
"Baiklah, Velinka mulai sekarang kau akan menjadi wakil pimpinan prajurit lainnya. Apa ada dari kalian yang keberatan?" kata Mavis sambil menaikan alisnya.
Para prajurit menelan ludah karena tidak bisa untuk berkata-kata. Sebenarnya alasan mereka untuk tetap tinggal karena mereka berpikir akan lebih baik nantinya, dibandingkan tetap tinggal di kamp kemiliteran dan tidak mendapatkan jasa apapun. Perlu diketahui mereka hanyalah prajurit kecil dan lemah, yang setiap harinya hanya diperbudak oleh atasan-atasannya, seperti disuruh untuk menyiapkan ini itu, dan yang lainnya.
Mereka tidak pernah melakukan sesuatu yang penting bagi seorang prajurit, yaitu maju dalam pertarungan nyata. Mereka tidak pernah diikut sertakan, dan hanya bisa pasrah menerima tinggal di kamp. Oleh karena itu, dengan adanya kesempatan ini, mereka ingin menunjukan kalau mereka setidaknya berguna untuk kerajaan, mereka bisa bertarung! Mereka tidak ingin kembali ke departemen dan melakukan hal-hal yang biasa dikerjakan pesuruh.
Namun, sudah samai sejauh ini, mereka masih harus menanggung beban untuk tunduk di bawah kaki seorang prajurit wanita seperti dia? Untuk sesaat mereka semua terdiam dan memandangi prajurit bernama Velinka itu.
Sampai salah seorang berbicara dengan lantang dan memberi hormat kepada wakil pimpinannya yang baru, "Salam kepada wakil pimpinan, mohon bimbingannya."
Prajurit pria itu merupakan teman lama Velinka dulu ketika masih berada di kamp pelatihan. Keduanya sangat akrab dulu, tapi begitu sudah masuk di departemen kemiliteran keduanya terpisah dalam tim yang berbeda. Dengan kata lain, mereka sudah jarang bertemu dan berkomunikasi. Namun, sekarang keduanya telah dipertemukan kembali di tempat ini untuk melayani orang yang sama, sang pangeran. Bagaimana mereka tidak senang? Tentu saja, keduanya merasakan sukacita yang sangat mendalam.
Velinka pun tersenyum bahagia, dia mengedarkan pandangan dan mendapati bahwa pasukan yang lain pada akhirnya ikut melakukan penghormatan untuknya. Para pasukan itu awalnya memang ragu, tapi begitu teringat mereka sudah melangkah sampai sejauh ini, mengapa tidak sekalian saja maju? Lagipula mempunyai wakil pemimpin seorang wanita tidaklah begitu buruk daripada harus kembali ke departemen militer.
Tunggu.
Velinka merasa ada sesuatu yang masih mengganjal dalam pikirannya. Sang pangeran jelas hanya berkata bahwa dia mendapat posisi sebagai wakil kepala pimpinan, lantas siapa yang menjadi pimpinannya? Prajurit wanita itu pun membalik badan untuk melihat sang pangeran. Dia menatap sang pangeran dengan tatapan bertanya, hanya saja dia masih ragu untuk berbicara, suaranya tertahan di tenggorokannya.
"Ada apa?" kata Mavis.
"Pangeran, jika boleh tau siapa pimpinan kami nantinya?" Velinka memicingkan matanya sambil berbicara pelan.
"Hormat kami kepada Pimpinan." Seluruh prajurit tanpa ragu memberi gerakan penghormatan kepada Wed, termasuk prajurit wanita itu sendiri.
"Apa ada hal lain yang ingin kalian katakan?" kata Mavis. Menunggu beberapa detik tapi para prajurit tidak memiliki hal lain yang ingin dikatakan. Maka dari itu Mavis melanjutkan perkataanya, "Kalau begitu, aku akan mulai memberikan hadiah kepada kalian."
Mavis tersenyum dan mulai mengulurkan tangannya menghadap para prajurit di hadapannya. Kemudian dia memejamkan matanya dan berkonsentrasi. Selanjutnya, dia menghembuskan napas pelan dan kembali membuka mata.
"Kekang!"
Sebuah pusaran asap hitam tercipta melingkari para prajurit yang hadir, itu sebuah lingkaran hitam besar yang perlahan mengeluarkan asap dari tanah dan mulai menyelimuti para prajurit. Sontak mereka semua begitu panik dan bertanya-tanya kepada sang pangeran apa yang sedang dia lakukan terhadap mereka. Namun, mereka menjadi tenang setelah Mavis mengatakan bahwa itu adalah hadiahnya.
Para prajurit yang saat ini berdiam di dalam kepulan asap mulai merasakan segala visinya meningkat, tubuhnya menjadi mendidih dan itu terus berlanjut sampai tubuhnya mulai terasa terbakar. Mereka menggeram, mengatupkan gigi, dan berteriak keras begitu merasa tubuh mereka seakan mau meledak.
Mavis yang mendengar pun tidak bisa membantu, tapi mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti, mengapa mereka berteriak seperti orang yang sedang kesakitan? Padahal sebelum-sebelumnya Mavis melakukan hal itu kepada para makhluk bayangannya, tapi dia tidak pernah mendengar dari mereka ada yang berteriak histeris seperti itu. Sesuatu pasti ada yang salah di sini.
Mavis pun tiba-tiba mendapat suatu dugaan yang masuk akal, dia pun bertanya kepada Mikaela yang pada saat itu berada di dekatnya.
"Mengapa kalian tidak pernah mengatakan padaku, kalau itu sangat menyakitkan bagi kalian?" Mavis menatap skeptis ke arah Mikaela dan juga yang lainnya. Dia benar-benar kehilangan kata-katanya.