kali lebih banyak dari milikku. Mereka semua para prajurit elite dan petualang ternama. Benar begitu, Raja Bagar?" Datang dari sisi lain, seorang pria berusia empat puluhan dengan zirah set lengkap tempur, berkomentar disela Penasihat Barok membacakan formasi penyerbuan.
"Kau!"
"Terlalu berlebihan!"
Raja Bagar yang menjadi sasaran meledak marah karena tindakan Raja Bagar yang menyudutkannya. Bagaimana tidak? Pasukannya telah ditetapkan menjadi lini tengah dalam formasi karena membawa banyak pemanah handal. Akan tetapi Raja Hansinghton bersikeras untuk melemparkan dia dan pasukannya di lini depan.